Silaturahmi

cerotan dinding , Uncategorized Jan 04, 2013 No Comments

Nabi Muhammad bersabda, silaturahmi dapat memanjangkan usia. Soal itu, memang betul adanya. Buktinya? Kalau pengalaman pribadi saya, ya terkait dengan pekerjaan. Rata-rata pekerjaan yang saya dapatkan justru dari kenalan atau teman. Tentu saja, silaturahmi dalam istilah sehari-hari bisa kita maknai sebagai pertemuan. Mereka menawari beberapa pekerjaan justru karena saya sering bertemu atau bersilaturahmi ke tempat mereka. Begitu memiliki pekerjaan yang bisa saya lakukan, mereka langsung teringat saya. Bukankah dengan melakukan pekerjaan itu berarti saya dapat rezeki untuk terus mempertahankan hidup?

Tentu saja, silaturahmi bukan hanya itu. Ada lagi, yaitu merekatkan perasaan sesama. Sebenarnya ini juga penting. Ketika teman atau saudara kita terkena musibah, kita merasa sedih dan harus menengoknya; ketika mendapatkan kebahagiaan, kita juga ikut bahagia.

Namun, karena satu dan lain hal, terkadang kita tak bisa bersilaturahmi ke tempat saudara atau teman dekat. Bisa jadi karena faktor geografis atau kesempatan. Untuk soal geografis memang bisa ditembus dengan telekomunikasi yang murah; saling menelpon atau berkirim pesan pendek. Namun, soal kesempatan tak bisa diganggu gugat. Bila memang tak sempat, ya apa boleh bikin?

Nah, karena soal kesempatan dan jarak itulah ketika saudara saya mengajak saya dan keluarga untuk bersilaturahmi ke tempat pamannya, kami selalu tak bisa. Akibatnya cukup fatal memang. Istri dan anak saya tak mengenal saudara sendiri.

***

Ketika memutuskan membeli Blackbery sekitar satu setengah tahun lalu, saya mewanti-wanti istri saya untuk menggunakannya dengan baik. Sayang sekali pulsa Rp100.000 bila tak digunakan secara produktif. Maka, saya menyarankan menggunakan BB untuk bisnis. Setelah belajar sendiri dan tanya sana-sini, akhirnya bisnis istri saya melalui BB lancar. Memang, belum maksimal betul. Namun, melihat perkembangannya saya senang. Ia bisa membeli baju dan perlengkapan buat Aya dari keuntungan bisnisnya, beberapa kali keuntungannya itu menyelamatkan dapur kami.

Setelah tinggal di Tegal selama 6 bulan lebih, Aya dan bundanya akhirnya kembali ke Pamulang. Saya menjemput mereka pada pertengahan November 2012. Melihat perkembangan Aya yang takut bertemu orang baru, kami berinisiatif sering-sering membawanya ke tempat-tempat ramai. Lalu, kami ingat bahwa setiap minggu pagi ada olahraga pagi di kampus pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. kami lalu bersepakat membawa Aya ke sana, sembari berolahraga.

Ketika ke sana, ternyata ramai sekali. Motor kami sempat terhambat macet. Selain orang yang berolahraga, di kiri kanan kampus sekarang ini dipenuhi para pedagang. Sekarang ada pasar kaget. Ketika saya masih kuliah (saya lulus 2010), jumlah pedagang tak sebanyak sekarang. Kini jalan menuju kampus hampir selalu macet bila minggu pagi.

Naluri bisnis istri saya langsung menyala. “Ini peluang,” katanya. Lalu, ia mengusulkan untuk berjualan di sana. Saya mempersilakan, bila memang Aya mau ditinggal bersama saya.

“Jual apa?”

“Ya, jual kerudung.”

Toh, bisnis kerudung onlinenya jalan. Beberapa waktu kemudian, kami mendapatkan kesempatan berbisnis liwet instan. Itu nasi liwet beras unggulan Garut. Kami berniat menjual nasi liwet itu di sekitar kampus pascasarjana. Kami memesan satu karton. Satu karton berisi 40 nasi liwet instan. Namun, sehari sebelum kami pasarkan, Sabtu tepatnya, ternyata stok kami sudah habis duluan. Ya sudah, akhirnya kami memutuskan berjualan setelah ada stok lagi. Meski tak jadi jualan nasi liwet, istri saya lalu ngubek-ngubek pasar kaget itu untuk membeli barang dagangan: kerudung. Sembari berjalan-jalan, ada seorang ibu-ibu pedagang kerudung yang gemas melihat Aya mengenakan turban. Ibu itu lalu memotret Aya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya istri saya berkenalan dengan ibu pedagang tadi, dan namanya hampir mirip: Tika. Istri saya bernama Atik. Mirip, bukan? Setelah itu, istri saya meminta nomor pin BB-Nya. Kebetulan Bu Tika berjualan online juga.

“Ia punya banyak stok di rumah,” katanya. Bila ada waktu, istri saya diperbolehkan main untuk melihat-lihat stok dagangannya. Lalu, diputuskanlah bahwa hari Rabu berikutnya istri saya akan berkunjung ke rumah Bu Tika.

Dan, pada Rabu itu istri saya meminta saya mengantarkannya. Saya sedang menyunting ketika itu.

“Duh, lagi deadline.” Saya mengajukan usulan untuk berangkat berdua, menggunakan angkutan umum.

“Coba saja tanya rutenya. Nanti bilang saja ke tukang ojek minta diantar ke rute itu.”

Ia cemberut, namun akhirnya memahami posisi saya. Toh, pekerjaan ini harus segera kelar. Namun, di tengah mengerjakan naskah itu, mood saya tiba-tiba berkurang. Saya pun bercanda dengan Aya, dan iseng-iseng membaca BBM rute menuju ibu tadi.

Ia menyebut Asia-Afrika di Kampung Sawah. Oh, God!

Saya lihat nama profil di BBM itu: Tika. Saya teringat sesuatu. Waduh, jangan-jangan. Jangan-jangan. Saya dag-dig dug.

Lalu, saya ambil alih percakapan di BBM itu.

“Dari kampus Asia-Afrika lalu ke mana?”

“Dari situ ke kiri, rumah nomor 3.”

“Suami saya juga punya saudara di situ. Jangan-jangan kenal?” (saya pakai nada istri saya, biar tak janggal.)

“Siapa namanya?”

“Pak……. Dari Garut.”

Lama tak berbalas, beberapa menit kemudian, “Ting!”

“Oh, dia suami saya.”

Plak!!!

Ternyata, betul insting saya. Ia saudara saya. Istri saya tak kenal dengannya karena memang belum pernah bertemu. Saat kami nikah, saudara saya itu tak sempat datang.

Ya, jodoh memang tak ke mana. Itu keyakinan saya, dan saya kabarkan keyakinan saya itu ke saudara saya. Saya ceritakan pula pertemuan istri saya dengan Bi Tika (Ya, saya memanggilnya Bi Tika).

Saudara saja menjawab dengan enteng,” Alah, akibat jarang diajak main.”

Di satu sisi, saya merasa tertohok. Namun, faktanya memang betul. Istri saya jarang saya ajak main ke saudara-saudara di Jakarta. Ia dan Aya lebih sering tinggal di kampung. Tapi, tak apa. Toh, memang ini jalannya. Dan, pertemuan ini pada akhirnya memperpanjang usia kami. Rasa persaudaraan kami lebih erat. Soal bisnis, itu nomor enam (1-5 Pancasila).

Memang betul sabda Nabi. Silaturahmi memperpanjang usia.

 

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *