Cahaya

dunia aya , Uncategorized Jul 19, 2012 No Comments

Hidungnya masih saja mengeluarkan ingus, dan suara batuk masih keluar dari mulut mungilnya. Bundanya tak jauh berbeda, malah lebih parah. Selain pilek dan batuk, badannya panas. Terkadang Bunda bocah itu menggigil.

“Gejala tipus,” kata kakaknya yang seorang perawat di puskesmas kecamatan.

Maka, Bundanya harus banyak istirahat. Sebenarnya, bocah itu pun harus banyak istirahat. Tapi memang dasar bocah, ia masih saja bolak-balik mendorong kursi dan memainkan segala yang ada di tangannya. Di usianya satu tahun tiga minggu ini, ia sedang belajar berdiri dan berjalan. Juga mengucap satu-dua patah kata.

Ia senang betul bila Mbahnya bertepuk tangan sambil bilang, “Deg deg pinter ngadeg!” Maka, dengan berpegangan kepada apa pun yang ada di sekitarnya yang bisa ia jadikan penopang, ia berdiri. Lalu bertepuk tangan. Tapi, yang paling ia gandrungi itu mendorong kursi plastik ke seantero rumah. Berkali-kali. Bahkan, hingga butiran keringat berleleran dari kepala dan lehernya. Sambil mendorong kursi, tawanya tak pernah luntur dari mulutnya.

Tapi, ia masih belum mampu berdiri sendiri.

Pada Rabu malam (18/07/12) itu cuaca begitu dingin. Begitu memang keseharian cuaca di sebuah kampung di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah itu. Sambil tiduran, Bunda bocah itu mengenakan selimut. Agak kedinginan ia. Meski lahir dan besar di daerah pegunungan, ia tak kuat cuaca dingin. Kaki dan tangannya sering sangat dingin. Tapi, bocah itu kuat. Ketika anggota keluarga yang lain menggunakan selimut karena kedinginan, badan dan bantal bocah itu malah basah oleh keringat. Padahal, dia tak mengenakan baju hangat.

Ketika Bundanya mengotak-atik Blackbery (BB) untuk sekadar menghilangkan penat sambil tiduran, bocah itu berusaha berdiri. Di tengah kasur, tanpa berpegangan ia berusaha mengangkat tubuhnya. Pertama, ia gagal. Setelah beberapa kali percobaan, ia bisa berdiri. Umbelnya masih meler, tenggorokannya masih belum bersih betul, tapi tawanya lepas ketika berhasil berdiri. Cukup lama ia berdiri. Bundanya melepas BB-nya, menciuminya, lalu tertawa bersama. Dan mengirim pesan pendek kepada suaminya. “Kabar bagus, De Aya sudah bisa berdiri sendiri.”

Ketika berita itu sampai, ayah bocah itu sedang demam. Mereka terpisah sekitar 300 km. Sudah dua hari ia tak bisa melakukan banyak kegiatan, selain terbaring di tempat tidur dan membacai berbagai materi dan buku untuk pekerjaannya. Setelah membaca berita itu, hari berikutnya ia sudah mengatur jadwal wawancara dengan sejumlah narasumber dan kembali ke rutinitasnya.

Ketika Bunda bocah itu menceritakan kisah ini lebih detail lewat telepon pada pagi keesokan harinya, panas badannya sudah agak turun. Sudah mendingan.

Ah, terima kasih, Cahayaku. Selamat atas keberhasilanmu bisa berdiri.

Salam dari Ayahmu

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *