Sumber Air Su Bersih

cerotan dinding Oct 06, 2016 No Comments

 

Seorang ibu sedang mencuci baju dan anaknya mandi di KU.

Keberadaan KU sangat membantu warga desa Tahalupu untuk mengatasi kebutuhan mereka akan air bersih. Air dari KU ini dipakai untuk bermacam kegiatan, mulai dari mencuci baju sampai mandi.

BAGAIMANA WARGA DESA TAHALUPU, SERAM BAGIAN BARAT, MALUKU, YANG PERNAH KENA WABAH AKIBAT AIR TERCEMAR KINI MENDAPATKAN ALIRAN AIR BERSIH.

Tak ada yang mengingat dengan pasti kapan terjadinya dan berapa jumlah pasti korban peristiwa mengenaskan itu. Namun, penduduk desa Tahalupu memiliki satu penanda khas mereka: peristiwa itu terjadi setelah kerusuhan Ambon pada 2000-an.

Amirudin Umagap, 39 tahun, salah satu warga, mengingat masa-masa itu dengan nada mengerikan. “Hari ini di satu rumah ada satu anak yang meninggal, baru selesai dikubur, sudah ada lagi yang meninggal di rumah lainnya. Begitu, hingga berhari-hari,” katanya. “Belum kering satu tangis, disusul tangisan lain.”

Selain bocah, ada juga orang dewasa yang menjadi korban. Mereka semua meninggal dunia akibat diare, atau masyarakat lokal menyebutnya dengan muntah berak (muntaber). Diperkirakan korban di atas 20 orang.

Tak ada dokter di desa ini. Tenaga kesehatan pun terbatas. Dan, desa Tahalupu ini terletak di Pulau Kelang, Seram Bagian Barat, Maluku, sekitar 3-4 jam dari Ambon melalui perjalanan laut dengan speed boat; 2-3 jam perjalanan laut dari ibu kota kabupaten, Piru.

Seingat Kasman Umagap, Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD), setelah peristiwa itu pihak kesehatan dari kabupaten melakukan penelitian tentang sumber air masyarakat. Saat itu masyarakat mendapatkan air untuk masak, mandi, dan mencuci dari sungai dan sumur. Sungai dinyatakan aman. Namun, hampir semua sumur di desa Tahalupu ini tak layak konsumsi.  “Tak layak karena mengandung bakteri E.coli,” kata dr. Johanis Tappang, M. Kes, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat. “Hanya ada 2 sumur yang layak (konsumsi),” katanya.

Saat itu memang pernah ada upaya pemerintah daerah untuk membangun jaringan air bersih untuk masyarakat. Namun, belum juga rampung pembangunannya, Maluku digusah kerusuhan Ambon pada kurun 1998-2000. Para pekerja yang rata-rata beragama Kristen tak meneruskan pekerjaan mereka. Bagaimana pun, penduduk desa Tahalupu 100% muslim. Pembangunan itu pun terbengkalai.

Beberapa tahun kemudian baru ada lagi tindak lanjut dari pemerintah daerah untuk pembangunan jaringan air bersih. Saat itu air dialirkan dari sumber mata air di pegunungan menggunakan paralon. Namun, baru setahun aliran air mengecil dan kemudian mandek. Padahal, bukan pada musim kemarau. Karena janggal, masyarakat membuka paralon dan menemukan bahwa paralon itu dipenuhi kapur. Ternyata, selama setahun itu mereka mengonsumsi air berkapur.

Pantas saja, sepengetahuan Iwan Nidihu (39 tahun), saat itu ditemukan orang yang kena penyakit kulit. “Orang di sini menyebutnya dengan sarampa. Seluruh badannya dipenuhi bintik-bintik merah. Panas seluruh tubuhnya,” kata Iwan, petugas yang ditunjuk aparat desa untuk mengurus air bersih.

Tak ingin mengambil risiko, masyarakat tak lagi menggunakan air tersebut. Mereka kembali menggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Dan, jika musim kemarau masyarakat harus berjalan kaki selama berjam-jam ke sumber air di pegunungan untuk bisa mendapatkan air bersih untuk memasak atau mencuci.

Ada dua kali lagi bantuan dari pemerintah untuk mengalirkan air ini. Dan, yang saat ini masyarakat rasakan adalah pembangunan air untuk keempat kalinya. Menurut Iwan, proyek ini sudah berjalan sekitar 3 tahunan. Kali ini air dialirkan menggunakan pipa besi.

Namun, dari semua pembangunan jaringan air bersih itu, air tak mengalir langsung ke setiap rumah. Dijadikan Kran Umum (KU). Total jenderal ada 30 KU di desa Tahalupu ini. Jumlah KU per Rukun Tetangga (RT) berbeda-beda, disesuaikan jumlah Kepala Keluarga (KK). Misalnya, di RT 1 ada 4 KU, dan di RT 6 terdapat 5 KU.

Arjun Umagap sedang mengalirkan air untuk rumahnnya dari jaringan yang dibangun secara gotong royong oleh masyarakat. Aliran air dari jaringan ini lebih kuat, karena dipakai segelintir orang.

Arjun Umagap sedang mengalirkan air untuk rumahnnya dari jaringan yang dibangun secara gotong royong oleh masyarakat. Aliran air dari jaringan ini lebih kuat, karena dipakai segelintir orang.

JARINGAN PRAKARSA WARGA

Selain KU, ada satu lagi jaringan air bersih. Jaringan ini murni prakarsa warga yang ingin mendapatkan air bersih langsung mengalir ke rumah mereka masing-masing. Mereka gotong royong untuk mewujudkannya, mulai dari membeli paralon, selang, hingga tenaga. Karena itu, “Hanya yang ikutan membantu yang bisa menikmati air bersih ini,” kata Hasan Umasugi (50 tahun), salah seorang warga yang ikut gotong royong.

Jaringan air warga ini hanya mengalir ke sekitar 40-an rumah. Diambil dari mata air tersendiri dan hanya untuk sedikit orang, tak aneh bila alirannya sangat deras. Tanpa kenal waktu, baik kemarau, apalagi musim penghujan; pagi, siang, atau malam. Seperti yang mengalir di rumah Hasan. Karena kran tak berfungsi normal, air kadang meluber ke mana-mana. Bahkan pada musim kemarau, seperti bulan Agustus ini. Pemandangan ini tentu berbeda dengan KU. Karena dipakai berjamaah, air di KU hanya mengalir pada pagi dan malam hari.

Meski demikian, masyarakat masih bersyukur. Mereka masih bisa mendapatkan air bersih, tak lagi harus naik berjam-jam ke gunung untuk mendapatkan satu-dua jerigen air bersih.

Karena menganggap air KU bersih, minum langsung dari KU dianggap biasa. Menurut penuturan warga, meskipun minum air mentah, tak pernah ada laporan anak yang mengeluh sakit perut selama ini.

Karena menganggap air KU bersih, minum langsung dari KU dianggap biasa. Menurut penuturan warga, meskipun minum air mentah, tak pernah ada laporan anak yang mengeluh sakit perut selama ini.

MERAWAT AIR

Dalam urusan air ini Iwan mengaku kerap jengkel terhadap warga yang tak begitu perhatian merawat air. Meskipun diberi tugas oleh desa, ia kewalahan jika mengurus soal air ini sendirian. Ia tetap membutuhkan bantuan warga.

Bagaimana pun, dia harus bekerja. “Kami tetap butuh makan,” katanya. Uang dari pengelolaan air tak menentu. Kadang-kadang saja ia mendapatkan pembayaran. Itu pun tak seberapa. Karena itu, dia menarik iuran sebesar Rp 300 ribu bagi warga yang ingin memasang air dari KU sampai ke rumahnya. Dana itu dia pakai untuk membeli pipa besi dan selang.

Namun, Iwan memiliki cara tersendiri untuk merawat air. Jika warga enggan bekerja sama, dia akan mendekati kepala sekolah dan meminta siswa untuk gotong royong ke sumber air untuk membersihkan air atau menanam pohon di sekeliling sumber air. Desa Tahalupu ini memiliki 2 SD, 1 SMP, 1 MTS, dan 1 SMA. Bersama-sama mereka naik ke gunung untuk melakukan perawatan sumber mata air.

Iwan mengakui bahwa perlu tenaga lebih untuk bisa merawat sumber mata air. Air dari mata air tak langsung merembah ke pipa. Air itu ditampung menggunakan bak besar. Air dari bak pertama ini disaring, lalu masuk ke bak kedua yang lebih kecil; ketika masuk ke bak ketiga yang lebih kecil ketimbang bak kedua, air juga sudah mengalami proses penyaringan. Dan, akhirnya, air yang masuk ke pipa pun sudah disaring. Bak-bak ini terbuat dari semen. Proses penyaringan berlapis ini untuk memastikan bahwa air yang mengucur sampai warga benar-benar bersih.

Mereka merawat air dengan cara membersihkan sampah dari semua bak tersebut. Selain itu, dari sisi aparat desa, Kasman mengungkapkan bahwa pejabat desa memberi imbauan kepada warga agar tak melakukan penebangan pohon yang berada di lingkungan mata air. “Demi menjaga kelestarian air, agar bisa terus dirasakan sampai anak-cucu kemudian,” kata Kasman.

Dengan adanya air bersih ini, menurut Kasman, risiko warga terkena diare atau muntaber menjadi berkurang. Mereka aman untuk mengonsumsi air ini. Bahkan, sejumlah anak SD dengan enteng meminum langsung dari air KU yang ada di sekolah mereka. Padahal itu air mentah.

Catatan:

*Su: kata yang disingkat dari sudah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *