Berkah Menjaga Bumi

cerotan dinding , Uncategorized Aug 27, 2016 No Comments

Hendra Kribo (sebelah kanan) bersama rekannya di rumahnya. Sumber foto: http://taniorganik.com

KELOMPOK PETANI PERTAMA DI INDONESIA YANG MENGEKSPOR BERAS ORGANIK.

Bermula dari keinginan bertani sambil menjaga alam, kini para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Sistem Pangan Organik Tasikmalaya (Gapoktan Simpatik) mendapatkan berkah bumi: kemakmuran. Ketika pemerintah Indonesia mengimpor beras, Gapoktan Simpatik justru mengekspor beras. 

Pada 2014 ini mereka memasuki tahun kelima mengekspor beras. Semakin waktu, pasar dan volume mereka pun terus berkembang. Tahun lalu saja mereka mengirim sekitar 240 ton beras ke negara-negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Permintaan terus meningkat; padahal pada 2009 mereka hanya mengirim 18 ton.

Beras yang mereka kirimkan jenis beras khusus, yaitu beras organik. Sebagaimana namanya, para petani yang tergabung dalam Gapoktan Simpatik menggunakan model pertanian organik. Tak sedikit pun mereka menggunakan bahan-bahan kimia.

Selain menghalau hama, bahan kimia dan pestisida juga membunuh mikro organisme seperti cacing dan menurunkan produktivitas tanah. “Padahal, mereka (mikro organisme) itu prajurit para petani organik,” kata Hendra Kribo (51 tahun), salah seorang petani. “Kita itu, selain berhubungan dengan manusia dan Tuhan, juga ada hubungan dengan alam,” katanya. Alam juga makhluk Tuhan. “Makhluk Tuhan itu harusnya berkembang biak, bukan berkembang beak (habis),” katanya.

Karena itulah Hendra menyatakan haram bila ia kembali menggunakan model pertanian lama yang menggunakan bahan kimia dan pestisida. Menurutnya, tak sepantasnya ia membunuh sesama makhluk Tuhan.

Sementara itu, penggunaan pupuk organik justru akan meningkatkan produktivitas tanah. Bahan-bahan organik juga sangat banyak dan terhampar di depan kita, seperti air bekas cucian atau gedebok. “Kalau ada petani organik yang mengatakan tidak ada air bekas cucian beras, tidak ada gedebok, tidak ada bekicot yang bisa diolah, maka ya sudah, mati saja lah,” katanya.

Berbekal Kesadaran 

Meski sudah memiliki keinginan bertani secara organik sejak 1997, toh mereka baru bisa berkumpul dan membentuk Gapoktan Simpatik pada 2002. Terletak di Desa Cisayong, Tasikmalaya Gapoktan Simpatik menjadi wadah dari beberapa kelompok petani organik di lingkungan Tasikmalaya.

Menurut Soni Prayatna, Kepala Bidang Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, Gapoktan Simpatik itu terbentuk, bukan dibentuk. Ketika pertama kali memberikan penyuluhan terhadap petani, ia memberikan kesadaran tentang pentingnya menjaga alam. “Bahwa apa yang dilakukan selama ini oleh petani dalam menjalankan pertanian konvensional telah merusak alam. Jadi, mereka disadarkan terlebih dahulu, bukan mau jualan beras,” katanya. Adapun soal harga bagus di pasar, kata Soni, itu bonus saja. Berkah.

Berkat kesadaran itulah para petani memiliki tekad yang kuat dalam menjalankan pertanian organik. Namun, jalan mereka tak mudah. Pertama sekali adalah mendapatkan kepercayaan dari sesama petani. Pasalnya, bertani secara organik memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi, terutama dalam proses produksi. Yang membedakan antara organik dan bukan terdapat dalam proses. Prosesnya sangat ketat. Setidaknya, ada empat langkah yang harus petani organik jalankan: 1) menyiapkan benih berkualitas, 2) mengolah tanah secara tertib, 3) menggunakan pupuk kompos dan pupuk hijau, 4) merawat sawah secara teratur. “Petani organik itu harus rajin. Menyiang empat kali, penaburan kompos, pupuk pelengkap komposnya,” kata Uu Syaeful Bahri, ketua Gapokta Simpatik. Juga, pertanian organik mensyaratkan adanya pengawas Internal Control System (ICS). Demi menjaga kualitas beras, pengawas ICS senantiasa memantau ke sawah.

Bahkan, Uu Syaeful Bahri sempat dicemooh teman-temannya ketika menerapkan model pertanian organik. Banyak langkah baru yang terasa asing di mata teman-temannya. Misalnya, ketika sawah lainnya digenangi air, sawah miliknya justru tidak. Ia dianggap aneh. Bahkan, ia menjadi tontonan ketika menanam.

Namun, Uu dan petani Gapoktan Simpatik tak lelah berjuang. Dari semula empat orang, Gapoktan Simpatik kini memiliki sekitar 1.700 anggota yang tersebar di tujuh kecamatan di Tasikmalaya. Jika ditotal, sebenarnya anggota mereka pernah mencapai 2.500. Namun mereka terpaksa menjatuhkan sanksi kepada sekitar 800 anggotanya karena tak mematuhi peraturan: menyerahkan hasil panen mereka kurang dari 30% kepada Gapoktan Simpatik. Menurut Uu, hal ini merugikan organisasi. Pasalnya, Gapoktan Simpatik sudah mengeluarkan banyak modal untuk membantu petani, seperti membayar honor pengawas internal yang memantau semua proses pertanian organik. Gapoktan terpaksa menjatuhkan sanksi sebagai cermin atas komitmen mereka menjaga kepercayaan konsumen dan juga menjaga agar anggota lainnya mendapatkan kepastian perlakuan.

Setelah tiada lelah menjalankan proses organik tanpa henti sejak 2002 , mereka mendapatkan peluang besar sejak 2009. Untuk pertama kalinya, pada Agustus 2009 mereka mengekspor beras organik ke Amerika.  Mereka bisa mengekspor berkat bantuan Emily Sutanto dengan PT Bloom Argo-nya.

Emily pertama kali bertemu para petani di Gapoktan Simpatik sekitar 2008. Ia mendapatkan informasi dari mantan Gubernur Jawa Barat, Solihin GP, bahwa ada sekelompok petani organik di daerah Tasikmalaya yang ingin mengekspor beras. Solihin menawarkan, bisakah Emily membantu mereka. Emily semula ragu, benarkah ada beras yang benar-benar organik di Indonesia? Berangkat dari keraguannya, ia lalu mengunjungi Tasikmalaya dan kagum dengan sikap mereka yang bertekad menjaga keharmonisan alam. Di sisi lain, mereka juga masih terjebak dalam arus kemiskinan.

Ia lalu bertekad membantu mereka. Ia mendirikan PT Bloom Argo pada 2009. Ia melatih mereka dan mengusahakan mereka mendapatkan sertifikasi, mulai dari nasional hingga internasional. Pada tahun itu juga Gapoktan Simpatik mendapatkan sertifikasi internasional dari Institute of Marketology (IMO) dari Swiss. Sertifikasi IMO dikenal sebagai jaminan mutu produk ramah lingkungan tingkat dunia. Dengan mengantongi sertifikasi IMO ini mereka bisa mengakses pasar tiga negara yang paling ketat menerapkan standar pangan: Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Selain itu, Gapoktan Simpatik juga telah mendapatkan sertifikat Fair Trade. Berbekal sertifikat-sertifikat itulah mereka makin meluaskan jaringan dalam pasar internasional.

Di bawah merk dagang Sunria, mereka mengekspor beras merah, coklat, putih, dan campuran kelas premium. Menurut Uu, permintaan pasar setiap tahun meningkat. Mereka belum bisa memenuhi permintaan pasar. Pada 2009, mereka hanya bisa mengirim 18 ton, padahal permintaan pasar 90 ton. Pada 2013 kemarin, permintaan pasar meningkat menjadi sekitar 450 ton. Namun, mereka hanya bisa mengirim 240 ton. Mereka belum bisa memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan yang mereka miliki, di antaranya kurangnya mesin pascaproduksi dan mahalnya biaya sertifikasi.

“Biaya sertifikasi itu ratusan juta. Petani dari mana (uangnya),” kata Bukhori, salah seorang petani.

Karena itu Bukhori menyarankan agar pemerintah mempermudah akses bagi petani untuk mendapatkan sertifikasi. “Supaya ada hak paten, supaya ada daya jual di negara-negara luar. Kalau tidak ada hak paten, susah (pasarnya). Jangan sampai ada perusahaan Indonesia, didirikan di Indonesia ternyata diaku-aku orang luar,” katanya.

Meski demikian, satu per satu para petani yang tergabung dalam Gapoktan Simpatik mendapatkan berkah bumi: kemakmuran. Hendra, misalnya, ia sudah memiliki rumah layak huni dan dua kendaraan. Kini, ia juga tak memiliki tanggungan utang sepeser pun kepada tengkulak.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *