Kenapa Anda Tak Ungkap Fakta Secara Jujur, Tsamara Amany?

cerotan dinding Jan 03, 2017 15 Comments

 

Cuplikan rekaman sambutan Anies untuk Hari Film Nasional yang menggunakan surjan dan blangkon.

Tsamara Amany, sependek ingatan saya Universitas Paramadina mengajarkan mahasiswanya untuk berpikiran terbuka. Tapi, setelah membaca tulisan Anda saya kok tak mendapati kesan itu. Misalnya, Anda menyesal karena pernah mengagumi Anies dan rasa kagum itu runtuh setelah Anies memenuhi undangan Front Pembela Islam (FPI)? Karena Anies berkomunikasi dengan mereka yang berseberangan secara politik dengan Anda? Mengapa Anda seperti marah ada orang yang membangun komunikasi ke semua kalangan?  Ada apa, sebenarnya, Tsamara? Apakah karena kepentingan politik Anda tak lagi tergiur ajaran Universitas Paramadina untuk berpikir terbuka?

Selain itu, membaca tulisan Anda banyak sekali fakta yang Anda sembunyikan. Saya kupas satu per satu.

Tapi, mesti saya garisbawahi, saya kagum atas kejujuranmu. Bahwa Anda mendukung Pak Basuki setelah melihat bagaimana dia bekerja ketika Anda magang di Balaikota DKI. Pada poin ini, Anda jujur dan itu bagus. Oh ya, apakah Anda masuk tim sukses Pak Basuki? Jika iya, bagus. Saya senang, karena saya dapat kawan dari tim petahana yang bisa berbincang melalui tulisan. Saya harap, ke depan kita bisa berdiskusi soal program, bukan lagi soal perdebatan ini. Karena kalau soal mendukung dan dukungan, saya kira kubu petahana tak bakalan habis dikupas kurangnya, mulai dari keterlibatan Papa Minta Saham, sampai soal Teman Ahok yang mengkhianati satu juta KTP.

Sebelum lebih jauh, saya ingin sampaikan kepada Anda bahwa saya pendukung Anies dan saya tim redaksi koran resmi kampanye pasangan Anies-Sandi: Jakarta Kita. Dan ya, saya penulis biografi Anies yang bukunya sudah Anda miliki. Ini full disclosure. Agar Anda tahu kedekatan saya dengan Anies. Tapi, saya jamin, semua fakta dan data yang saya sajikan bisa diverifikasi ulang. Oleh siapa pun.

Pertama, Anda kecewa karena Anies hanya bicara kulit dan seremonial di 2 kesempatan: Kuliah Umum di Universitas Paramadina dan Sambutan Hari Film Nasional di Balaikota.

Untuk yang Universitas Paramadina, Anies menghadiri undangan untuk Kuliah Umum. Bahasa kerennya, Stadium General. Temanya, Bersaing Global dengan Kekuatan Tenun Kebangsaan. Mulanya, acara ini untuk mahasiswa baru dan didesain untuk memberikan semangat dan inspirasi bagi mahasiswa baru. Tapi kemudian melebar dan mahasiswa lama pun diperbolehkan hadir. Sebagai pembuka perkuliahan pada semester baru Universitas Paramadina.

Dalam Kuliah Umum dengan bertema itu, Anda berharap Anies membahas kebijakan Kemendikbud? Mohon maaf, harapan Anda berlebihan. Mau bicarakan pendidikan tinggi? Ya tak mungkin karena kewenangan Anies itu pendidikan dasar dan menengah. Tentu tak relevan bicara soal terobosan Anies Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di depan mahasiswa baru. Atau mungkin mau bicarakan kebijakan perubahan Kurikulum 2013? Tak relevan juga karena memang acara itu bukan didesain untuk beberkan kinerja Kemendikbud dan mahasiswa Paramadina bukan sasaran dari kebijakannya. Lain hal jika Anda hadir saat Anies evaluasi kinerjanya setahun kepada publik pada 30 Desember 2015 di Kemendikbud. Anda akan temukan banyak terobosan yang telah dia lakukan. Dari mulai gagasan sampai teknisnya. Lengkap.

Anda juga kecewa kepada Anies ketika Anies memberikan sambutan di Hari Film Nasional di Balaikota DKI. Anda sampai meninggalkan kerjaan Anda dan kecewa karena Anies cuma bicara kulit dan seremonial saja. Sebentar, apakah Anda sedang berharap Anies memberikan penjelasan teknis bagaimana membuat film atau menjelaskan program teknis film? Dalam waktu sesingkat itu?

Film adalah wahana kreatif. Jika Anies membahas teknis, film harus-begini-tak-boleh-begitu-boleh, ya tak mungkin. Anies bukan tipikal pemimpin seperti itu. Seingat saya, Anies justru memberikan arahan umum dan sesuai dengan arahan Presiden Jokowi: bahwa film Indonesia itu harus membangkitkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa. Ini juga jawaban atas keresahan Slamet Rahardjo Djarot kepada Anies dalam satu diskusi. Dia bilang terakhir ada arahan jelas mengenai film nasional itu pada eranya Ali Moertopo, yang menyatakan film nasional harus sejalan dengan arah pembangunan nasional. Anies menjawab keresahan itu dengan memberikan arahan yang sesuai misi Nawa Cita Presiden Jokowi.

Kedua, Anies hanya bicara gagasan. Apakah semua yang Anies bicarakan di Kuliah Umum itu gagasan murni, tanpa bicarakan kinerja?

Tidak juga. Anda tak menyebut posisi Anies sebagai pejabat publik atau bukan kan, ya saya sebutkan contoh kinerja Anies sebagai rektor: dual track. Anda sebagai mahasiswa Paramadina tentu tahu ini apa. Berkat kebijakan ini kegiatan mahasiswa di Paramadina hidup dan semarak. Anies dibantu mahasiswa menyebutkan beberapa kegiatan mahasiswa, pada awal-awal ceramahnya. Ketika Anies menyampaikan ini Anda sudah ada? Dual track ini ya hasil kerja Anies sebagai rektor. Manfaatnya bagi mahasiswa sudah terbukti.

Selain itu, Anies bicara soal persatuan. Pada 1928, ada sumpah pemuda, lalu pada 1957 ada Deklarasi Djuanda, dan Anies menggagas untuk satu harga. Sebagai instrumen keadilan sosial. Apakah gagasan Anies ini cuma gagasan? Tidak. Pada 18 Oktober 2016 Pak Jokowi mulai melaksanakan gagasan ini dengan dimulainya satu harga BBM di Papua. Apakah teknis selain BBM mungkin? Anda bisa baca tulisan Anies di majalah Rollingstone edisi September 2016. Biar tulisan Anda berdasarkan data.

Anies juga bicara gagasannya soal bahasa dan teknologi. Saat itu, Anies sedang merancang semacam wikibahasa. Dia kasih narasi soal gagasannya, dan apa itu bentuk konkretnya: aplikasi Pengayaan Kosakata Indonesia. Anda sekarang bisa mengunduhnya di playstore Android atau IoS.

Ketiga, soal Anda absen.

Mohon koreksi saya, Anda dan kelas Anda bukan rela absen. Setahu saya, perkuliahan pada jam tersebut diganti dengan Kuliah Umum. Saya lihat, mahasiswa menandatangani absensi pada acara itu, sebagai ganti perkuliahan. Jika Anda rela absen, itu artinya Anda tak ikut Kuliah Umum itu. Pada acara ini Anda mendapatkan buku saya, Melunasi Janji Kemerdekaan, sebagai penghargaan karena Anda bertanya. Bukan tanpa dasar, tiba-tiba diberi. Oh iya, saya lupa pertanyaan Anda saat itu kepada Anies. Jika memang Anda agak kecewa dengan pemaparan Anies dalam Kuliah Umum itu yang tak bahas kinerja, apakah dalam kesempatan itu Anda bertanya tentang kinerja Anies sebagai Mendikbud? Rekaman saya ketelingsut.

Keempat, mengenakan pakaian adat itu bukan kulit, bukan seremonial.

Itu soal cara pandang. Anies mengajak semua orang untuk mengubah pandangan tentang pakaian tradisional itu juga bisa menjadi pakaian kerja sehari-hari. Itu bagian dari mengakui keberagaman. Ini pendekatan kebudayaan. Anies mengajak semua utk mengubah baju daerah dari sekadar baju untuk upacara adat menjadi baju untuk bekerja sehari-hari. Tapi, ada yang lebih penting: Anies sedang menjelaskan kenapa dia mengenakan surjan dan blangkon dalam sambutannya sebagai Mendikbud pada Hari Film Nasional 2016.

Jika soal sudut pandang ini disebut sebagai kulit, lalu apa itu yang substansial menurut Anda? Mestinya Anda berhati-hati ketika menyebut ini kulit dan itu substansi tanpa menunjukkan ukurannya. Sebutkan ukurannya apa itu kulit, apa itu substansi dalam konteks kinerja Anies. Jika Anda tak menyebutkan ukurannya, bisa jadi Anda tak memahami satu hal atau tak sanggup memahaminya, lalu Anda frustrasi dan menyebutnya sebagai kulit.

Kelima, Anies bicara gagasan bukan berarti tak ada kinerjanya.

Di mana-mana, Anies bicara gagasan. Karena pola kepemimpinannya adalah gagasan-kata-karya. Dia tak ingin hanya mengandalkan kerja tanpa gagasan, agar tak terulang seperti ini kasus Koridor 13 ini.

 

Halte Trans Jakarta Koridor 13 yang tak ramah penumpang. Kredit Foto: Elisa Sutanudjaja.

Mengenai kinerjanya, Anies malah melaporkan ke publik kinerjanya tahunannya ke publik. Anda bisa cari di Google, kata kuncinya: Kilasan Kinerja Kemendikbud 2015. Agar di tulisan Anda yang kemudian hari berdasarkan data akurat, agar Anda tak salah data lagi seperti ketika Anda membahas reklamasi. Agar Anda bisa melakukan kritik konsep dan teknis kinerja Anies, bukan cuma bilang dia tak ada kerjanya.

Karena Anda pendukung Pak Basuki, saya ingin bertanya ini: selama ini Pak Basuki dikenal transparan, tapi apakah dia melaporkan ke publik kinerja tahunannya? Melalui buku atau terbitan yang bisa dibaca semua orang, bukan cuma pada saat kampanye dan meme-meme yang disebarkan tim pendukung?

Keenam, kerja cepat.

Dalam kebijakan publik, yang penting bukan soal lama-cepatnya, tapi soal efeknya. Jangan terlalu terjebak dengan quick win. Bangun sistem itu penting, agar tak terjadi lagi pelanggaran setelah seorang pemimpin meninggalkan kursi kepemimpinannya, seperti kasus Tanah Abang yang semrawut kembali setelah Pak Basuki cuti. Ini bukti bahwa kerja Pak Basuki dalam Tanah Abang ini ya quick win, bukan membangun sistem.

Tapi, kalau Anda riset soal kerja Anies dalam cepat-tidaknya dia bekerja, Anda pasti menemukan keputusan soal Ujian Nasional dalam hitungan bulan. Menyelesaikan urusan yang sudah belasan tahun, dalam hitungan 3-4 bulan. Jika Anda mengira bahwa menyelesaikan persoalan UN itu mudah dan bisa cepat, Anda buka kembali berita-berita soal UN beberapa bulan ke belakang. Apakah sesuai antara harapan pejabat pengganti Anies yang sekarang dengan keputusan istana?

Ketujuh, Anies tak pernah bilang Prabowo tak mampu memimpin Indonesia. Anda periksa lagi pernyataan Anda soal ini, agar tak jatuh kepada fitnah.
Kedelapan, Anies yang menghina blusukan Jokowi, menjadi menteri, dipecat, dan dicalonkan dua parpol yang dia ejek habis-habisan.

Mengenai ini, saya kira, Anda mesti berhati-hati. Jika ukuran soal ini dikembalikan kepada calon Anda, Anda akan kerepotan nanti. Tapi begini, soal Anies menghina blusukan Jokowi, Anda bisa bertanya kepada Hassan Nasbi, yang memberikan dana awal kepada Teman Ahok. Kalau tak salah, dia tahu bagaimana ceritanya. Dan, klarifikasi dari tim Anies sudah beredar, kalau Anda berniat mencarinya. Soal menjadi Jubir Jokowi, dan seterusnya, Anda mesti mengecek ulang faktanya. Anies diminta oleh Pak Jokowi dan Pak JK, bukan meminta. Dan, jangan Anda abaikan fakta ini: Anies punya efek besar dalam memenangkan Jokowi sebagai Presiden dengan, di antaranya, membawa gerbong anak-anak muda dan kreatif. Setelah Pak Jokowi jadi Presiden, Wakilnya di DKI lantas naik jadi Gubernur. Namanya Pak Basuki. Dan Anda bekerja di Balaikota membantu Pak Basuki.

 

Kesembilan, soal menghadiri undangan FPI.

Saya cuma ingin bilang satu hal: memenuhi undangan FPI tak otomatis menjadi perobek tenun kebangsaan. Tulisan Anies yang Anda kutip itu masih tetap relevan, bahkan hingga lama ke depan. Sikap Anies jelas dan tak berubah: pikiran tak bisa dihukum. Anies konsisten dalam hal ini.

Mau buktinya? Ketika polisi dan tentara menyita buku, Anies satu-satunya pejabat publik yang berani bilang negara tak berhak mengatur pikiran orang. Buku mesti dilawan dengan buku. Jika seseorang melakukan kekerasan, fokus pada orang itu. Tangkap dan penjarakan. JIka Anda riset saja soal sikap Anies yang satu ini, tentu Anda tak bakal kesulitan mendapatkannya. Saya kasih bocoran, wawancara Anies di majalah Tempo edisi 23 Oktober 2016.

Nah, jika Anda keberatan dengan tindakan FPI yang melanggar hukum, saran saya, laporkan kepada kepolisian dan biar kepolisian memproses hukumnya. Ini persoalan mudah, sebenarnya. Saya tak setuju dengan pendekatan dakwah FPI. Tapi, mereka tak perlu dibubarkan. Konstitusi kita melindungi soal berserikat ini. Kalau FPI dibubarkan negara, maka itu akan jadi preseden bagi negara untuk melakukan hal yang sama ke organisasi atau perkumpulan lain. Bukan tak mungkin nanti kelompok Anda mendapatkan giliran. Kondisi ini tak sehat bagi demokrasi.

Pertanyaan saya, apakah saat Anies hadir itu Habib Rizieq sedang melakukan kekerasan? Jika Anda anggap demikian, saran saya, laporkan. Jika tidak, Anda sedang melakukan framing bahwa Anies dengan memenuhi undangan FPI=Anies intoleran. Kalau begitu ukurannya, agak repot nanti. Karena, bukankah Jenderal Tito Karnavian hadir dan malah sowan ke Habib Rizieq. Selain itu, bukankah Presiden Jokowi juga satu panggung bersama Habib Rizieq pada peristiwa 212? Foto mereka beredar banyak. Berarti Pak Tito dan Pak Presiden Jokowi=intoleran.

Dan, jika cara berpikir Anda seperti itu, ya berarti Anda belum bisa memenuhi ajaran Universitas Paramadina untuk berpikir terbuka.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

15 Comments

  1. Joe

    Kalau pak Anies jadi gubernur, itu halte busway mau diapain yah

    • emhusnil

      Karena desainnya sudah jadi, ya ditelan saja dulu. Untuk memperbaikinya Pak Anies akan libatkan arsitek untuk mendesain ulang dari sisi fungsi dan artistik. Pelibatan publik akan jadi konsen utama Pak Anies dalam pembangunan Jakarta, satu hal yang sekarang ini hampa dari Pemda DKI. 🙂

  2. John Giting

    Hahaha…gini nih kalo anak bocah yang uda kedoktrin asal nyerocos biar disangka keren…oh ya tu orang kan dulu juga asal main catut pas aksi massa

  3. AG

    Kelemahan pada tulisan ini:

    1. Sumber artikel yang ditanggapi tidak dimasukkan. Netizen pemalas tidak akan mau repot-repot mencari artikel apa sih yang sedang anda bahas sebenarnya.
    2. Anda membuat asumsi sendiri, tuduhan sendiri, pertanyaan sendiri, kemudian memberi jawaban sendiri. Padahal dari mana anda tahu bahwa asumsi-asumsi anda itu solid? Ibaratnya, percuma anda menulis artikel tanggapan panjang-panjang jika 50% isinya adalah tanggapan anda atas asumsi anda sendiri, bukan atas artikel yang dibahas.

    Contoh:
    a. Oh ya, apakah Anda masuk tim sukses Pak Basuki? Jika iya, bagus. Saya senang, karena saya dapat kawan dari tim petahana yang bisa berbincang melalui tulisan. >> Yang jawab anda sendiri. Bukan penulis. Bagaimana kalau jawaban sebenarnya bukan tim sukses?

    b. Dalam Kuliah Umum dengan bertema itu, Anda berharap Anies membahas kebijakan Kemendikbud? Mohon maaf, harapan Anda berlebihan. Mau bicarakan pendidikan tinggi? Ya tak mungkin karena kewenangan Anies itu pendidikan dasar dan menengah. >> Anda menanggapi asumsi sendiri, bukan pemikiran dari artikel Tsamara.

    c. Pertanyaan saya, apakah saat Anies hadir itu Habib Rizieq sedang melakukan kekerasan? Jika Anda anggap demikian, saran saya, laporkan. Jika tidak, Anda sedang melakukan framing bahwa Anies dengan memenuhi undangan FPI=Anies intoleran. >> Anda membuat tafsir baru atas kalimat Tsamara yang menurut saya pribadi jelas dan tidak bersayap. Seharusnya anda tidak membuat tafsir baru dengan asumsi tak berdasar milik anda sendiri. Jika ingin menanggapi, tanggapi tulisan yang dibuat oleh orang tersebut, jangan buat tulisan sendiri baru ditanggapi sendiri.

    Dan masih banyak lagi yang tak mungkin saya kupas satu per satu di sini.

    Tapi secara garis besar, tulisan ini tidak bisa dibilang tanggapan karena anda membelokkan kalimat penulis (Tsamara), kemudian memberi makna baru buatan anda sendiri, dan kemudian anda membuat jawaban pada asumsi anda sendiri. Bukan pada artikel yang dimaksud.

    • emhusnil

      Bung, kalau saya memberikan ruang agar pembaca tak segera penuh percaya. Karena itu, saya menyisakan hal-hal yang bisa diriset sendiri. Mengenai netizen malas dan tidak, ya sebenarnya saya tak berwenang dalam urusan itu. Yang ingin saya lakukan adalah, jika ingin mendapatkan informasi yang akurat, sila cari beritanya, riset. Saya ajukan beberapa contoh saja.

      Mengenai yang Anda sebut sebagai asumsi, dalam perdebatan sebenarnya strategi saya biasa kok. Pertanyaan saya bisa dijawab dengan gamblang, iya dan tidak. Jika pun dia menyebut iya namun kondisinya berbeda, ya tak apa; jika menjawab tidak, dia bisa ajukan argumentasinya. 🙂

  4. subroto

    Dari semua counter anda tidak ada satupun kinerja nyata anies yang dimaksud untuk counter tulisan awal. Yang dikeluhkan adalah anies hanya bicara high context tidak seperti ahok cenderung low context dalam bicara misal mengatasi inflasi dia membangun pabrik penggiling beras agar dki bisa membeli beras langsung dari petani sehingga spekulan takut. Atau dalam hal pendidikan kjp tidak boleh tarik tunai. Satu satu nya counter anda yang paling gamblang adalah program dual track paramadina yang lainnya tidak anda sebut secara pasti. Justru seperti anies anda memberi penjelasan yang high context juga dan cenderung ngeles hanya bilang “cari kinerja anis di google anda akan lihat kinerja nya” kontras dengan para pendukung ahok apabila ditanya apa kinerja ahok tidak perlu menggoogle tinggal langsung bilang “rptra..rusun..kjp..ptsp…banjir berkurang..sungai bersih dll” hal hal yang nyata yang bisa langsung dikatakan. Apa kinerja nya begitu susah dipahami atau mungkin tidak bisa dipahami atau mungkin tidak ada gunanya sehingga tidak perlu dipahami sehingga harus digoogle untuk diketahui ? Bukankah ada hal yang gamblang yang lebih mudah dikatakan untuk menjelaskan kinerja anies ? “Indonesia Mengajar” lalu “Dual Track” yang gampang dipahami ? Kalau tidak ada program lainpun bisa anda jabarkan hal hal yang mudah dipahami contohnya bagaimana kedua hal tersebut memberikan hasil yang NYATA !? Oh juga karena tidak ada kinerja anies yang bisa digunakan untuk mengcounter maka sepertinya anda terpaksa mempermasalahkan hal remeh temeh tentang penulis seperti masalah absen kuliah umum yang sama sekali tidak perlu kalau anda bisa memberikan contoh kinerja anies yang cemerlang dan mudah dipahami dan tidak perlu digugel. “Kalau tidak bisa mencounter tulisan orang serang karakter dan kompetensi penulisnya” ujung2nya melenceng menjadi saling serang personal. Jawaban anda justru tambah mempertegas tulisan awal kalau anies hanya pahlawan dalam hal high context semata.

    • emhusnil

      Ya, kalau saya sih kalau ingin mencari secara serius kinerja Anies, ya riset secara serius. Jika hanya ingin memberikan penilaian tanpa melakukan riset, ya tak apa juga; masa orang mau menjadi pemalas masa saya larang. Pemalas=berkomentar tanpa baca.

  5. Bobi

    Serangannya kurang elegan, counter argumennya kurang cantik. Orang tambah ga simpatik

  6. Anon

    Panjang tetapi kosong, saya tidak mengerti substansi yang hendak disampaikan, ah, mungkin ilmu saya yang kurang,

    • emhusnil

      Tulisan itu bagus. 🙂

  7. AG

    Wah, tidak dimoderasi ya, komentar saya… Sayang sekali. Ternyata anda hanya segini saja.
    Sekedar saran, ada baiknya rendah hati sedikit dan membuka pikiran. Seperti ada yang bilang, pikiran itu seperti parasut, hanya bisa bekerja jika terbuka 🙂

    Tadi sudah lihat postingan Tsamara yang baru. Penuturannya baik sekali. Dan dia juga memiliki kemampuan membaca serta menyerap tulisan orang lain dengan baik sehingga saya tidak menemukan tulisannya yang hanya berdasarkan asumsi yang tendensius. Tulisan anda dibahas olehnya tanpa di-rephrase.

    Semoga menjadi referensi agar ke depannya anda menghindari membuat persepsi baru dari sebuah pernyataan milik orang lain.

    • emhusnil

      Bung, kok ya cepat sekali ambil kesimpulan. Saya baru sempat mengecek dan membaca semua komentar. Tugas saya bukan hanya di depan laman saya ini. Saya tak meloloskan komentar yang bernada makian agar diskusinya tak ke mana-mana. Lagipula, makian-2 itu polusi dalam diskusi.

      Jika Anda merasa tulisan Tsamara lebih baik, ya sila. Mengenai parafrase ulang, setahu saya strategi saya masih diperkenankan dalam penulisan. Tendensius dan tidak, saya sebutkan sejak awal posisi saya. Terims 🙂

  8. aryo

    Gimana nih? Mau tahu hasil kerja anies musti buat riset dulu? Apakah karena hasil kinerjanya kebanyakan tidak nyata atau karena lebih banyak berbentuk gagasan?

    • Muhammad Husnil

      Itu fungsi ilmu pengetahuan, agar kita riset. memangnya anda tahu dari mana keberhasilan seseorang membangun/membuat sesuatu kalau tidak riset? setelah riset baru tahu dampaknya.

      Riset juga yang membedakan antara yang asal bicara atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *