Korupsi Tak Mati-Mati

buku , Uncategorized Feb 07, 2012 No Comments

Selama birokrasi masih bobrok, bukan tidak mungkin akan selalu lahir beribu-ribu “Murad” yang tunduk pada setan yang sama: korupsi.

SELESAI membaca novel ini saya mengajukan tebak-tebakan kepada seorang teman. Sebutkan satu kata dalam bahasa Arab untuk kalimat tanya berikut: Bisakah kita menghapus korupsi tanpa memulainya dari birokrasi? Tanpa saya duga, ia menjawab dengan cepat: mustahil (mustahil).

Memang mustahil. Bukankah sosiolog sekelas Max Weber (1864-1920) pernah menyimpulkan bahwa salah satu fondasi keberhasilan modernisasi Jerman adalah birokrasi yang disiplin. Weber mencirikan birokrasi yang disiplin di antaranya adalah kekuatan bukan terletak di tangan pejabat (officeholder) melainkan di institusi; kekuasaan hanya boleh ditetapkan oleh peraturan. Selain merusak sistem, birokrasi yang buruk juga akan menggerus kemanusiaan.

Dalam novel ini Tahar menggambarkannya pada tokoh Murad (atau Pramoedya Ananta Toer melukiskannya pada tokoh Bakir dalam novel Korupsi (1954; terbit ulang pada 2003 oleh Hasta Mitra). Lho, apa kaitan kedua novel itu? Ya, memang tak sah membicarakan karya Tahar ini tanpa menyinggung Korupsi-nya Pram. Sastrawan Prancis kelahiran Maroko ini menulis novel berjudul asli L’Homme rompu (Lelaki yang Patah) karena terinspirasi Korupsi-nya Pram ketika berkunjung ke Indonesia pada awal 1990-an. Kebetulan saat itu salah satu “anak ruhani” Pram tersebut sudah diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Denys Lombard.

Yang menarik, Tahar tidak hanya menggarap tema yang sama, tentang korupsi, tapi juga menggunakan strategi literer sastrawan besar Indonesia itu: tokoh-tokoh Pram adalah mereka yang selalu kalah dilanda sejarah, tapi sekaligus juga mengalahkan kekalahannya sendiri dengan mengatasi baik ketakutan maupun kesombongan untuk tidak menang (Ignas Kleden, 1999). Murad memang kalah, namun ia kalah secara terhormat dengan tak mengajak orang lain untuk korupsi. Biarlah dia kalah, orang lain jangan.

Tapi, kesamaan berhenti di situ. Dalam pengemasan plot, deskripsi, dan pendalaman karakter tokoh L’Homme rompu lebih dinamis ketimbang Korupsi. Soal motif, misalnya. Dalam novel Pram keputusan Bakir untuk korupsi sangat hitam-putih. Ia korupsi karena impitan ekonomi: gajinya tak mampu lagi membiayai sebuah keluarga secara layak dengan empat anak.

Namun, dalam novel ini korupsi merupakan hal yang njelimet. Murad menjalani hidup dengan miskin, padahal jabatannya cukup tinggi, wakil direktur perencanaan dan pembinaan di sebuah Kementerian Pekerjaan Umum di Maroko. Karena itu, istri dan ibu mertuanya selalu cerewet atas kondisinya. Bahkan, setiap bertemu ibu mertuanya selalu menghinanya. Tapi, Murad bergeming. “Makin keras ibumu menunjukkan (penghinaan-MH)-nya kepadaku, integritasku makin kuat. Tetapi betapa beratnya memperjuangkan hal itu! Aku melawan sebisaku (hlm. 104).” Tidak mudah meyakinkan Murad untuk menerima uang haram.

Motif paling kuat justru datang dari sistem birokrasi yang bobrok. Tampak sekali bahwa kekuatan dan kekuasaan justru terletak di tangan pejabat, bukan di institusi atau di peraturan. Apa pun bisa dilakukan untuk melancarkan sebuah urusan. Tak kurang dari sang direktur yang berulang kali mengajaknya masuk ke “sistem”. Namun godaan tak hanya datang dari atasan, juga dari bawahan. Hal itu tampak pada Haji Hamid yang selalu memosisikan diri sebagai atasannya, padahal jabatannya hanya asisten Murad. Gajinya me

mang di bawah Murad, “Tapi dia tinggal di villa yang indah, punya dua mobil, dan anak-anaknya bersekolah di kedutaan Prancis, tambah lagi dia menghadiahi istrinya liburan ke Roma (hlm. 15).” Karena sistem, rata-rata para pegawai di kantor Murad telah belajar “luwes” dengan menerima upah dari setiap proyek yang masuk. Setiap orang memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Selama 20 tahun hanya Murad yang tak mau ambil bagian.

Murad tak mau korupsi bukan karena munafik atau naif. Apalagi tidak ada kesempatan. Bukan itu, tapi karena nilai-nilai anti-korupsi yang ditanamkan Bapaknya sejak kecil. Ayahnya sangat hati-hati. Saking hati-hati, “Dia tak mau berutang seperti kebanyakan orang (hlm. 53).” Dalam istilah Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, perilaku anti-korupsi sudah menjadi superego Murad. Maka, ketika ia memutuskan korupsi, superegonya menolak. Jiwanya terganggu. Akibatnya, ia menderita psikosomatik. Tubuhnya dipenuhi bercak putih, mulai dari wajah hingga tangannya. Tapi saat superegonya tergerus sedikit demi sedikit akibat korupsi, bercak putih itu menghilang secara perlahan dari tubuhnya.

Bahwa Murad adalah fiksi memang betul, tapi tidak sedikit tipe manusia seperti itu di dunia nyata. Maraknya kasus korupsi yang terjadi belakangan ini di Indonesia merupakan bukti bahwa “Murad” memang ada. Dan, selama birokrasi masih bobrok bukan tidak mungkin akan lahir beribu-ribu “Murad” lain yang tunduk pada setan yang sama: korupsi. Jika demikian, menghapus korupsi hanyalah cita-cita yang tetap tergantung di langit tinggi dan tak kan pernah turun ke bumi.

***Data Buku
Judul : L’Homme rompu (diterjemahkan Korupsi)Penulis : Tahar Ben JellounPenerjemah: Okke KS Zaimar

Penyunting : Anton Kurnia

Terbit : Pertama, 2010

Penerbit : Serambi, Jakarta

Dimuat di Jurnal Nasional, 21 Agustus 2011

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *