Surat Bersampul Merah Muda

hikayat , Uncategorized Jan 10, 2013 No Comments

love letter1

Bel istirahat itu mengakhiri penderitaanku. Hatiku serupa Merapi siap meletus; Tembok Besar Cina menjulang gagah di depan otakku. Akibatnya: aku tak bisa menangkap materi yang sedari pagi diterangkan Pak Guru.

”Ini pasti bertalian dengan surat bersampul merah muda yang kini kugenggam,” pikirku. Ah! Bagaimanapun, bisul itu mesti pecah hari ini juga. Kuedarkan pandanganku. Hanya tiga orang dalam kelas. Salah satunya, orang yang kumaksud. Sadar bahwa kelas aman, kupejamkan mataku sembari mengumpulkan nyaliku. Agar aman, kuselipkan surat bersampul merah muda itu ke dalam buku PPKN. Belum lagi sempurna aku berdiri, sebuah suara memanggilku:

“Hen, mana kamus yang kamu janjikan?”

Itu suaranya. Ia tersenyum. Suara dan senyumnya meruntuhkan bangunan nyaliku yang memang rapuh. “Oh, ya, ya. Sa… saya bawa. Saya bawa. Hampir lupa. Mau sekarang?”

“Oh nggak. Tahun depan,” ia merajuk.

“Ya sudah, berarti tahun depan. Padahal saya sudah bawa,” entah bodoh atau gugup aku mengiyakan saja jawabannya yang sebenarnya hanya bercanda.

“Hendi, temanku yang baik. Aku butuhnya SEKARANG!” Wajahnya menggemaskan kala itu.

“Heee… Maaf ya, saya kira kamu butuhnya tahun depan,” jawabku sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

“Eh, kenapa wajahmu tegang, Hen? Tenang saja, pasti kukembalikan,” ungkapnya seraya tersenyum pula. Sial! Aku tak kuasa menahan pengaruh senyumnya yang merembes ke dalam dada.

Terpaksa aku duduk kembali dan mengeluarkan kamus Inggris-Indonesia John M. Echols dari tas. Lalu, kulihat buku PPKN milikku masih tergeletak di meja. Tak ingin raib, kumasukkan buku itu ke dalam tas.

“Emmm… Lis, ini pesananmu. Kamu belum selesai mengerjakan tugas bahasa Inggris itu? Mau kubantu?”

“Terimakasih. Aku tahu kamu jago bahasa Inggris. Tapi, lebih baik kukerjakan sendiri. Sekalian mengukur kemampuan,” alasannya dengan disertai senyum. Renyah.

Terus terang, sikapnya ini yang membuatku kian menyukainya: mandiri. Selain senyum manisnya, tentu. ”Untung dia menolakku. Jika tidak, mungkin aku kaku di hadapannya karena gugup,” batinku.

”Anak-anak, buka buku PPKN kalian,” ungkap Pak Guru di depan kelas, setengah jam kemudian. Saat membuka buku, tak alang kepalang kagetlah aku: surat bersampul merah muda itu belum aku serahkan.

Ampun! Hanya karena senyumnya aku terlupa segala. Tapi, ada baiknya. Nanti di rumah akan kuperiksa lagi surat itu. Aku ingin saat membacanya, ia dihinggapi sejenis keindahan yang termuat dalam sajak-sajak para penyair. Dengan begitu, tanpa berlama-lama ia pasti mau menjadi kekasihku.

Hari ini bukan hari pertama aku menulis surat, sesungguhnya. Genap dua pekan aku berbuat seperti ini; dua pekan aku mendadak menjadi penyair; dua pekan pula aku gagal mengirimkannya. Ada segudang penghalang kenapa aku gagal: tidak ada waktu; pernah ia izin dua hari karena saudaranya menikah; terlalu banyak teman yang tinggal di kelas; ada kala nyaliku ciut, seperti hari ini (sebenarnya, inilah penghalang utama).

Biasanya, aku merevisi surat-surat gagal itu lepas makan siang. Semuanya aku kumpulkan dalam sebuah kardus yang kutaruh di bawah kasur. Tak semua surat itu sempurna. Ada puluhan kertas yang hanya berisi satu-dua baris kalimat.

Untuk melancarkan merangkai kata kubaca kumpulan puisi Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang. Setiap hari kubolak-balik buku itu. Bukan apa, tapi cuma buku puisi itu yang ada.

Selama dua pekan ini aku sering berkhayal berduaan dengannya, entah di rumah atau di sekolah. Apakah ini yang namanya cinta? Tak beraroma dan berbentuk, tapi terasa sangat.

***

Semua ini bermula sejak dua bulan silam: hari pertama aku masuk kelas 3 SMP di kotaku, Garut. Kebetulan, tahun ajaran 1997-1998 baru dimulai dua minggu lalu. Aku pindah dari sekolahku di Jogja karena ayah pindah tugas ke kota asalnya.

Ternyata, hari itu bukan cuma aku siswa baru, ada satu lagi. Siswi tepatnya. Tingginya hampir sama denganku. Perawakannya sedang. Kulitnya langsat dan hidungnya bangir. Wajahnya bersih dan kental dengan nuansa perempuan Pasundan. Perkenalanku dengannya sebenarnya terhitung datar.

Namun, karena merasa satu nasib kami sering berbincang dan akrab satu sama lain. Sialnya, pepatah Jawa yang semula kucibir, terpaksa kuamini: witing tresno jalaran soko kulino.*

Hari-hari pertama sekolah, ia sudah menampakkan kecerdasannya dalam ilmu hitung;  sedang aku terlanjur mengobral kata jago bahasa Inggris, hasil kursusku di Kota Pelajar itu.

Tak lama kemudian, aku terpilih menjadi ketua kelas. Sebagai ketua kelas, aku harus memimpin teman-teman berdoa pada pembukaan belajar dan sebelum pulang. Setelah kurasakan semacam ”aliran” saat memandang Lilis, aku memimpin kelas dengan menggunakan bahasa Inggris. Ini demi mendapat perhatiannya belaka. Teman dan guru memuji atas kemampuanku mengggunakan bahasa asing itu. Kebangganku menanjak tajam karena senyum seorang siswi: Lilis.

***

“Segalanya mesti berujung, Saudaraku,” ungkap kakak sepupuku suatu minggu sore. Ia kuliah di Jakarta dan hanya pulang sesekali. Aku menceritakan kisahku kepadanya, karena kuanggap ia bisa memberikan jalan keluar untukku.

“Sampai kapan kamu akan seperti ini? Lebih baik, pecahkan sekalian bisul itu.” Darinya aku menggunakan istilah bisul untuk penyakitku ini.

Membaca gestur tubuhku, ia memberi petuah lebih lanjut: “Jika tak berani bicara langsung, pakai surat. Gampang dan romantis kelihatannya.” Lalu, ia meminjamiku buku puisi Chairil Anwar.      

Demikianlah, dan sore itu pula aku membeli satu bundel kertas surat. Karena belum terbiasa merangkai kata dengan baik, dengan terbata-bata aku menulis surat. Ini pengalaman pertamaku. Di akhir surat kugambar hati berwarna merah muda. Berbunga aku karena surat ini.

Lalu kulipat dan kuberi sampul berwarna merah muda. Menggenggamnya khayalku berlari ke pukul sepuluh esok siang. Di sana tergambar jelas raut Lilis yang merona setelah mengucapkan “iya”. Tak lupa senyumnya yang manis.

Dalam keadaan begini, rasanya ingin kutangkap semua makna sajak dalam Aku Ini Binatang Jalang. Kubolak-balik buku itu. Mabuk aku dibuatnya; akan kulabrak segala risiko dari perjuanganku, esok.

Namun, sebelum itu harus kuperiksa kembali persediaan ”amunisi” yang kumiliki. Pandanganku jatuh ke surat yang kini berada di sebelah kanan meja belajarku. Kuraih dan kubuka dan kubaca kembali.

Lucu. Itu kesanku setelah membaca kembali suratku. Bagaimana mungkin seorang gadis akan terpikat jika kata-kata di dalamnya hanya menimbulkan kening berkerut. Terlalu berputar-putar. Tak dibuang ke tempat sampah merupakan rahmat tertinggi untuk surat ini.

Ngeri aku membayangkannya. Demi memupus bayangan itu kuganti dan kuubah total isi surat itu. Begitu sampai kurasa sempurna. Ternyata lembar per lembar kertas tak mampu menayangkan bahasa yang kumaksud. Dan tanpa kunyana sampai akhirnya kertas terakhir dari bundel kertas surat yang tadi sore kubeli. Kulirik jam: 01:25.

Tapi, apa lacur. Di kertas itu pun kata-kataku masih norak. Kuakhiri malam itu dengan setumpuk surat gagal dan Lilis kujadikan sebagai kembang tidur.

Malam berikutnya, lebih buruk. Aku tak mampu merampungkan tiga paragraf pun dalam sebuah surat; juga kuhabiskan satu bundel kertas surat dalam satu malam. Soalnya, tak ada satu surat pun yang kunilai sempurna. Semuanya memprihatinkan. Sajak-sajak yang kurangkai dalam setiap surat itu selalu serupa adonan mentah; tak menarik. Ada kalanya aku berhasil membuat surat, tapi selalu ada alasan yang membuatku gagal memberikannya.

Begitulah, Kawan. Dan ini telah berjalan dua pekan. Kemarin, sebenarnya, segalanya hampir sempurna: suratku tidak terlalu buruk dan kesempatanku longgar sangat. Kukatakan hampir karena mendekati sempurna. Andai saja aku sanggup menahan pengaruh senyumnya yang meresap ke dalam jiwa maka kemarin adalah hari yang sempurna dengan modal surat tidak terlalu buruk.

Semalam, aku merevisi surat tidak terlalu buruk itu hingga pukul 23:45. Kini, nasib surat itu berada di tong sampah. Bukan Lilis yang mencampakkannya. Percayalah. Itu bukan perbuatan dia, melainkan aku sendiri. Karena, setelah ditimbang dengan masak apa susahnya mengucapkan: Aku cinta kamu. Lebih ekonomis.

Dan tahukah, Kawan, apa amunisiku ini hari? Cukup dengan gosok gigi dan mengunyah daun jambu merah serta menebarkan pewangi di tubuhku. Hari ini bisul itu mesti benar-benar pecah, cah. Tak ingin aku diganggu bisikan yang senantiasa menghantui mimpi-mimpiku selama dua pekan ini: Ah, hatiku yang tak mau memberi/ mampus kau dikoyak-koyak sepi/**

*Pepatah Jawa untuk menyatakan bahwa perasaan senang atau cinta akan timbul karena seringnya bertemu.

**Chairil Anwar, Sia-sia, dalam Aku Ini Binatang Jalang.

Ciputat, 2006

PS: Gambar dipinjam dari sini

 

 

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *