Awad Rasyid Baswedan: Kisah Ayah, Anak, dan Ihwal Pendidikan

cerotan dinding , Uncategorized Sep 19, 2013 No Comments
Anies Rasyid Baswedan

Anies Rasyid Baswedan

1937, Semarang.

Sore itu, Rasyid kecil berada di ruang tamu. Ibunya, Syekhun, kedatangan tamu seorang teman yang membawa anak yang berusia sedikit tua dari Rasyid. Dalam perbincangan, sang tamu menceritakan bahwa anaknya sudah masuk Voorbels. Rasyid hanya menyimak, tak mengerti apa itu Voorbels. “Saat itu, saya pikir Voorbels itu pasar atau rumah makan,” kata Rasyid.

Voorbels adalah jenjang pertama pendidikan yang diselenggarakan pemerintahan Hindia Belanda. Ia setingkat taman kanak-kanak. Siswa bisa diperkenankan masuk Voorbels bila telah memasuki usia empat tahun. Ketika tahu, Rasyid minta kepada ayahnya untuk didaftarkan ke Voorbels. AR, ayahnya, cuma bilang: “Kamu belum cukup umur.”

Rasyid enggan mengalah. Mendengar jawaban itu, ia tak surut. Maka, keesokan harinya ia mencari sendiri gedung Voorbels. Setelah bertanya ke beberapa orang di jalan, dan menempuh perjalanan sekira dua kilometer, ia menemukan sebuah gedung besar bercat putih dan berpagar tinggi.

Suasananya sepi. Pintu gerbang terkunci. Dan tak ada satu pun anak menampakkan batang hidung. Rasyid hanya bisa melongok ke dalam.

Sesaat kemudian lonceng berbunyi. Anak-anak berhamburan untuk menikmati masa istirahat. Rasyid melihat seorang anak yang tempo hari bertandang ke rumahnya. Ia ingin masuk tapi pintu gerbang terkunci. Ia hanya bisa terpaku di depan pintu gerbang. Seorang guru bernama Mr Cameron membukakan pintu gerbang dan mengajaknya masuk ke ruang kelas. Karena kursi terisi semua, Rasyid hanya berdiri dan mengamati aktivitas di kelas; para murid yang asyk dengan mainan lilin-lilinan yang dibagikan guru. Ia bertekad akan membeli sendiri mainan itu.

Begitu pulang, ayahnya bertanya dari mana saja. “Dari sekolah Voorbels, tapi tak dapat tempat duduk,” katanya.

“Ya, karena kamu belum cukup umur,” kata ayahnya.

Rasyid melangkah ke dapur, menemui ibunya yang sedang memasak. Ia menceritakan pengalamannya. Ia juga minta uang untuk membeli mainan lilin-lilinan yang akan ia bawa ke sekolah keesokan harinya.

Begitu pagi datang, ia berjalan kaki menuju Voorbels dengan membawa mainannya. Guru di sana masih membolehkannya masuk kelas tapi tetap tak mendapat kursi. Guru membagikan mainan, bukan lilin-lilinan tapi membangun miniatur rumah dari kayu. Rasyid urung ikut bermain bersama. Mainan yang dibawanya menganggur. Ia lebih memperhatikan tingkah dan polah murid-murid di kelas. Sampai kemudian terdengar seorang anak menangis karena rumah-rumahannya ambruk berantakan. Anak itu lantas diambil pembantunya dan langsung pulang.

Melihat bangku kosong, Rasyid tak tinggal diam. Ia langsung duduk dan mulai menyusun rumah-rumahan di hadapannya. Setelah melakukan beberapa kali percobaan, ia berhasil membangunnya dengan baik. Seorang guru memerhatikannya. Sepulang sekolah, Rasyid dipanggil ke ruangan guru dan diminta mengajak ayahnya ke sekolah esok hari.

“Tidak mau,” kata Rasyid, sengit.

“Besok ayah suruh ke sekolah, ya,” kata guru itu lagi.

“Tidak mau. Masa ayah saya suruh sekolah sama anak-anak kecil, dia bisa malu. Tidak mau. Kasihan dia.”

Guru itu meminta Rasyid agar ayahnya mengurus administrasi sekolah. Dasar bocah, ia bersikukuh tak mau mengajak ayahnya ke sekolah. Setali tiga uang, AR membiarkan anaknya bersekolah.

35 tahun kemudian, 1972 di Yogyakarta, peristiwa Rasyid kecil itu terjadi lagi. Anaknya, Anies, memaksa ingin bersekolah, padahal usianya belum lagi genap tiga tahun. Rasyid membiarkannya dan malah mendukungnya.

Dan, 40 tahun kemudian, Rasyid menuai benih pendidikan yang ia tanamkan kepada anaknya. Pada pagi 16 November 2012 itu ia menjadi salah satu pendengar dari kuliah umum yang anaknya bawakan di masjid Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Di usia 78, pandangannya sudah mengabur. Dengan mengurut keningnya, ia seakan ingin mempertajam pandangannya ke arah anaknya. Anaknya tengah mendedahkan data-data ihwal perjalanan kebudayaan dunia dan bagaimana agar Asia, terutama Indonesia, bisa memainkan peran penting dalam jalur sejarah peradaban kelak. Ia mengajukan salah satu jawaban: pendidikan dan penanaman sikap optimisme generasi muda.

Sesekali ia melihat ke arah ayahnya, dan ayahnya menyampaikan seulas senyum kepadanya.

Image

Awad Rasyid Baswedan

Nama lengkap Rasyid adalah Awad Rasyid Baswedan, mantan Pembantu Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) dan Anies Rasyid Baswedan atau biasa dikenal Anies Baswedan adalah anak sulungnya, rektor Universitas Paramadina dan juga penggagas Gerakan Indonesia Mengajar.

Pada Jumat (13/09/13) dini hari, Abah Rasyid meninggal dunia. Terima kasih atas cerita-ceritamu, Abah Rasyid. Insya Allah, semua kebaikan dan ketulusanmu menjadi sumur yang senantiasa mengalirkan pahala untukmu. Salam hangat dari keluarga kami. Sarung pemberianmu masih sering kami kenakan untuk shalat.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *