Hanya Menegaskan, Belum Membarui

buku , Uncategorized Mar 27, 2012 No Comments

Buku ini, sekali lagi, mengukuhkan betapa visioner Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid, ketika menulis makalah berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat.” Makalah yang disampaikan untuk pertemuan aktivis Islam pada 1970 itu tetap relevan hingga kini. Jika Ihsan Ali-Fauzi menyebut makalah tersebut sebagai teks paling otentik Cak Nur dan teks-teks lainnya sebagai catatan kaki, eksplorasi lebih jauh, atau kamuflase penting untuk dakwah, maka buku ini bisa dimasukkan ke dalam kategori catatan kaki.

Buku hasil workshop bertema “Menata Kembali Visi Pembaruan Pemikiran Islam Indonesia” beberapa waktu lalu ini merupakan kumpulan percik kegelisahan para intelektual muslim Indonesia kontemporer. Mereka gelisah melihat keberislaman Indonesia belakangan ini: konservatisme yang semakin mengental dan kejumudan pemikiran Islam mutakhir. Mereka pun mencoba memperbarui kembali pemikiran Islam. Namun, membaca seluruh tulisan di dalam buku itu tampaknya pembaruan baru terlaksana pada tahap wacana, belum sampai pada tahap produksi pemikiran.

Sungguh sayang. Setelah 40-an tahun Cak Nur mengumandangkan perlunya pembaruan pemikiran Islam, kini para penerusnya mengulang tema ini beserta topik turunannya seperti isu gender dan demokrasi tanpa beranjak lebih jauh. Posisi mereka memang dilematis. Di satu sisi, mereka menyadari bahwa konteks dan tantangan yang dihadapi masyarakat sekarang jauh berbeda dengan 40-an tahun silam.

Yang paling kentara adalah banyaknya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Jika Cak Nur dan gagasan pembaruannya hidup pada masa Orde Baru yang cenderung mengakomodasi kelompok Islam moderat dan mengontrol secara ketat organisasi-organisasi Islam garis keras, dan karena itu tidak menimbulkan gejolak ke luar, maka para penerus Cak Nur hidup pada era reformasi yang tak lagi ada kontrol ketat macam itu. Tak ada lagi pengekangan, sekalipun, sayangnya, terhadap organisasi-organisasi yang terang-terangan melakukan kekerasan. Bahkan, pemerintah sendiri seperti takluk terhadap mereka dengan selalu hanya menyatakan prihatin dan mendesak yang berwajib untuk menindak mereka tanpa ada ketegasan hukum.

Para penerus Cak Nur itu belum mengeluarkan produk pembaruan pemikiran Islam yang, mengutip Ihsan, nyambung dengan konteks sosialnya tapi tidak esoterik, parokial, terikat waktu (hal. 20). Tentu saja, ada banyak alasan yang bisa dikemukakan. Namun, Suaidi Asyari menyebut salah satu alasannya adalah keterbatasan ruang dan waktu untuk gagasan besar. Seringkali para pembaru menggunakan ruang yang terbatas seperti koran, talk show, baik di televisi maupun radio, dan diskusi lepas ketimbang menulis sebuah buku yang tuntas membahas isu-isu penting (hal. 144).

Sebenarnya, tulisan Abdul Moqsith Ghazali tepat jika dijadikan sebagai tema besar dan judul buku ini, “Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam.” Tulisan yang semula disampaikan pada acara malam kebudayaan di Taman Ismail Marzuki Juli 2011 lalu itu menegaskan pembaruan pemikiran Islam dengan membenahi cara pandang terhadap Al-Quran, mengerti pokok-pokok risalah kenabian, mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi khazanah pemikiran dan karya ulama terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan memfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu.

Dengan menggunakan kata “menegaskan,” Moqsith seperti sedang mengingatkan teman-temannya sesama pemikir Islam bahwa mereka sendiri sedang berada dalam kondisi stagnan, baik akibat menjalani rutinitas maupun karena tersita aktivitas mereka dalam bidang politik. Untuk itu mereka memerlukan penegasan.

Di antara semua tulisan yang ada, tulisan terbaik diajukan Ihsan Ali-Fauzi. Ia menyajikan tema pembaruan pemikiran Islam dari sudut pandang baru. Dengan menggunakan kaca mata Robert Wuthnow, sosiolog dari Universitas Princeton, Amerika, ia mencoba menaksir kekuatan dan batas-batas gerbong pembaruan Cak Nur.

Setelah menelaah mengapa gagasan Cak Nur mendapatkan panggungnya dan selaras dengan perkembangan zaman, ia melihat bahwa para penerus Cak Nur sendiri perlu interospeksi diri. Bisa jadi, kata Ihsan, gerbong pembaruan kurang baik mereka kelola. Mereka kurang berhasil mengeksploitasiresouces yang ada untuk memperkuat gerbong itu dan menariknya lebih kencang. Atau mereka terlalu murah dan mudah memberi cek kosong kepada para politisi yang mengklaim akan mendukung prinsip mereka, sekalipun nyatanya tidak demikian. Sementara itu sang penarik gerbong sendiri, almarhum Cak Nur sulit digantikan, sedang para penerusnya gagal melembagakannya.

Bahwa pemikiran Islam Indonesia membutuhkan pembaruan, itu jelas. Tidak mungkin kita bisa hidup dengan mengandalkan hasil pemikiran masa lampau melulu. Bahkan, dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Rasul bersabda: “Pada setiap awal 100 tahun Allah mengirimkan seorang pembaru yang akan memperbarui urusan agama mereka.” Kita makhluk dinamis, bukan statis. Namun, kita acap lupa. Sebagai makhluk pelupa, kita membutuhkan pengingat dan penegas. Dan, itulah pentingnya buku ini. Bukan sebagai pembaruan, tapi hanya sebagai penegas. ***

Judul         : Pembaruan Pemikiran Islam Indonesia
Penulis       : Dawam Rahardjo, dkk.
Penerbit     : Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) dan LSAF, Jakarta
Terbit        : Oktober 2011
Tebal         : xxvii+418

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *