Tanjung, Suatu Siang

cerotan dinding , Uncategorized Dec 31, 2012 No Comments

Bus yang saya tumpangi memasuki terminal Tanjung, sebuah terminal kecil di Brebes, Jawa Tengah. Saya baru saja pulang kampung dari rumah istri saya di Tegal, Jawa Tengah. Dengan menumpang bus Dewi Sri kelas ekonomi itulah saya berharap bisa ke Jakarta. Dan, di terminal Tanjung bus yang saya tumpangi mesti kontrol jumlah penumpang.

Saya tengah membaca Misteri Rubaiyat Omar Khayyam-nya Amin Maalouf ketika itu. Ia adalah dongeng perjalanan Naskah Samarkand yang dituturkan Benjamin O(mar) Lessage. Di samping rajutan plot, konflik, dan alur penceritaan yang apik kualitas terjemahannya yang terjaga membuat saya betah memelototinya. Saya mengkhusukinya, walaupun keringat yang keluar dari punggung dan dada mulai mencumbu kaos saya. Belum lagi satu-dua titik peluh menetes dari wajah dan leher.

Namun di tengah cerita yang menyergap, bus yang saya tumpangi itu bergoyang ke kiri dan kanan. Cukup keras, hingga membuyarkan konsentrasi baca saya. Begitu ia, hingga sekira 8-10 menit kemudian, sampai bus menemukan tempat parkir di dalam terminal. Saya kira, guncangan selama itu cukup untuk membuat orang yang mabuk perjalanan membuntangkan isi perutnya. Apalagi dengan posisi duduk di bangku paling depan seperti saya. Saya? Hampir saja sisa masakan mertua saya yang sedang diserap alat pencernaan berpindah ke lantai bus.

Saya menutup buku. Agak kesal. Jelas, saya terganggu. Kenapa pula sang supir tak bisa mengendalikan busnya ini dengan baik? Ya, kalau memang jalannya berlubang kan dia bisa memperlambat kecepannya? Nafas yang keluar dari hidung saya mulai pendek-pendek. Gigi gemeretak. Rahang mulai mengeras. Rapalan umpatan nyaris keluar dari bibir saya jika saya tak melemparkan pandangan ke luar.

Di luar, sejumlah pedagang asongan mendesak masuk. Padahal, bus masih berjalan. Mereka terus menempel di pintu sejak bus yang saya tumpangi itu memasuki terminal. Begitu sopir menekan rem, kondektur membuka pintu depan bus kami. Tanpa perlu komando lebih lanjut, para pedagang asongan mulai memasuki bus.

Sekonyong-konyong, penghuni pendengaran saya berubah. Semula suara mesin, sekarang suara pedagang asongan. Ada yang sudah biasa, asing, aneh, juga lucu.

“Yang air, yang air, yang air; Aqua, Aqua, Aquaa. Mijon, Mijon, Mijon.”

“Gorengan tahu yang anget, yang anget, yang anget. Sewuan, sewuan, sewuan. Rongewu, rongewu, telungewu….”

“Salak, jeruk, nanas, gado-gado, nasi rames.”

“Popmie, popmie, popmie, miepop, miepop, miepop… kopi…”

Sebenarnya, suara-suara itu biasa. Sangat biasa, malah. Tapi, ketimbang kesal sendiri, saya memilih meningkatkan pendengaran saya.

Suara mereka saling meningkahi. Namun, nada mereka terdengar netral; tak ada dendam, pula tak ada kecemburuan yang tampak bila ada salah seorang penumpang memilih salahsatu pedagang yang mengasong barang yang sama. Padahal, jikalau tak salah, jumlah pedagang asongan air saja ada tiga orang. Belum lagi tukang tahu dan buah-buahan semacam mangga atau nangka yang dibungkus seharga dua ribu rupiah.

Di depan saya berdiri seorang lelaki setengah baya. Wajahnya tirus, tubuhnya mendekati kurus. Ia menjual air minum kemasan. Ia membawa jualannya di dalam ember hitam sedang. Jika ditimbang, mungkin berat total beban ember itu sekira 4-5 kg. Tadi, ketika naik ke bus, ia agak kerepotan mengangkut embernya. Hampir semua otot di tangan dan lehernya keluar. Mengejang. Setelah meletakkan embernya di lantai bus pinggir jok sopir semua ototnya bisa bersembunyi kembali di bawah kulitnya yang terselar matahari itu.

Dada dan bahunya turun-naik. Napasnya berlarat-larat. Urat lehernya timbul-tenggelam. Tak lama kemudian, tangannya mengelap peluh yang meleler di wajah dan lehernya dengan handuk kecil. Lalu, ia mengibas-ibaskan handuk kecil itu ke seluruh badan: mengusir peluh yang menguyupi badannya, meski mereka tetap bandel menempel di sana.

Tangannya cekatan mengambil tiga botol air kemasan di dalam ember; pandangannya menyapu seluruh bus, dari depan hingga belakang. Lalu, ia mulai bergerilya. Tenggorokannya seakan tanpa lelah mengeluarkan suara yang itu-itu saja.

“Yang air, yang air, yang air, aqua, aqua, aqua, mijon, mijon”

Melihatnya membawa dagangan yang tentu tidak ringan itu saya merasa aneh. Padahal, bisa saja ia menyimpan ember dagangannya itu di luar dan membawa barang satu atau tiga botol air kemasan, seperti yang dilakukan dua pemuda tadi. Kan praktis, tidak mesti mengangkut embernya yang berat itu. Tapi, saya segera melihat kecelaan pikiran saya itu: air kemasan yang ia dagangkan lebih dingin. Lebih segar. Dalam ember yang ia bawa itu ada batu es. Berat memang, tapi dengan demikian ia memiliki nilai lebih ketimbang pedagang air minuman kemasan lainnya.

Selang dua menit, naiklah seorang ibu berusia sekitar 50-an. Ia membawa tampah penuh gorengan. Wajahnya yang basah itu penuh kerutan. Tapi, bibirnya tak sungkan menjajakan barang dagangannya. Sejak memasuki bus, pandangannya celingukan ke mana-mana. Matanya menyipit, dengan nafas satu-dua, kedua bibirnya menyatu dan memanjang. Dengan kecermatan sendiri, ia sudah bisa mengira penumpang mana saja yang kelaparan atau membeli dagangannya. Pria di sebelah kiri bangku saya ada yang membeli. Dan, ketika gorengannya dibeli, bahkan walau hanya Rp. 2000,00-, suaranya sangat akrab. Bahunya naik dan otot leher dan wajahnya menghapus kerutannya dalam seketika. Dengan mengucap syukur alhamdulillah berkali-kali ia mengibas-ibaskan uangnya di atas dagangannya. Tak lupa, ia mendoakan kelancaran rezeki si pembeli. Matanya kian berkirana.

Setelah itu datang para pemuda tanggung yang, rata-rata, menawarkan makanan yang sama. Saya sempat melihat pedagang yang naik bus ini dua kali.

Selesai dengan urusan pengecekan, supir mulai menyalakan mesin. Kondektur menutup pintu depan. Cukup keras. Maklum, kuncinya rusak.

Engko disit, esih ana sing tuku kiyeh,”* teriak salah seorang pedagang asongan tahu di barisan belakang.

Deh, pimen sih?,”** gerutu kondektur sambil membuka kembali pintu depan. Agak kesulitan dia. Sambil meminta maaf dan cengengesan, pedagang asongan itu pun turun. Lalu, entah karena apa, mereka berdua tergelak. Di luar sana, si pedagang asongan bersicepat mencari tempat teduh.

Melihat tingkah mereka berdua, senyum mulai merampok bibir saya kembali. Saya mengelap wajah dengan kedua tangan, dan mengucek mata. Beberapa kali.

Perlahan, bus yang saya tumpangi meninggalkan terminal Tanjung. Tanpa sengaja, pandangan saya menangkap sebuah bus lagi masuk terminal. Dan, para pedagang asongan itu tetap menjalankan peran mereka masing-masing. Sampai dagangan mereka habis, yang entah kapan dagangan mereka bisa habis?

Dan, sembari membuka kembali Misteri Rubaiyat Omar Khayyam, saya berdoa semoga mereka tidak tergiur tetap duduk di dalam bus itu untuk ikut ke belantara Jakarta.

*Nanti dulu, masih ada yang beli

**Waduh, bagaimana sih

Tegal-Jakarta, 2011.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *