Doyo Mendorong Petani Berdaya

cerotan dinding , Uncategorized Aug 27, 2016 No Comments

 

Doyo Mulyo Iskandar. Sumber: PribadiKUNCI KEMAJUAN PERTANIAN TERLETAK PADA KUALITAS PETANI.

Mengantongi ijazah sarjana teknik dari Sekolah Tinggi Teksil (STT),  Bandung, Doyo Mulyo Iskandar (53 tahun) justru mengambil jalan menjadi petani. Menggeluti kehidupan berkubang lumpur. Sadar bahwa kekuatannya akan meningkat bila sesama petani berhimpun, Doyo mengumpulkan empat temannya sesama petani dan mendirikan organisasi. Pada 10 Oktober 1987 mereka sepakat mendirikan Kelompok Tani Mekar Tani Jaya (MTJ). “Kalau tercerai berai, insya Allah, petani Indonesia akan menjadi pengemis, menjadi benalu di di dunia ini. Makanya, saya mengembangkan agar petani ini bangkit, jangan mau dihina, dilecehkan orang,” katanya.

Dengan MTJ Doyo mengubah pemikiran para petani di kampungnya, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Namun, ia mendapatkan tentangan dari sana-sini, tentu saja. Pertama sekali ia mendapatkan perlawanan dari keluarga. Mereka mengeluhkan pilihannya menjadi petani karena ia sarjana, saat sebagian besar masyarakat di sekitarnya masih tertatih-tatih menjejaki tangga pendidikan dasar dan menengah. Tapi, tekadnya telah membatu. Ia meyakini bahwa menjadi petani adalah pilihan hidupnya. Takdirnya. Karena pilihannya, ia kenyang makan cemoohan dan hinaan. Ia menganggap semua reaksi negatif itu sebagai pelecut semangat bahwa pilihannya benar dan mereka keliru.

Berjalan berdasarkan intuisi, Doyo mengakui bahwa ia kerap membawa MTJ tersesat. “Banyak kesasar. Banyak gagal. Jalan menuju kesuksesan panjang, dan ini belum juga sukses,” katanya.

Tapi, yang pasti, semangatnya memajukan petani tak pernah kendor.

Ia mampu mengatasi semua kendala yang datang karena pada dasarnya ia seorang pembelajar sekaligus pengajar. Ia tak pernah malu belajar kepada siapa pun. Jalannya mulai terbuka saat salah seorang temannya belajar mengenai pertanian di Jepang. Sepulang dari Jepang, Doyo mulai belajar dan merintis kepadanya bagaimana mengelola pertanian secara modern.

Melalui bantuan The Australian Agency for International Development (Ausaid), satu lembaga donor dari Australia, pada 2002 ia belajar pengelolaan pertanian modern di Australia selama setengah tahun. Tak hanya di negeri kangguru, ia juga belajar pertanian di beberapa negara, seperti Belanda dan Cina. Semuanya berkat bantuan lembaga swadaya masyarakat internasional. Ia mereguk semua pengetahuan itu, lalu menyebarkannya ketika pulang kampung. Di MTJ ia menerapkan pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana menghasilkan sayur yang menyehatkan dan memiliki daya tawar tinggi. Mereka mengusahakan mendapatkan sertifikasi dari pemerintah maupun luar negeri. Bahkan MTJ, “Satu-satunya dan pertama yang lulus dan memiliki sertifikat sayuran organik di Indonesia,” kata Doyo.

Hasilnya?

“MTJ kini sudah merajai dunia sayur Indonesia,” katanya. Produk pertanian mereka sudah bisa ditemui di pasar-pasar modern di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Bali. Ia juga telah mengekspor ke beberapa negara seperti Taiwan, Jepang, dan Belanda. Meski melalui distributor di Singapura, Doyo mengupayakan agar kardus atau paket produknya mencantumkan keterangan, “Produk Indonesia.”

Alhamdulillah walaupun harga turun sedikit, tulisan ‘Indonesia;-nya ada (di kemasan). Begitu di Hongkong, lihat (kardus sayuran bertuliskan) ‘fresh cabbage product of Indonesia’, saya senang,” katanya.

Mandiri 

Sebagai organisasi petani, Doyo mampu membuat MTJ mandiri. Karena itu ia cenderung menolak setiap bantuan pembangunan fisik yang datang dari pemerintah, baik tingkat kabupaten sampai pusat. Ia jengah dengan praktik korupsi birokrat. “Kalau proses awalnya saja banyak bohong,  hasilnya pasti tidak baik. Kalau awalnya sudah mengelabui diri sendiri, hasilnya juga pasti dibohongi Tuhan. Mending yang lurus-lurus saja tapi berkah,” katanya.

Banyak sekali tawaran dari pemerintah untuk membantu mereka, kata Doyo, seperti pembangunan pipa untuk pengairan. Daripada mendatangkan lebih banyak mudarat buat anggotanya lebih baik ia menampiknya. “Nanti saya harus menandatangani 600 pipa, tapi yang datang 400. Sisanya mau pakai bambu?” katanya. “Menyusahkan!”

Ia hanya menerima bantuan dari pemerintah jika berbentuk peningkatan kualitas petani. Misalnya untuk pelatihan atau workshop mengenai pertanian, barulah MTJ akan mengirim utusan.

Tapi, tanpa  bantuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas petani itu pun hampir setiap dua tahun sekali MTJ mengirimkan, setidaknya, satu orang untuk belajar pertanian di luar negeri.  Uangnya berasal dari iuran antara keluarga dan kelompok. Syaratnya, setelah pulang ia bekerja selama dua tahun di kelompok yang membiayainya belajar di luar negeri. Begitu kelar, ia memiliki pilihan apakah akan mulai membangun pertanian sendiri atau mengambil jalur perdagangan.

Ia menekankan sekali kualitas petani ini. Menurutnya, petani yang berkualitas selalu memiliki jalan untuk mengatasi keterbatasan. Saat ini para petani di Lembang kekurangan lahan. Tanah di sekitar Lembang sudah diserbu orang-orang kota untuk membangun vila. Karena keterbatasan lahan ini MTJ hanya mampu memenuhi 16% dari permintaan pasar.

Mereka menyiasatinya dengan membuka pertanian di halaman atau tanah-tanah sempit yang ada di kampung-kampung mereka. Bahkan, di tanah seluas tiga meter pun mereka tetap bisa menanam. Tapi, Doyo mengakui bahwa dalam hal tanah ini ia tak bisa berbuat banyak kecuali mengubah pola pikir orang-orang di sekitarnya agar tak menjual tanah mereka kepada orang-orang kota.

Demi mempertahankan pertanian di Lembang ia merekrut anak-anak muda untuk tetap bertani. Bertani secara terhormat. “Jika saya tidak bangun, anak muda keluar (daerah), ya tamat (pertanian ini),” katanya.

 

Rumah salah satu petani. Sumber: Muhammad HusnilRumah salah satu petani

Berkat kegigihannya, para pemuda di desa Cibeunying, Lembang, Bandung rela menjadi petani. Dan makmur. “Kita bersyukur, kemiskinan di desa ini terentaskan,” katanya. Kampungnya yang saat ia kecil selalu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah karena saking miskin dan terbelakangnya kini menjadi desa paling maju di Lembang dan hampir semua anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Tapi, ia merasa perjuangannya masih jauh dari apa yang ia inginkan. “Saya belum bangga kalau petani masih dianggap rendah oleh profesi lainnya. Saya akan bangga bila para petani bisa berbuat lebih untuk merah putih. Kalau bukan oleh para petani sendiri, siapa yang akan melakukannya?”

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *