Iwan Fals, Presiden Imajiner

cerotan dinding , Uncategorized Nov 08, 2011 No Comments

(Tulisan ini saya buat sekitar satu tahun lalu. Kalau tak salah dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke 48.Tulisan ini dibuat berdasarkan beberapa kali wawancara dengan mencuri-curi kesempatan setelah konser bulanan di Leuwinanggung.)

“Alah, nggak pantes ngomong unity, Bang. Nyanyi aja,” teriak seorang penonton dari barisan tengah ketika Iwan Fals meneriakkan slogan Slank: love, peace, unity, and respect. Penonton itu merasa janggal dengan pelafalan Iwan saat mengucapkan ”unity”. Teriakan bernada ejekan itu bukan satu-satunya teriakan yang terdengar di konser bulanan pada 30/05/09 itu.

Di barisan depan, beberapa penonton meminta Kaka, vokalis Slank, membuka kaos. ”Disuruh buka kaos, Lu,” kata Iwan kepada Kaka. Meski permintaan itu ditujukan kepada Kaka, Iwan tak sungkan membuka kaosnya yang kemudian diikuti Kaka. Gelak tawa pun merambat dari depan ke belakang dan bercampur dengan teriakan bernada ejekan penonton lainnya yang berjumlah sekitar 1000 orang itu. Iwan bernyanyi sambil telanjang dada (lagi).

Marahkah Iwan dengan tindakan para penggemarnya itu? Tidak. “Nggak apa-apa,” kata suami Rossana itu. Iwan justru tersenyum dan kembali memetik gitarnya. Penonton pun turut mengiringi lagu yang dinyanyikan Iwan Fals dan Slank sore itu.

Itulah daya tarik Iwan Fals.Karismanya tak luntur dari hati para penggemarnya, kendati mereka mengejeknya. Ejekan adalah sebentuk ekspresi cinta mereka kepada sang idola. Hanya senyum atau tawa yang kita keluarkan bila teman baik mengejek, bukan. Kendati diejek, di hati para penggemar Iwan Fals tetap ”presiden pilihan”.

IWAN FALS DAN POLITIK

Selama ini banyak sekali orang yang menginginkan ayah dari Annisa Cikal Rambu Basae (24 tahun) itu terjun di panggung politik dengan mencalonkan diri menjadi presiden. ”Yang Pantes jadi Presiden cuma bapake Galang,” begitu tulisan yang tertera di salah satu kaos penggemar Iwan Fals. Galang adalah panggilan Galang Rambu Anarki, putra sulung Iwan Fals yang wafat pada April 1997. Tapi kadang, ia menanggapi dorongan ini dengan membanyol. ”Wah, itu rakyatnya pasti sudah gendeng (gila), ha..ha..ha…,” katanya di majalah Trax edisi Juni 2009.

Permintaan dan dorongan itu terus datang di setiap ada kesempatan. Namun, mereka yang mengajukan permintaan itu belum mengenal dengan baik sosok Iwan. Pasalnya, tanpa mencalonkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun, saat ini ia sah sebagai ”presiden”. Ia dipilih para penggemarnya melalui proses demokratis, malah.

Para penggemarnya menahbiskan Iwan sebagai presiden melalui proses yang tidak sebentar. Mereka terus menilik perjalanan Iwan dan segenap karyanya dari tahun ke tahun. Ya, mereka memilih pria bernama asli Virgiawan Listianto ini sebagai presiden karena ia terus bersetia meneriakkan suara pihak yang selama ini tak bisa bersuara. Bahkan hingga kini, di saat usianya yang mendekati setengah abad, 48 tahun.

Namun, ia bukan sembarang presiden. Ia adalah presiden imajiner. Itu berlaku bagi para penggemarnya, baik yang tergabung dalam Orang Indonesia (OI) maupun mereka yang gandrung terhadap lagu-lagunya. Dengan mendorongnya mencalonkan diri sebagai presiden, justru merusak statusnya sebagai presiden imajiner. Karena bisa jadi akan merusak fokusnya dalam memperjuangkan rakyatnya.

Berbeda dengan presiden formal yang sarat dengan laku politis, ia merambah jalan untuk memperjuangkan rakyat melalui lagu dan suaranya. ”Dengan segala hormat, kebutuhan politik saya sudah terpenuhi di dalam musik,” katanya di Kompas pada 03/06/09. Oleh karena itu ia akan terus bernyanyi dan bernyanyi. Pita suara dan stamina yang ia miliki. ”Tergantung bagi yang punya telinga: mereka punya nurani tidak?” katanya dalam jumpa pers di rumahnya setelah manggung pada sabtu, 25/04/09.

PRESIDEN TAK DILANTIK

Mungkin ia satu-satunya presiden yang tak dilantik secara resmi. Dan memang Iwan pantas menjadi presiden. Itu karena sosok Iwan yang demokratis. Simak saja sikapnya pada penampilan sabtu sore 30/05/09 itu. Ia begitu memerhatikan suara para penggemarnya. ”Justru seru,” katanya ketika menanggapi penggemarnya yang berteriak dan tak lupa mengejeknya. Inilah demokrasi ala Iwan Fals.

Tentu, pengertian demokrasi di sini bukan dalam arti ilmuwan sosial dan filsuf, namun demokrasi dalam artian orang kebanyakan. Demokrasi di sini diartikan sebagai nilai yang mengandaikan adanya kesetaraan dan kebebasan berpendapat. Bukankah dua hal itu merupakan dua hal dari cita-cita besar lain yang hendak disasar demokrasi?

Kedua hal itu pula terdapat pada setiap konser bulanan Iwan Fals di rumahnya, Leuwinanggung, Depok, Jawa Barat. Jadi, ia tidak hanya berkoar-koar menyuarakan demokrasi tapi juga melaksanakannya. Dan memang, sudah sejak lama ia mengangkat tema demokrasi dalam lagunya. Hal itu dapat dilacak, misalnya, pada awal-awal karirnya. Salah satunya adalah ”Demokrasi Nasi” (1978), tapi lagu ini tak sempat beredar.

Pertama, kesetaraan; point ini mengandaikan bahwa siapa pun tidak memiliki keistimewaan dalam struktur sosial. Semua orang memiliki hak yang sama, tak ada yang boleh diistimewakan. Mereka berada dalam ruangan dan tempat yang sama, sepadan. Tak ada konsep siapa di atas siapa dan siapa di bawah. Semua orang mesti berada dalam kedudukan yang sama. Kendati demikian Iwan tak menampik adanya perbedaan status sosial dalam masyarakat sebagaimana dalam lirik lagu ”Besar dan Kecil”.

Apa bedanya besar dan kecil

Semua itu hanya sebutan

Yang walau di dalam kehidupan

Kenyataannya harus ada besar dan kecil

Perbedaan dalam status sosial merupakan hal yang alamiah. Tak ada yang bisa menampiknya. Namun, yang paling utama adalah menanggapinya dengan bijak. Oleh karena itu, yang mesti ditolak adalah sikap kesewenangan pihak ”Besar” terhadap kelompok ”Kecil”. Agar tak menjadi:

Kau seperti bus kota atau truk gandengan

Mentang-mentang paling besar klakson sembarangan

Atau;

Kau seperti buaya atau dinosaurus

Mentang-mentang menakutkan makan sembarangan

Dari penampikannya atas kesewenangan itulah mengapa Iwan tak merasa risih apalagi marah dengan sikap penggemarnya itu? Kendati ia orang ”besar” di dunia musik, ia tak mengabaikan peran orang ”kecil” seperti penontonnya. Tak mungkin ada orang besar tanpa keberadaan orang kecil, bukan? Dengan begitu, keseimbangan alam terjaga dengan baik.

Kedua, kebebasan. Tak lah mungkin ada penonton yang berteriak dan mengejek Iwan jika tidak ada kebebasan di sana. Kalau tak ada kebebasan, ekspresi cinta penonton hanya satu: bergoyang ke kiri atau ke kanan sambil mengiringi lagu yang dinyanyikan. Selain itu, segala sesuatunya mesti teratur. Pertunjukan demikian hanya mungkin berlangsung satu atau dua kali saja. Jarang bisa berkelanjutan. Membosankan. Dan, mungkin tidak akan melahirkan Orang Indonesia (OI), organisasi yang menghimpun penggemar Iwan Fals yang berjumlah ribuan dan tersebar di penjuru negeri.

Namun, tidak pada setiap penampilan Iwan Fals. Pasalnya, ia memberikan kebebasan kepada para penontonnya untuk menafsirkan lagu yang ia nyanyikan. Memang sejak lama Iwan mendamba kebebasan di negeri ini. Dalam perjalanan kehidupannya, ia pernah dikekang pemerintah. Saat Orde Baru masih berdiri, pemerintah acap menggagalkan pertunjukan musiknya. Ia pun tak diperkenankan tampil di acara-acara televisi. Bahkan, ia pernah dipenjara pada 1984 karena karyanya yang dianggap subversif berjudul ”Mbak Tini”. Ia tak bebas bersuara pada masa di mana stabilitas negara menjadi mantra sakti. Dan, konser Iwan dianggap mengganggu stablitas oleh pemerintah kala itu. Tentu, ia merasakan betapa susahnya hidup dalam ketidakbebasan. Oleh karena itu, ia tak ingin mengekang kebebasan yang dimiliki para penggemarnya.

Namun, para penggemarnya juga harus menggunakan kebebasan itu dengan baik, agar tidak menggantinya dengan sikap seenaknya sendiri. Dengan adanya kebebasan, penonton mengekspresikan kecintaan mereka kepada sang idola dengan beragam cara. Berteriak hingga serak, berjoget hingga badan kuyup, atau menangis terharu karena menghayati setiap lagu yang diperdengarkan, adalah sekian dari ekspresi kecintaan.

Dengan adanya kebebasan setiap orang berhak menentukan pilihan. Setiap pribadi masuk ke dalam lingkaran kontestasi. Dalam sistem perpolitikan secara umum, kebebasan bisa diartikan dengan dua pilihan: ikut memilih saja atau memilih dan dipilih. Dan, bangsa ini baru saja menyelenggarakan pemilihan legislatif dan presiden. Tentu, kontestasi seperti ini meniscayakan adanya pihak yang kalah dan menang.

Namun, jangan sampai terlena dalam kemenangan, pula tak baik terjebak dalam kesedihan akibat kekalahan. Bagi pemenang jangan memancing yang kalah menjadi serigala yang berserakan di jalan, sebagaimana diungkap dalam salah satu lagu Iwan Fals dalam album Kantata Takwa (1990), ”Orang-orang Kalah”.

Mereka yang telah kalah

Terkapar tak berdaya

Mencoba mengucap doa

Berserakan di jalan menjadi srigala

Oleh karena itu, sebaiknya kita mengapresiasi orang kalah dengan tidak menghinanya, tapi justru membangunkanya dengan cinta.

Orang kalah

Jangan dihina

Dengan cinta

Kita bangunkan

Bagi orang yang kalah juga tentu jangan menyerah. Masih banyak yang bisa dilakukan:

Mereka yang pernah kalah

Belum tentu menyerah

Memang jangan menyerah

Masih banyak lagi yang bisa dikerjakan

Dengan bekal dua hal ini, ayah dari Rayya Rambu Robbani (6 tahun) ini memang patut menjadi presiden, setidaknya di dunia imajiner. Tidak seperti SBY atau Barrack Obama memang, tapi sikapnya yang demokratis dan semangatnya menyuarakan pihak yang tak bisa bersuara sangat penting. Dan, saya bermimpi akan hadirnya sikap demikian tampak pada para politisi kita.

Mimpi di siang bolongkah saya?

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *