Ketika Abah Kyai Menawarkan Kehormatan

cerotan dinding , Uncategorized Nov 25, 2013 No Comments

Abah MasrurYazid al-ilmu bi al-infak; Yanqushu al-ilmu bi al-imsak

Bertambahnya ilmu karena menyebarkannya; berkurangnya ilmu karena menyembunyikannya

(Almaghfurlah K.H. Mochamad Masruri Abdul Mughni)

 

Tak terasa, setahun sudah Abah Kyai Mochammad Masruri Abdul Mughni meninggalkan santri dan jamaahnya. Pada Kamis, 15 November 2012 ini Pondok Pesantren Al-Hikmah mengadakan haul pertamanya. Siapa pun yang mengenalnya tentu sulit menghilangkan bayangan senyum dan tutur katanya yang lembut namun sarat pengetahuan itu. Begitu banyak ajaran dan sikapnya yang menjadi inspirasi para santri atau siapa pun yang mengenalnya. Namun, warisan yang paling menonjol adalah dorongannya kepada para santrinya untuk mengajar.

Setelah lama tak bertemu santrinya, pertanyaan pertama yang keluar darinya bukan tentang kesehatan tapi, “Kamu mengajar di mana?” Bagi sebagian orang, pertanyaan ini mungkin sepele. Tapi, ibarat saripati, pertanyaan itu merupakan saripati kehidupan seorang Abah Kyai.

Pertanyaan itu menunjukkan betapa beliau tak menomorsatukan kesuksesan materi santrinya, ia justru mendorong santrinya untuk pertama-tama melakukan perubahan sosial dengan melakukan sesuatu yang paling mungkin dan paling dekat: mengajar.

Pertanyaan itu seperti mengembalikan si santri ke masa-masa belajar di pesantren. Bila saat di pesantren mengaji dengan serius tentu soal mengajar ini bukan perkara sulit, kecuali memang ia dihinggapi penyakit yang sudah sangat tuanya dengan manusia: malas. Bila belajar dengan serius, ia sudah memiliki pengetahuan dasar dan cukup yang bisa ia bagi ke orang lain. Dengan bahasa yang tersembunyi ini, Abah Kyai menyadarkan santrinya untuk belajar dengan benar. Tentu tak ada kata terlambat dalam belajar. Jika saat mengaji di pesantren tak sempat serius, toh setelah lulus kesempatan untuk terus belajar selalu terbuka lebar. Tapi bukankah lebih baik memaksimalkan kesempatan untuk belajar agama secara serius di pesantren ketimbang setelah di luar? Menurutnya, bahaya paling besar bukanlah kekeliruan yang dibuat orang bodoh, melainkan oleh orang yang setengah tahu dan berpandangan bahwa ia tahu segalanya.    

Beberapa kali Abah Kyai menegaskan bahwa dalam mengaji yang penting itu istikamah. Konsisten. Walaupun sedikit, jika istikamah tentu akan menghasilkan banyak pengetahuan baru. Ini bukan prinsip yang ia ambil di buku, tapi dari pengalaman hidupnya. Lebih dari itu, Abah Kyai hidup dengan prinsip ini.

Melihat pendidikan formalnya yang terakhir, ia hanya tamatan Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Ia tak sempat mengaji ke Kairo, Mekkah, atau Madinah, ketiga tempat pusat ilmu pengetahuan Islam. Berdasarkan ceritanya, ia hanya mengulang-ulang apa yang sudah ia pelajari di pesantren kepada santri-santrinya. Dengan mengajarkan apa yang sudah ia miliki, ia menjadi lebih paham isi sebuah kitab. Dan ia dituntut untuk mengembangkan materinya dengan mencari berbagai ilustrasi dalam hidup sehari-hari demi memudahkan pemahaman. Berkat pengetahuan nahwu-sharaf, fikih, hadis, dan pengetahuan agama lainnya yang kuat ia kemudian mempelajari berbagai kitab yang tak pernah ia kaji di Tambak Beras dulu. Pengetahuannya bertambah pesat. Dan, kita ketahui bersama, rumah dan kamarnya dipenuhi kitab karya ulama klasik dan kontemporer. Abah Kyai dikenal sebagai seorang ulama yang berwawasan luas. Ia tak pernah berhenti belajar.      

Prinsip ini ia terapkan kepada santri-santrinya yang sudah bisa mengajar. Ia “memaksa” siapa pun yang sudah bisa membaca kitab untuk mengajarkan pengetahuannya. Bahkan, ia siap setiap saat bila ada guru yang memintanya mengajari materi yang belum guru itu kuasai. Semacam konsultasi pribadi, mulai dari cara membaca hingga kepada memahami materi dengan benar. Bila memang belum lancar, ia akan mengajarinya secara khusus sebelum waktunya mengajar. Dan, ia melakukannya bertahun-tahun sampai kemudian orang itu bisa mengajar sendiri dan bisa dilepas. Pintu rumahnya terbuka lebar bagi siapa pun yang ingin belajar.       

Prinsip kehidupan Abah Kyai ini dirangkum dalam salah satu syair anggitannya: yazidul al-ilm bilinfak, yanqushu al-ilm bil imsak (bertambahnya pengetahuan karena menyebarkannya; berkurangnya pengetahuan karena menyembunyikannya). Jadi, ia yakin bila ilmu pengetahuan yang disebarkan justru akan menangguk banyak pengetahuan yang lebih luas. Sebaliknya, ketika disembunyikan pengetahuannya justru akan semakin menipis lalu kemudian hilang.   

Abah Kyai memang lembut dan santun, namun dalam soal mengajar ini ia sangat tegas. Bahkan terhadap dirinya sendiri. Meski diamanahi segudang jabatan sosial, seperti Rais Syuriah NU Jawa Tengah, Ketua MUI Brebes, ia selalu menyempatkan untuk mengajar. Ia melawan rasa lelahnya. Para santrinya tak pernah mendengar ia mengeluh kelelahan saat mengajar, bahkan melihat wajahnya yang lelah saja tak pernah. Ia selalu bugar ketika mengajar, seperti mendapatkan energi baru.

Yang paling menarik, beliau tak pernah menolak santri. Siapa pun yang mau belajar, ia terima. “Wong pengen sinau moso ditolak,” katanya ketika ia keberatan dengan adanya tes kepada calon santri. Bahkan, ketika ada santri yang tak bisa membayar biaya sekolah ia rela mengeluarkan uangnya sendiri untuk membayar biaya santrinya. Dan, jumlahnya bukan cuma satu. Ia tak mempersoalkan, apakah santri itu betul-betul tidak mampu atau memang sekadar tak ingin membayar.  

Ia percaya betul bahwa pada dasarnya manusia itu baik, dan karena itu ia selalu berbuat baik. Di antara kitab-kitab yang ia ampu, ada satu kitab yang kerap dijadikan pengajiannya, yaitu Nashaihul Ibad (Kumpulan Nasihat bagi Para Hamba) karangan Imam Nawawi. Kitab klasik itu dibuka dengan hadis-hadis yang sarat nilai kemanusiaan dan kebaikan, yaitu kasih-sayang. Al-rahimun yarhamuhum al-rahman irhamu man fi al-ardhi yarhamukum man fi al-sama (Maha Penyayang akan menyayangi para penyayang. Sayangilah semua makhluk di bumi, niscaya malaikat menyayangimu) H.R. Turmudzi.    

Ia mempraktikkan hadis ini dalam kesehariannya. Selain tak pernah melihat Abah lelah ketika mengajar, hampir bisa dipastikan santri jarang melihat Abah marah. Ia irit marah. Bila marah, itu pun hanya sekilas. Sebentar. Kemarahannya pun sangat wajar dan kita bisa menerima alasannya. Namun, ia tak marah dengan omongan, melainkan dengan tindakan.

Suatu hari Abah berjalan-jalan mengelilingi pondok pesantren. Bila tak ada tamu atau tak mengajar, beliau meluangkan waktu untuk memeriksa pembangunan pesantren atau menengok aktivitas para santri. Begitu melewati satu kamar santri, ia mendengar suara televisi. Begitu masuk, ia mendapati santri sedang menonton televisi. Mengetahui ini, tanpa banyak kalam ia langsung mengambil televisi itu dan membantingnya di depan asrama. Namun, itu bukan tindakan semena-mena. Abah membanting televisi itu karena memang sudah ada aturan yang melarang televisi masuk ke kamar santri; dan itu pengetahuan umum di kalangan santri. Sejak itu, konon, para santri berpikir ulang untuk membawa televisi ke kamar mereka.

Abah tak ingin para santrinya menyia-nyiakan waktu belajar mereka di pesantren. Dengan belajar secara serius, ketika lulus santri itu bisa mengajar. Bagi sebagian orang, mengajar memang tampak sepele.  Namun, sebagaimana diyakini Anies Baswedan, penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, mengajar itu bukan pengabdian; mengajar itu kehormatan. Dan, dengan mengajukan pertanyaan, “mengajar di mana?” Abah Kyai sedang menawarkan kehormatan. Pilihan sekarang ada di tangan para santri dan jamaahnya, maukah mengambil kehormatan itu atau tidak?   

PS: Ini tulisan tahun 2012 dan versi lengkap sebelum dipacak editor Suara Merdeka.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *