Robohnya Khilafah Usmani

buku , Uncategorized Sep 01, 2016 No Comments
Edisi Indonesia

Sumber: Juman Rofarif

BAGAIMANA KEKHALIFAHAN BERUSIA ENAM ABAD YANG MENGUASAI TIGA BENUA ITU BERAKHIR.

PASUKAN Usmani tengah bersiap bergerak ke tepi barat Terusan Suez ketika badai pasir membutakan pandangan pada malam 1 Februari 1915. Sementara pasukan Sekutu yang menguasai Kanal Suez tak bisa membuka mata, komandan Jerman dan Usmani justru memanfaatkan badai itu. Bergerak dengan senyap, mereka mendekati Ismailia.

Itu adalah malam yang sempurna untuk melancarkan penyerangan. Terusan Suez seperti tak bertuan, hening. Tak tampak penjagaan. Merasa situasi aman, sekelompok relawan jihad dari Libya memekikkan kata-kata untuk menyemangati teman-temannya sesama pasukan Usmani. Tanpa mereka nyana, pekikan itu disahuti gonggongan anjing-anjing milik tentara Sekutu. Senjata mesin Sekutu pun menyalak. Peluru dan mesiu bertaburan. Fajar sudah merekah saat tepi barat Terusan Suez menjadi medan pertempuran.

Pasukan Usmani yang semula hanya ingin mengalihkan perhatian Sekutu malah menjadi bulan-bulanan. Usmani, dengan penyerangan itu, ingin Sekutu menarik kembali tentara mereka di Front Barat ke Mesir dan tak sempat memusatkan kekuatan di Dardanelles. Namun, upaya yang dikomandani Menteri Kelautan Usmani Ahmed Cemal Pasha ini malah mengikis jumlah tentara Usmani. Kalah akibat dibombardir lewat darat, laut, dan udara, dalam pertempuran itu Cemal mencatat 192 orang gugur, 361 terluka, dan 727 hilang.

Kekalahan di Terusan Suez ini memperburuk kondisi Usmani. Jauh sebelum terseret dalam Perang Besar, Usmani sebenarnya sedang sakit. Antara 1908-1913 Usmani mendapatkan ancaman dari dalam dan luar, yaitu Revolusi Turki Muda dan tuntutan merdeka daerah-daerah di semenanjung Balkan. Ketika akhirnya bergabung dengan Jerman dalam Perang Besar melawan Entente, kekhalifahan berusia enam abad lebih yang menguasai tiga benua ini perlahan-lahan roboh.

 

Pukulan Pertama

Dalam The Fall of The Ottomans; The Great War in the Middle East ini Eugene Rogan menelaah lebih dalam kaitan antara Perang Besar dan kebangkrutan kekhalifahan ini. Dengan penguasaan bahan tertulis yang kaya dari Arab, Turki, dan Barat pengajar kajian Timur Tengah Universitas Oxford ini menyajikan epos terpenting abad dua puluh ini dari perspektif Usmani. Dan, itulah sumbangan terbesar buku ini. Kehadiran buku ini akan memperkaya percakapan sejarah ihwal Perang Besar dan keruntuhan Usmani. Menurutnya, selama ini narasi tentang Perang Besar selalu dari sudut pandang Barat dan mengabaikan peran Usmani. Padahal, kata Rogan, masuknya Usmani dalam peperangan itulah yang mengubah Perang Eropa menjadi Perang Besar.

Meski lahir dari seorang akademisi tulen, buku ini jauh dari kesan berat. Alih-alih dihiasi istilah rumit, dalam sekujur buku ini kita justru akan mendapatkan cerita peperangan yang dibumbui kisah sedih, lucu, datar, dan tak jarang tragis. Dalam kaitannya dengan kejatuhan kekhalifahan ini, misalnya, Rogan menemukan fakta bahwa pukulan pertama mendarat di tubuh Usmani pada 1876. Itu ketika Usmani di bawah Sultan Abdulhamid II melakukan reformasi dengan mengenalkan sistem pemilihan parlemen dan Rusia menggempur untuk merebut Istanbul, ibukota Usmani.

Kekaisaran Rusia menganggap diri mereka sebagai pewaris Byzantium dan pemimpin spiritual Gereja Ortodoks Timur. Istanbul, sebelum ditaklukkan Mehmed II pada 1453 dan masih dinamai Konstantinopel, adalah ibukota Kekaisaran Byzantium sekaligus pusat Gereja Ortodoks Timur. Selain itu Rusia, tentu saja, memiliki alasan ekonomi. Dengan menguasai Istanbul, Rusia akan menguasai selat-selat strategis di Bosporus dan Dardanela yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam dan Mediterania. Rusia lalu mengompori wilayah kekuasaan Usmani di semenanjung Balkan, agar mereka merdeka. Menanggapi kelakuan Rusia, Abdulhamid II mengibarkan bendera Nabi Muhammad sambil menyerukan jihad. Perang pecah pada April 1877.

Pada saat bersamaan, anggota-anggota parlemen menyayangkan langkah Sultan dalam menyelesaikan konflik. Hari demi hari, Rusia berhasil merangsek sampai ke daerah-daerah pinggiran Istanbul. Sultan meminta saran parlemen, namun ia tak memperoleh dukungan. Mutung, ia kemudian menangguhkan konstitusi, membubarkan parlemen, dan memenjarakan banyak anggota parlemen yang kritis.

Kondisi dalam negeri yang carut dan kekuatan militer yang lemah memaksa Sultan menerima gencatan senjata pada Januari 1878. Ia, karena itu, kehilangan dua perlima wilayahnya dan seperlima penduduknya di semenanjung Balkan. Eropa mengangkangi wilayah Usmani: Inggris menduduki Siprus pada 1878 dan Mesir pada 1882; Prancis mencaplok Tunisia pada 1881.

Meski kekuasaannya sudah berkurang, Sultan masih tetap menjalankan sikap absolutismenya. Perlahan gayanya itu menyulut perlawanan dari anak-anak muda yang berkumpul dalam Turki Muda, organisasi yang berdiri pada 1889. Mereka ingin mengembalikan konstitusi 1867 dan menghidupkan lagi parlemen. Organisasi paling terkenal di bawah naungan Turki Muda adalah Commite of Union and Progress (CUP). Organisasi rahasia ini beranggotakan kalangan militer dan sipil yang tersebar di semua daerah kekhalifahan Usmani.

Namun, pemerintah menekan anggota-anggota CUP. Pada 3 Juli 1908 anggota CUP dari militer, Ajudan Mayor Ahmed Niyazi, memimpin dua ratus tentara bersenjata lengkap dan warga sipil pendukungnya untuk mengobarkan revolusi. Mereka menuntut Sultan mengembalikan konstitusi 1876 dan menghidupkan parlemen. Upaya yang kemudian dinamai Revolusi Turki Muda ini berhasil. Abdulhamid II mengabulkan tuntutan mereka.

Namun, revolusi menyisakan persoalan. Yang paling menonjol adalah ihwal Armenia. Sebagian kalangan Usmani mencurigai Armenia sebagai musuh dalam selimut. Semasa Usmani berperang melawan Rusia, orang-orang Armenia kena hasutan Rusia. Banyak orang Armenia membela Rusia. Selain karena kedekatan agama sebagai sesama penganut Kristiani, wilayah Armenia juga berada di perbatasan antara Usmani dengan Rusia.

Ketika Usmani terlibat dalam Perang Besar, tak sedikit orang Armenia menyeberang ke Rusia. Itu, di antaranya, terjadi pada pertempuran di Kaukasus. Dalam pertempuran ini tentara Armenia yang semula memihak Usmani berganti haluan menjadi tentara Rusia. Usmani kalah besar di Kaukasus. Sejak itu, sentimen anti-Armenia merebak. Puncaknya adalah Usmani membantai bangsa Armenia tanpa ampun pada 1915.

Dalam kasus ini, Rogan menelusuri biografi, autobiografi, maupun sumber tertulis dari pihak Usmani, baik berbahasa Turki maupun Arab. Berkat ketekunannya, dengan ciamik dia menggambarkan kejengkelan orang Usmani terhadap pengkhianatan Armenia. Namun, di sisi lain, ia juga berhasil melukiskan kepedihan orang-orang Armenia. Meski seorang Eropa, dalam soal keberimbangan Rogan patut mendapat acungan jempol.

Sementara revolusi tak menyudahi persoalan di dalam negeri, kondisi di luar pun dipenuhi hiruk-pikuk peperangan. Rusia bergabung dengan Inggris dan Prancis membentuk persekutuan yang dikenal sebagai Entente atau Sekutu. Jerman yang saat itu berperang dengan Entente mengajak Usmani yang memang masih punya masalah dengan tiga kekuatan itu. Jerman dan Usmani bersatu melawan Entente. Usmani masuk dalam pusaran Perang Besar pada November 1914. Sejarah kemudian mencatat, keputusan inilah yang melempangkan Usmani menuju kehancuran. Sempat menang di Galipolli berkat seorang perwira bernama Mustafa Kemal, Usmani tak kuasa menerima kekalahan demi kekalahan. Bersama Jerman, Usmani pun menjadi pecundang pada Perang Besar.

Picture shows Ottoman soldiers mounted on camels during the First World War, preparing to attack the British forces. 1917 Palistine. (Photo by: Universal History Archive/UIG via Getty Images)

Picture shows Ottoman soldiers mounted on camels during the First World War, preparing to attack the British forces. 1917 Palistine. (Photo by: Universal History Archive/UIG via Getty Images)

Bencana Besar

Menurut Rogan, kekalahan Usmani itu merupakan bencana besar bagi kekhalifahan. Bukan berarti Usmani tak pernah kalah. Sejak 1699 Usmani berperang dan mereka kerap kalah. Tapi, kekhilafahan masih bisa berdiri tegak. Kondisinya sangat berbeda, kata Rogan, setelah Perang Besar. Nasibnya kini di tangan Eropa.

Dalam rapat pada April 1920 di San Reno Italia, Eropa bancakan wilayah Usmani. Inggris mendapat jatah Palestina, termasuk Transjordan, dan Mesopotamia; Prancis mengambil Syria dan Libanon. Mereka juga sepakat untuk membagi semua provinsi Usmani di Arab. Sementara itu, Anatolia timur dibagi antara Armenia dan Kurdi; Anatolia barat, kota pelabuhan Smyrna (sekarang Izmir), dikuasai Yunani. Usmani juga tak lagi menguasai jalur-jalur perairan ke Laut Hitam dan Mediterania. Kekuatan Usmani di Anatolia hanya tersisa di daerah yang tak dimaui siapa pun, yaitu Bursa, Ankara, dan Samsun di perairan Laut Hitam.

Usmani, lagi-lagi, dipaksa menerima kenyataan bahwa mereka tak punya pilihan lain kecuali bekerja sama dengan pemenang perang. Mereka mesti menyepakati perjanjian, meskipun isinya memberatkan seperti pembagian wilayah oleh Eropa. Namun, Gerakan Nasional Turki yang dipimpin Mustafa Kemal mengakui bahwa Usmani tak mungkin mengembalikan wilayah yang sudah lepas.

Di sisi lain, mereka menolak segala persyaratan dalam perjanjian damai yang membebani Usmani. Kemal dianggap pembangkang dan diganjar hukuman mati. Tak menggubris hukuman itu, pada 1922 Kemal membawa pasukannya dalam tiga pertempuran melawan Armenia, Prancis, dan Yunani. Ia memenangkan ketiga pertempuran itu. Ia lantas menjadi pahlawan dan berhasil menguasai politik dalam negeri. Pada 1 November 1922 ia, bersama Grand National Assembly, mengakhiri riwayat Usmani. *

Historia, Nomor 23 Tahun 2

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *