Pasar Klithikan Notoharjo, Satu Minggu Pagi

cerotan dinding , Uncategorized Aug 29, 2013 9 Comments

klithikan 5

“Waduh, hape hilang satu,” kata Sugino, 35 tahun. Hape itu barang dagangannya. Seperti tak percaya dengan kesimpulannya sendiri, Sugino mengobrak-abrik kardus-kardus wadah hapenya. Tapi nihil.

“Mungkin tadi pas ada serombongan orang lihat-lihat,” kata Slamet, 20 tahun, temannya.

“Kayaknya sih, iya. Ya wislah. Risiko,” kata Sugino. Ia menarik nafas panjang. Matanya lalu menerobos lalu lalang manusia di sekitarnya.

Melihat kerumunan orang pada Minggu pagi di Pasar Kltihikan Notoharjo, Solo itu wajar bila kehilangan sesuatu jika tak dijaga dengan baik. Bukan satu atau puluhan orang, melainkan ribuan orang memadati pasar itu sejak pukul 05:00. Bahkan, untuk sekadar lewat saja kadang susah. Tentu saja, yang datang ke sana bukan hanya yang ingin membeli barang, ada juga yang sekadar lihat-lihat atau jalan-jalan pagi; satu-dua berniat jahil dengan mencuri. Meski menyadari kehilangan barang dagangan sebagai risiko, toh ia tampak menyesal juga. Dengan agak terpaksa ia menarik bibirnya untuk tersenyum, alisnya seperti hendak bertemu; senyum itu kecut.

Sugino salah satu pedagang hape bekas di Pasar Klithikan Notoharjo. Sehari-hari ia berdagang di lantai dua, tapi bukan pemilik kios. Karena tak memiliki modal, ia hanya menggelar dagangannya di atas tikar di lantai dua itu. Ongkos yang ia keluarkan terhitung seuprit: membayar retribusi Rp 3.000 per hari dan parkir Rp 1.000. Bila tak berjualan, ia tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Khusus Sabtu-Minggu, ia berjualan sejak pukul 05:00-09:00 di area dekat pintu masuk pasar.

Tak semua pemilik kios berdagang pada pagi Sabtu dan Minggu. Sebagian besar yang berjualan adalah pedagang dadakan. Mereka menjajakan beragam macam barang, mulai dari hape bekas sampai celana dalam bekas. Onderdil motor, mobil, kipas angin, sampai onderdil pesawat televisi. Semua tumpah ruah dan berjualan saling beriringan. Setelah pukul 09:00, giliran para pemilik kios membuka kios mereka.

Bekas pelacuran

Pasar Klithikan dibangun di daerah yang dulu dikenal sebagai area pelacuran, Silir. Hanya hidup pada malam hari. Pada 1998 Walikota Imam Sutopo menutup area itu. Tapi, penutupan tersebut tak menutup praktik pergonglian. Sampai kemudian Jokowi membangun pasar tradisional di sana pada 2006. Karena itulah, menurut Bibit Santoso, 40 tahun, sebagian pedagang meminta nama pasar itu Klithikan Notoharjo, bukan Klithikan Silir meskipun sebagian wilayahnya masuk desa Silir.

Para pemilik kios di Pasar Klithikan itu merupakan bekas pedagang kaki lima di sekitar Taman Banjarsari. Cerita proses pemindahan pedagang kaki lima Taman Banjarsari ke Pasar Klithikan sudah tak asing lagi. Jokowi sering menceritakannya di berbagai kesempatan dan dimuat berbagai media. Namun, menurut Bibit, Jokowi berbohong. Jokowi tak mengajak makan para pedagang sebanyak 56 kali sebagaimana ia gembor-gemborkan ke mana-mana.

Kok bisa?

“Lebih dari itu,” kata ketua Paguyuban Ikatan Alat Motor Manunggal itu. “Saya sendiri gak tahu jumlah pastinya. Mungkin, yang ia maksud 56 kali itu makan di Graha Sabha, tapi kalau makan bersama di angkringan itu tak terhitung.”

Makan-makan di angkringan itulah yang membuat segalanya menjadi lancar karena suasananya sangat santai. Cair. Jokowi sedang sok merakyat?

Bibit cerita, ketika teman-temannya sesama pedagang kaki lima meminta makan-makan di restoran Jokowi bilang, “Bisa saja di restoran, tapi belum tentu aku bisa bayar.” Karena Jokowi yang selalu mengeluarkan uang untuk makan-makan, pilihannya tetap di angkringan.

Jokowi tak menggunakan kekuasaannya untuk memaksa. Ia justru membangun komunikasi yang hangat bersama mereka, meski ia mendapatkan cercaan, makian, hujatan selama proses pendekatan itu. Setelah 7 bulan lebih akhirnya ia berhasil merebut “hati” mereka. Bahkan, untuk pindahan para pedagang kaki lima itu menggelar kirab budaya dan mengangkuti sendiri barang dagangan mereka.

Namun, setelah pindah ke Pasar Klithikan Notoharjo bukan berarti masalah selesai. Jokowi mendorong para pedagang itu memiliki mental pedagang modern. Tak hanya berkutat dengan soal untung-rugi jangka pendek, namun harus jangka panjang. Untuk itu ia mengadakan workshop dan pelatihan manajemen kepada para pedagang.

Apakah usaha ini langsung disahuti pedagang? Meskipun mendapatkan uang dan makan enak, rata-rata pedagang emoh ikut pelatihan itu. Mereka menganggap progam itu sebagai buang waktu.

“Buat apa? Wong saya beli barang Rp 10.000, terus saya jual Rp 12.000. Kan saya sudah dapat untung Rp 2000. Itu kan gak usah sekolah, gak perlu pelatihan. Dagang ya begitu saja,” kata Bibit, menyajikan argumen sebelum ia mengikuti pelatihan.

Setelah beberapa kali pelatihan tapi para pedagang malas mengikutinya, Jokowi mendatangi mereka secara pribadi. Ia datangi orang-orang penting di pasar itu, termasuk Bibit. Satu per satu. Bibit cerita, “Jokowi datang ke saya, lalu bilang, ‘Karepmu kuwi opo? Saya sudah mengusahakan ini-itu biar kamu itu maju. Biar kamu gak kalah dengan pasar modern, tapi kamu gak mau. Lha, maumu itu apa?’”

Kaget juga Bibit mendapat pertanyaan itu. Secara pribadi pula. Dengan terpaksa, ia mengikuti pelatihan. Namun, ia akhirnya menyesal. Mengapa ia tak mengikuti pelatihan itu sejak dulu. Setelah mengikuti pelatihan dengan serius, ia justru menangguk banyak pengetahuan. Di antaranya, Bibit berpikir ulang tentang caranya berjualan. Ia mulai melakukan pencatatan, seperti saran dalam pelatihan itu. Pendeknya, ia mulai memodernisasi usahanya. Kini omzetnya naik secara drastis.

“500%!” katanya.

Ia membangun kerja sama dengan mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret yang mampu menggunakan jaringan internet. Kini, pelanggan Bibit tak hanya di Indonesia, tapi juga di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darusalam. Ia pun sudah mendapatkan sertifikat pelatihan yang bisa ia jadikan jaminan untuk mengajukan kredit permodalan. Sertifikat itu bisa dijadikan semacam agunan ke pihak bank.

Marwan, salah seorang pedagang spare part kendaraan, malah mengatakan omzetnya naik 1500%. Buktinya? Bila saat berdagang di Banjarsari ia mengendarai sepeda onthel, ia kini mengendarai Toyota Rush. Ia kini memiliki pembukuan yang rapi; sudah bisa membedakan mana pemasukan, pengeluaran, ongkos biaya produksi, dan sebagainya. Pengetahuan ini tak pernah terbayangkan oleh Bibit dan Marwan ketika mereka masih berjualan di Taman Banjarsari.

Taman Banjarsari pun kini menjadi ruang terbuka hijau. Ia menjadi tempat main anak-anak sekolah untuk sekadar nongkrong, belajar, olahraga, atau pun orang tua yang ingin mengajak anaknya berjalan-jalan. Jokowi menepati janjinya kepada para pedagang dan masyarakat bahwa tempat itu akan dikembalikan ke fungsi awalnya: sebagai taman publik.

Setelah sukses memindahkan pedagang kaki lima Taman Banjarsari, Jokowi mudah memindahkan para pedagang kaki lima lainnya yang berada di beberapa titik di Solo. Sesuai keinginan masyarakat, Jokowi juga merevitalisasi pasar tradisional. Dari sebanyak 38 pasar tradisional yang ada di Solo Jokowi berhasil merevitalisasi 34 dan membangun 7 pasar baru.

Kisah sukses pemindahan pedagang kaki lima Taman Banjarsari menjadi pembicaraan di mana-mana. Majalah Tempo menahbiskan Jokowi sebagai salah satu tokoh Tahun Ini pada 2008 dengan sebutan Wali Kaki Lima. Selama pemerintahannya ia cenderung menolak perizinan pembangunan mal atau pusat perbelanjaan modern lainnya. Bagi Jokowi, para pemodal yang mau membangun mal atau pusat perbelanjaan modern itu hanya mendatangkan uang kecil. Di matanya, para pedagang kaki lima itu juga para pemodal.

Dengan revitalisasi pasar tradisional dan menanamkan mental pedagang modern, di antaranya, Jokowi berhasil meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Surakarta. Bila pada tahun pertama menjabat Jokowi mendapati angka dari retribusi pasar sebesar 7,8 miliar, setelah Jokowi merenovasi dan merevitalisasi pasar PAD dari retribusi pasar naik menjadi 19,2 miliar.

Selain itu, sistem keamanan di pasar-pasar juga rapih. Di Pasar Klitikan, misalnya. Menurut Marwan, pernah ada satu kios yang kehilangan televisi. Karena sistem keamanan yang bagus, malingnya tertangkap dan televisi itu kembali.

Keuntungan tak hanya menyambangi Bibit dan Marwan yang punya kios, tapi juga para pedagang dadakan seperti Sugino. Ia tak berani mengambil kios. Selain tak ada modal juga tak berani mengambil risiko bila dagangannya kelak tak laku. Dengan modal yang sedikit itu Sugino mendapatkan untung sekitar Rp 100.000 per hari. Baginya, jumlah ini besar. Sugino baru berdagang 8 bulan di Pasar Klithikan.

Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh pabrik. Selama 12 tahun bekerja di pabrik, ia selalu kekurangan uang. Gajinya tak pernah mencukupi kehidupan keluarganya; ia sudah menikah dan memiliki satu anak sekitar 5 tahun. Gaji dari pabrik hanya bisa menyambung hidup sekitar 2-3 minggu. Setiap bulan ia pasti mencari pinjaman sampai waktu gajian tiba. Prinsip gali lubang tutup lubang ia jalani. Namun setelah berdagang di Klithikan Notoharjo, ia tak perlu lagi harus pusing setiap bulan untuk mencari pinjaman. Bahkan, semua utangnya sudah lunas.

Sebelum mengakhiri jualannya, ada seorang pembeli yang datang. Melihat-lihat barang, lalu menawar. Dengan lagak jual-mahal, Sugino mengembangkan senyum kepada pembeli tersebut sambil memasukkan barang dagangannya ke tas. Anak lanangnya gelendotan di punggungnya meminta ini-itu. Sugino hanya mesem-mesem sambil menjanjikan segera pulang.

Pukul 9 pagi itu pasar pagi berakhir. Satu-dua kios mulai terbuka. Para pedagang dadakan mengemasi barang dagangan mereka.

Dari ufuk timur mentari mengirimkan semburat cahayanya yang hangat ke seantero pasar Klithikan; tak membedakan orang, baik itu tukang parkir, pembeli, pedagang dadakan, pemilik kios, maupun pencuri yang saat itu mungkin berpikir akan dijual ke mana barang curiannya.

PS: Ini tukilan dari tulisan yang lebih panjang. Untuk melihat foto-foto lain, bisa buka ini.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

9 Comments

  1. Selalu suka dengan tulisan2nya mas Husnil.

    Foto yang dipake ilustrasi apik je.

    • emhusnil

      Suwun, mbake, atas apresiasi jenengan. Mugo-mugo bisa terus menulis dan motret sekaligus. 🙂

    • emhusnil

      Siap, Bung. Sila bagikan ke khalayak luas. 🙂

  2. ade armando

    Tulisan bagus. Membuat saya semakin yakin Jokowi memang pilihan terbaik. (BUkan Anies . . .hehehehe)

    • emhusnil

      Hahahaha… Dalam hal ini, kita beda pilihan, Bang Ade… 🙂

  3. Pingback: Pelayan Rakyat | Muhammad Husnil

  4. Fajarsf

    Ada yang tau toko computer paling murah di klitikan kira kira lantai berapa ?

    • emhusnil

      Wah, maaf, saya kurang tahu, Mas Fajar. Mungkin lebih baik langsung datang saja ke pasar Klithikan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *