Sajak Kembara dan Pergulatan Identitas

buku , Uncategorized Feb 27, 2012 No Comments

Dalam mencari identitas, diharapkan untuk tidak segera puas dengan hasil yang ada. Ia mesti terus menerus melakukan pencarian. 

Konon, hasrat utama modernisme adalah merengkuh subyek (Sang Aku) ke dalam pemahaman utuh mengenali dirinya. Dari situ, peralihan kajian dari perihal ketuhanan (teosentrisme) ke kemanusiaan (antroposentrisme) terjadi. Manusia berusaha menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Manusia menekuni dirinya dengan terus mencari jati diri. Bagaimana bisa memahami obyek di luar dirinya bila diri masih belum dikenali. Sejak itu, manusia mengembara dalam dunia dengan pertanyaan yang senantiasa menghinggapinya, siapakah aku?

Dalam tautan semangat itu pula sajak-sajak Zaim berbunyi nyaring. Ia seperti emoh menanggapi godaan posmodernisme. Baginya, modernisme lebih mempesona. Karena memang, ia belum selesai dengan dirinya. Sebenarnya, pergulatan mencari identitas ini sudah ada dalam sastra Indonesia sejak Salah Asuhan (1928) karya Abdul Moeis.

Tapi, pertanyaan mengenai identitas menjadi ramai kembali dibicarakan dalam sastra dunia saat ini. Banyak sastrawan kelas internasional seperti Orhan Pamuk, pemenang nobel sastra 2006, juga menggeluti tema pencarian identitas, antara Timur dan Barat seperti dalam tertera dalam My Name is Red dan Snow. Hal ini didorong kondisi global saat ini yang sarat dengan pengaburan identitas. Oleh karena itu, semangat mencari jati diri menjadi penting. Agar kita tak tampak seperti singa yang ternyata kambing sebagaimana dengan kocak sekaligus ironis tergambar dalam sajak “Singa”(hal. 89).

Dengan gaya prosa-puisi sajak ini mengisahkan Raja Rimba yang mempertahankan bangkai kijang dari serbuan anjing hutan. Karena lapar, sekawanan anjing hutan itu terus menyerang Raja Rimba demi mendapatkan bangkai kijang. Raja Rimba itu akhirnya kalah. Tapi dengan kekuatan yang tersisa, ia masih memamerkan kekuasaannya dengan mengaum: “Mmbeeeek!!”

Di tengah gempuran estetika puisi sastrawan (muda) saat ini yang melonjakkan imaji surealis dan cenderung merujuk ke ide-ide posmodern, sajak ini tampil beda. Ia menyapa dengan gaya lirisisme dan dengan rajutan diksi yang sederhana. Tampaknya, hal ini Zaim wariskan dari Sapardi Djoko Damono, penyair gaek yang terkenal dengan sajaknya yang sederhana (dalam bahasa) tapi indah (dalam imaji). Sajak “Singa” mengajak kita untuk menertawai kondisi manusia yang tak tahu diri. Bukankah tidak sedikit orang yang ada di sekeliling kita tidak tahu dirinya. Ia menganggap dirinya harimau, padahal hanya kambing.

Sungguh tragis tipe manusia demikian. Padahal, mestinya hidup ini dijalani dengan penuh kesadaran, selain membutuhkan pengorbanan. Kesadaran menjadi poin penting dalam pencarian identitas. Hanya dengan kesadaran seseorang bisa menemukan dirinya yang sejati. “Sylvia” (hal. 14) mengisahkan hal ini dengan baik. Kesadaran menjadi perhatian sang penyair yang tampak di bagian akhir sajak. “Aku bukan laba-laba, ternyata.// Aku tak lagi mahir membangun istana.// Aku hanyalah ulat bulu.// Yang segera ingin jadi kupu-kupu.// Kini, Papa, izinkan aku menyusulmu.”//

Dalam mencari identitas, diharapkan untuk tidak segera puas dengan hasil yang ada. Ia mesti terus menerus melakukan pencarian. Dengan begitu, pencarian yang ada tidak pada level permukaan belaka, tapi mampu merasuk ke bagian inti. Pendek kata, seseorang harus berani mengembara dalam mencari identitasnya.

Kesan pengembaraan kian kuat dalam sajak “Ikarus” (hal. 17). Kisah Ikarus dalam legenda Yunani menceritakan seorang pemuda yang, dengan sayap yang terbuat dari bulu-bulu garuda yang direkatkan dengan lilin, terbang ke matahari. Namun ketika mendekati matahari, sayapnya meleleh. Ikarus pun jatuh ke laut Aegea. Berbeda dengan cerita Ikarus yang tragis itu, Zaim memberikan perspektif baru terhadap tragedi Ikarus itu. Dalam sajak ini Zaim seolah berupaya untuk mengajak pembaca untuk tak segera menyerah kepada keadaan. Bagaimanapun, kehidupan harus diperjuangkan. Apa pun hasilnya: Kini, biarkan aku tinggi // meninggi // meski aku tahu // mimpi-mimpi ini // akan hangus // terbakar // matahari.

Dan sajak-sajak Zaim merupakan amsal terbaik tentang sajak yang menampik untuk diam. Mereka adalah ekspresi kembara yang tak kunjung selesai, terus mencari sebuah dunia yang akan membuat sang penyair tentram, aman. Pendek kata, mereka adalah suara kegelisahan yang terus-menerus mendera.

Data buku:

Judul : Lagu Cinta Para Pendosa: Sekumpulan Puisi
Penulis : Zaim Rofiqi
Catatan Pembaca : Goenawan Mohammad
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal : 101 + xi
Harga : Rp 25.000,-

Majalah Forum Keadilan, edisi 42, 21 Februari 2010

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *