Laknat atau kegagalan dakwah?

cerotan dinding , Uncategorized Jul 20, 2012 No Comments

Seperti biasa, tahun ini puasa Ramadan berbeda hari. Dengan metode hisabnya, Muhammadiyah menentukan Ramadan jatuh pada Jumat, 20 Juli; sementara karena belum melihat hilal Nahdlatul Ulama dan pemerintah memutuskan untuk berpuasa pada Sabtu, 21 Juli. Dan, seperti biasa pula, muncul berbagai perdebatan mana yang paling benar dalam menentukan metode ini.

Sementara di berbagai negara muslim penentuan tanggal 1 Ramadan ditentukan pemerintah dan tidak ada perbedaan, di Indonesia justru sering berbeda. Perbedaan penentuan 1 Ramadan ini khas Indonesia. Ini berarti Islam Indonesia itu unik. Maka, benarlah bahwa Islam itu memang rahmatan lil alamin, rahmat untuk semesta, bukan hanya rahmatan lijaziratil arab, rahmat hanya untuk negara-negara arab.

Tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang perbedaan waktu ini, sebenarnya. Toh Muhammadiyah dan NU berbeda karena memang titik berangkat mereka berbeda. Metode mereka berbeda. Muhammadiyah menggunakan metode hisab; NU menggunakan metode  rukyat hilal. Masing-masing memiliki dasar argumentasinya dari Al-Quran dan hadis. Selesai, bukan?

Ternyata tidak. Di negeri ini yang terdiri dari aneka ragam budaya ini masih banyak orang yang menginginkan keseragaman, kesatupaduan. Tenggorokan mereka gatal melihat perbedaan. Padahal, perbedaan itu bisa diselesaikan dengan diskusi atau musyawarah.

Adapun orang yang menginginkan persamaan dan kesatuan, perlu dipertanyakan lebih lanjut tentang tujuan diskusi atau musyawarah itu. Apakah diskusi itu bertujuan menyamakan pendapat atau mendengarkan pendapat masing-masing lalu saling memahami? Jika ingin menyamakan pendapat, sementara titik berangkatnya berbeda, berarti orang itu otoriter, berarti dia menginginkan keseragaman. Dia memaksa keinginannya.

Tampaknya orang seperti ini harus belajar betul bagaimana memiliki seorang teman/saudara/anak yang berbeda pendapat dengannya. Menyakitkan memang bila pendapat kita ditolak, namun apakah rasa sakit itu beralasan bila orang yang tak sepaham dengan kita itu memiliki dasar dan argumentasinya sendiri? Ini sih rasa sakit yang sedikit berlebihan. Sesakit apa pun, toh pada akhirnya fakta tentang perbedaan itu tetap ada.

Berarti pilihannya tinggal dua: belajar menerima perbedaan atau memaksa orang agar sependapat. Jalan paling elegan, tentu saja belajar menerima perbedaan. Untuk itu, kita bisa mengondisikannya sejak di lingkungan terdekat. Bicaralah kepada pasangan, teman dekat, anak dan mintalah saran dan kritik mereka tentang diri kita. Biasakanlah.

Jika tidak mulai membiasakan, bisakah dia memaksa menyamakan pendapat teman/saudara/anaknya padahal masing-masing pihak memiliki basis pengetahuan dan sudut pandang yang berbeda? Lalu bagaimana kalau kita tak menerima perbedaan? Memaksanya? Menerornya? Menyiksanya? Naudzubillah, bila itu terjadi.

Bukankah lebih baik bila diskusi itu sarana untuk mendengarkan pendapat masing-masing pihak untuk kemudian saling memahami?

Bahwa terjadi gejolak di tingkat akar rumput tentang perbedaan hari ini, saya kira itu tugas pemimpin agama untuk menjelaskan duduk persoalannya. Mestinya pemimpin agama berdakwah menerangkan apa yang sebenarnya terjadi, yaitu perbedaan sudut pandang dan metode yang berbeda. Itulah tugas mereka. Bukan malah melemparkan provokasi bahwa perbedaan itu laknat.

Perbedaan itu rahmat. Sepanjang pengetahuan saya, di tingkat masyarakat hampir tidak ada masalah tentang perbedaan ini. Memang, mereka semula kebingungan akan memilih yang mana. Tapi, rata-rata mereka akan memilih keputusan pemerintah. Karena sudah berulang kali terjadi, sedikit demi sedikit mereka belajar menerima perbedaan. Dan ini gejala bagus.

Adapun Muhammadiyah, jika keputusannya berbeda, karena memang mereka memiliki basis tersendiri, tentu sudah mensosialisasikan keputusan mereka jauh-jauh hari. Ketika saatnya tiba, mereka sudah siap. Tidak ada masalah serius di sini, kecuali orang-orang tertentu yang tampaknya menginginkan keseragaman itu terlalu membesar-besarkan masalah perbedaan ini.

Kalau ada orang yang melihat dalam satu gang atau satu komplek yang memilih dua keputusan berbeda, lalu kenapa? Apakah lantas mereka berkelahi karena perbedaan itu? Jika memang mereka berkelahi, itu bukan kesalahan mereka. Pangkal soalnya bukan berbeda lantas berkelahi. Jika itu menjadi pangkal soal, betapa banyak perbedaan yang harus diseragamkan. Pangkal soalnya adalah pemimpin mereka tak bisa menerima perbedaan pendapat, menimbulkan kebencian, lalu mengutarakannya di depan publik, di depan jamaahnya. Tak ada yang melarang memang seseorang membenci manusia lainnya. Namun, yang dilarang adalah mengekspresikan kebenciannya di depan publik dan mengajak orang untuk sama-sama membencinya.

Jamaah tentu akan mengikuti apa kata pemimpinnya. Jika pemimpinnya membenci orang tertentu dan diucapkan di depan publik, maka kebencian itu akan menular dan menjadi gelombang besar. Itulah yang terjadi di belakang berbagai peristiwa berdarah di mana-mana.

Lalu, apakah itu kesalahan masyarakat? Bukan. Sekali lagi, itu kesalahan pemimpin. Pemimpinnya gagal berdakwah tentang pentingnya perbedaan. Jika memang terjadi begitu, tampaknya orang yang mendaku atau mengklaim diri atau diakui sebagai pemimpin tapi tak mau legowo menerima perbedaan pendapat itu harus mengaji lagi kitab-kitab fiqih klasik dan melihat bagaimana para Imam besar itu (Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Hanbali, Imam Ja’far Shadik) mengelola perbedaan pendapat.

Bila mereka tak mau berubah, lantas jalan tertutup? Tidak juga. Adalah tugas setiap orang yang terpelajar, yang terdidik untuk menyebarkan sikap menerima perbedaan. Dan itu dimulai dari lingkup paling kecil: keluarga. Mulai dari sekarang, biasakan tidak lagi melakukan stereotip terhadap orang lain. Ketika melihat perbedaan dan kita sendiri tak sreg, kita jangan berkomentar terhadap anak atau anggota keluarga, “Ah, biasa. Orang dari…. (silakan isi sendiri) memang begitu.”

Pernyataan itu memang sepele, tapi efeknya sangat besar. Tanpa sadar, cara pandang kita menjadi sangat stereotip dan dengan begitu tidak menerima perbedaan.

Bila kita sudah bisa membiasakan menerima perbedaan, sedikit demi sedikit sikap ini akan menular ke orang lain. Dengan begitu, tidak ada lagi orang yang akan mengatakan bahwa perbedaan itu laknat. Perbedaan itu, sungguh, adalah rahmat.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *