Tengkurap

dunia aya , Uncategorized Oct 18, 2011 No Comments

Pada Minggu, 16 Oktober 2011 keluarga kecil kami mendapat kejutan: Aya belajar tengkurap.

Ini benar-benar kejutan. Semula kami sempat khawatir melihat perkembangan tubuhnya. Berat badannya 8,7 kg saat Aya berusia hampir empat bulan. Seorang teman memperingatkan, berat badan Aya sudah dalam batas ambang hati-hati sekali. Istilahnya, di atas area kuning. Mendekati kegemukan, obesitas. Mendengar keterangan itu, kian bertumpuklah kecemasan kami. Beruntung kami mendapat informasi lain.

Menurut Bude Aya dan seorang teman, kebetulan kedua orang itu bidan, berat badan Aya masih dalam batas ambang normalsepanjang masih hanya minum Air Susu Ibu (ASI) dan tidak sesak nafas.  Selama ini, alhamdulillah, Aya tidak mengalami gejala itu. Kami sangat bersyukur. Meski bersyukur, bukan berarti kekhawatiran itu langsung tandas. Jangan-jangan berat badannya menghalangi perkembangannya secara umum, seperti tengkurap atau berjalan.

Namun, pada Minggu siang itu Aya justru membantah kekhawatiran kami. Saya tengah terlelap ketika Aya mulai belajar tengkurep. Istri saya membangunkan saya. Jika biasanya setelah tidur saya  membutuhkan jeda untuk sekadar mengumpulkan kesadaran, saat itu saya langsung bugar. Saya langsung mengambil kamera dan merekam usahanya. Kami pun menyemangati Aya untuk terus berusaha.

Diiringi keringat yang mengucur dari kepala dan sekujur tubuhnya, ia bisa juga mengangkat tubuh bagian belakangnya. Namun, ia terengah-engah dan seperti kesusahan untuk menyempurnakan tengkurapnya. Terganjal “lontong”, demikian Mbah dan Neneknya menyebut tangannya.  Selama usahanya itu, ia terus saja berceloteh. Mungkin bahagia. Dengan menjulurkan lidahnya, ia seperti mau bilang kepada kami, “Jangan takut Aya pasti bisa kok, Nda. Ayah juga jangan khawatir, ini Aya lagi berusaha.”

Setelah Aya terus berusaha, akhirnya kami membantunya tengkurep. Toh, ia telah berusaha. Dan kami sangat menghargai usahanya. Lagi pula, kan memang Roma tidak dibangun dalam satu hari. Membutuhkan waktu. Dan, kami terus mendorong Aya untuk terus berusaha agar dia menyempurnakan tengkurapnya.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *