Pangeran Diponegoro: Hulunya Gerakan Kemerdekaan

cerotan dinding Sep 24, 2016 No Comments
anies_diponegoro

Anies Baswedan saat ditanyai wartawan mengenai dia yang dilamar menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta. Tampak latar belakangnya ada lukisan Diponegoro karya pelukis Bandung, Rosid.

SEPERTI SUNGAI, PERLAWANAN PANGERAN DIPONEGORO ADALAH ALIRAN DERAS YANG BERUJUNG PADA KEMERDEKAAN INDONESIA. 

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bergegas keluar dari ruangannya. Senin sore 18 Mei 2015 itu dia mesti terbang ke Seoul, Korea Selatan untuk menghadiri acara Forum Pendidikan Dunia yang dihelat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Jadwalnya hari itu memang “brutal”, istilah Anies untuk menyebut kegiatan sehari-harinya yang tak pernah putus dari satu tugas ke tugas lain.

Semenjak jadi menteri, Anies langsung genjot pedal gas. Tak buang tempo, ia segera menggandeng semua jajaran di kementeriannya se-Indonesia untuk bersama-sama mengatasi persoalan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Di samping itu, ia juga melahirkan sejumlah kebijakan, seperti membatalkan Kurikulum 2013 dan tak menjadikan UN sebagai penentu kelulusan.

Sebagai tokoh yang dikenal luas banyak mencurahkan perhatiannya pada pendidikan, Anies punya perhatian khusus kepada beberapa tokoh sejarah di negeri ini. Alih-alih menyebut “idola” dia lebih senang menyebutnya dengan “orang-orang yang ia perhatikan dengan saksama.” Ada beberapa yang dia perhatikan betul segala tindak-tanduknya sejak kecil.

Salah satu tokoh sejarah yang mencuri perhatiannya adalah Pangeran Diponegoro. Pangeran yang bernama asli Mustahar dan sejak kecil menyandang nama Raden Mas Antawirya itu terkenal karena mengobarkan Perang Jawa (1825-1830). Perang lima tahun itu telah menyebabkan Belanda kehabisan akal dan nyaris membuat Belanda jatuh bangkrut.

Frustrasi menghadapi gempuran-gempuran Pangeran Diponegoro, Belanda menyusun siasat licik: mengundang Diponegoro untuk berunding. Tanpa curiga Diponegoro datang memenuhi undangan Belanda ke Magelang. Namun Belanda mengkhianati Diponegoro, menangkapnya saat perundingan sedang berjalan. Penangkapan Diponegoro sekaligus menandai berakhirnya Perang Jawa.

Berikut ini kutipan obrolan Historia dengan mantan rektor Universitas Paramadina itu tentang sosok tokoh sejarah yang diakrabinya.

unknown-7

Anies Baswedan saat menerima penyerahan tongkat cakra Pangeran Diponegoro. Sumber: Dokumen Kemendikbud

 

Kapan pertama kali bersentuhan dengan kisah Pangeran Diponegoro?

Saat saya kecil, ada pengurus masjid di Kulon Progo datang ke rumah di Yogyakarta meminta bantuan untuk membangunkan sumur. Bapak (Rasyid Baswedan, alm.) dan ibu (Aliyah Ganis) menelpon ke Jakarta siapa yang mau menyumbang sumur. Ketika sumur sudah jadi, kami ke sana. Dan, di sebelah barat masjid itu ada makam yang tak pernah bertambah. Ternyata, itu makam laskar Sentot Prawirodirjo. Saya tak tahu siapa Sentot, sampai saya menonton film November 1928. Lalu, saat SMA saya sering mampir ke Padepokan Diponegoro di Tegalrejo, kebetulan dekat dengan lokasi sekolah saya, SMAN 2 Yogyakarta. 

Sering mampir, apakah Anda juga pernah napak tilas jejak perjuangan Diponegoro?

Ya. Saya juga ke beberapa tempat yang dulu menjadi tempat pertempuran, seperti di Kulon Progo dan Sentolo. Saya pernah pula naik motor ke Magelang, ke lokasi penangkapan Diponegoro. Bahkan ketika ke Makassar pun saya akan berhenti di Rotterdam. Saya perhatikan persis setiap cerita. Kebetulan pernah membaca juga Babad Diponegoro.

 Seberapa sering Anda memikirkan Diponegoro ini?

Sering sekali, sampai-sampai saya pernah ingin menamai putra saya dengan Ahmad Diponegoro. Hampir. Tapi, setelah diskusi panjang dengan istri, nama itu berat sekali.

 Apa yang membuat Anda begitu memerhatikan Pangeran Diponegoro?

Sederhana saja, bagaimana ada orang bisa melancarkan pergolakan melawan Belanda sampai Belanda bangkrut. Ya, sampai Bangkrut. Gara-gara Diponegoro-lah muncul sistem tanam paksa. Akibat tanam paksa apa yang terjadi? Politik etis. Akibat politik etis apa? Orang pada sekolah. Akibat sekolah apa? Kemerdekaan. Selanjutnya sih tak perlu dijelaskan, karena sudah terang.

Jadi, Diponegoro itu hulunya kemerdekaan bangsa kita. Dia membawa efek sangat luar biasa dalam perjalanan bangsa kita. Yang menarik, dia bisa mengajak banyak orang terlibat, meskipun mereka bukan prajurit Sultan.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *