Tarada Lagi Silet di Atas Kulup

cerotan dinding , Uncategorized Oct 04, 2016 2 Comments
Dari kiri ke kanan: Husain, Irpan, dan ayahnya.

Dari kanan ke kiri: Amir, Irpan, dan Husain.

KINI, ANAK-ANAK LELAKI TAK PERLU LAGI MENGALAMI PROSES MENYAKITKAN DAN PERIH KETIKA DISUNAT. 

Kakak-beradik Husain (12 tahun) dan Irpan (9 tahun) cengengesan ketika ditanya pengalaman mereka disunat dokter relawan doctorSHARE di atas Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan. Sambil malu-malu, Irpan bercerita:

Pada pagi Senin, 22 Agustus 2016 itu tekad mereka sudah bulat. Mereka siap disunat. Hari itu mereka izin untuk tak berangkat sekolah. Sehari sebelumnya mereka mendengar dari kawan-kawan sebaya mereka bahwa disunat dokter tak sakit, tak bakalan seperti disunat kampung. Ada banyak kawan mereka yang mendaftar sunat juga. Ditemani ayah, mereka keluar dari rumah dengan mengenakan peci dan sarung.

Mereka tersenyum simpul ketika perahu membawa mereka ke RSA dr. Lie Dharmawan di lepas pantai. Begitu masuk ruang operasi dan diminta tiduran di atas ranjang, kata Irpan, tak ada kekhawatiran. Itu karena dokter memintanya untuk bernyanyi. Diminta begitu, hatinya sedikit gembira. Ia menyanyikan lagu Maluku, yang tak dia hapal judulnya. Tapi, “belum juga habis menyanyi, dokter sudah kasih selesai (sunatnya),” kata Irpan. “Seng terasa, seng sakit.”

Selesai disunat, Husain dan Irpan bisa langsung berjalan ke rumahnya. Sehari kemudian mereka sudah leluasa mengenakan celana dan bermain. “Begitu ceritanya,” kata Irpan.

Dan, Irpan masih cengar-cengir ketika mengakhiri kisahnya. Husain menggenapi cerita adiknya dengan pamer deretan gigi putihnya. Mereka berdua lalu tertawa. Beruntung, kali ini Husain bisa tertawa lebar. Pengalaman ini sangat berbeda ketika dia masih duduk di kelas 3 SD, saat berusia sekitar 7-8 tahun. Ketika Husain disunat untuk pertama kalinya. Saat itu dia dikhitan tukang sunat kampung.

Sebagaimana penduduk desa-desa Maluku yang menganut agama Islam, bagi warga desa Tahalupu sunat merupakan kewajiban. Tak ada satu pun anak lelaki muslim yang tak disunat. Namun, karena tenaga medis kurang, di beberapa desa sunatnya masih menggunakan teknik tradisional, termasuk Tahalupu ini. Tak menggunakan bius dan menggunakan silet untuk memotong kulup.

Caranya pun tak berubah sejak dulu. Seorang anak yang sudah siap disunat dipangku bapaknya yang duduk di atas kursi. Lalu, dekat telapak kaki sang bapak sudah tersedia mangkuk kosong dan telur ayam yang sudah dipecah sepertiganya; telur itu hanya berisi kuningnya saja yang sudah dikoyak.

Dan, begitu pula Husain ketika mau disunat untuk pertama kalinya. Saat itu dia memang ingin disunat. Namun, begitu dia dipangku ayahnya, dia mulai ketakutan. Dia mengamuk. Ayah dan keluarganya terpaksa memegangi tangan dan kaki Husain. Ayahnya mencoba menenangkannya. Namun, sia-sia. Saat itu tukang sunat bersila di hadapan mereka, sudah bersiap dengan capitnya. Capit itu terbuat dari bambu dan dibelah dua. Ritual sunat pun tak mungkin dimundurkan. Pesta dan doa-doa sudah diucapkan.

Maka, mengabaikan rontaan dan berontakan Husain, tukang sunat menarik kulup Husain. Kulup itu lalu dicapit. Begitu capit itu sudah menjepit kulupnya, tukang sunat memasang pengikatnya di bagian atas yang berupa cincin dari rotan. Capit itu menggepit kulupnya sedemikian rupa, sehingga terjadi kram. Setelah kram, tukang sunat mengeluarkan alat pemotongnya: silet.

Alwan Umagap memperlihatkan cara dia menyunat menggunakan capitnya.

Alwan Umagap memperlihatkan cara dia menyunat menggunakan capitnya.

Silet itu sudah disterilisasi terlebih dahulu dengan direndam di air panas sebelum digunakan. Tukang sunat pun memotong kulup bagian depan capitnya. Dan, mestinya kulup Husain habis saat itu. Namun, karena dia meronta dengan keras, tukang sunat hanya memotong kulupnya sedikit. “Sebagai syarat saja. Sunat kampung,” kata ayah Husain, Amirudin Umagap (49 tahun). “Biasanya, kalau doa-doa sudah dipanjatkan, seng melihat anak itu berontak atau seng, tukang sunat pasti kasih habis itu kulup,” kata Amir.

Selesai kulup dipotong, biasanya darah mengalir dari penis. Begitu darah keluar, mangkuk yang berada di bawah sudah siap menampung darah. Saat itulah penis dicelupkan ke kuning telur. Beruntung, saat itu darah Husain tak mengalir lagi begitu diademkan kuning telur. Biasanya, jika darah mengucur banyak maka pihak keluarga mengundang satu orang pintar untuk mendoakan agar darah itu berhenti dengan cara meludahi penis yang baru saja disunat. Namun, jika satu orang pintar tak mempan, maka pihak keluarga akan meminta bantuan orang pintar lainnya. Begitu seterusnya sampai pendarahan berhenti.

Darah yang mengalir dari penis bisa bermangkuk-mangkuk. “Bahkan, pernah ada yang sampai 10 mangkuk,” kata Amir. “Wajah dan badan anak itu sudah tak keruan.” Ketika kecil, Amir disunat bersama dua sepupunya. Salah satu sepupunya mengeluarkan darah sampai 3 mangkuk.

Selesai dengan ritual itu, sang anak yang baru disunat takkan bisa ke mana-mana. Dia akan berada di atas ranjang selama 3-7 hari. Semua kegiatannya dilakukan di atas ranjang, mulai dari makan sampai buang air besar dan kecil. “Kalau anak sunat, orang tua ikut repot,” kata Amirudin. “Kalau dia mau kencing, ya ditadah pakai tempat. Kalau dia mau buang air besar, ya dia diangkat.”

Agar luka sunat segera mengering, tukang sunat menyarankan untuk membungkus penis dengan daun pohon kopi atau daun sirih setiap pagi dan sore. Daun itu diluluri minyak kelapa, lalu dihangatkan di atas api kecil. Sebentar saja, dan begitu hangat-hangat kuku dibalutkan ke penis. Jika ingin lebih mujarab, sebelumnya si anak diminta berendam di pantai. Dengan air laut yang asin luka bisa segera mengering. Perih? Tentu saja. Namun, itu jalan paling cepat agar luka bekas sunat segera mengering dan anak bisa berkegiatan seperti biasa, bermain atau bersekolah.

Di desa Tahalupu ini tinggal dua tukang sunat kampung, yaitu Dusa Umagap (59 tahun) dan Alwan Umagap (56 tahun). Jika Dusa masih menggunakan teknik sunat kampung, Alwan sudah mengawinkan teknik kampung dan modern. Itu berkat bantuan anaknya, Arman Umagap (23 tahun), yang bekerja sebagai tenaga kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) desa Tahalupu. Arman mendapatkan pengetahuan dan pengalamannya ketika dia sempat berkuliah di sebuah Sekolah Tinggi Kesehatan di Ambon.

Alwan masih menggunakan capitannya ketika dia hendak menyunat. Namun, kini sebelum dicapit, penis si anak sudah dibius lokal terlebih dahulu. Selain itu, alih-alih menggunakan silet dia kini menggunakan gunting dan setelah selesai dijahit. Si anak pun berada di ranjang lebih singkat, dalam 2-3 hari sudah bisa mengenakan celana. Namun, sesuai dengan kepercayaan kampung, sang anak yang baru disunat baru boleh berkeliaran jauh ke luar rumah setelah 3 hari dan sesudah dimandikan tukang sunat.

Namun, kini Husain dan Irpan tak perlu menunggu lama untuk bisa mengenakan celana atau bermain. Mereka pun tak perlu harus turun ke pantai agar luka sunat mereka mengering. Sehari setelah disunat, mereka sudah bisa mengenakan celana. Bermain seperti anak-anak lainnya, sambil cengengesan.

Itu karena mereka disunat secara modern oleh dokter relawan doctorSHARE di atas RSA. dr. Lie Dharmawan.

Catatan:

*Tarada: Tidak ada

*Seng: Tidak

 

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

2 Comments

  1. Tatang

    Jadi inget ane disunat dulu banget cara kampung, rendeman di air sejam lalu disunat pakai bambu yang diruncingkan, dan sekali iris tidak langsung terpotong, jadi berkali kali iris seperti menggergaji kayu, astaghfirullah sakitnya bro, darah ngocor terus, mata kunang kunang, akhirnya infeksi, 2 bulan baru kering lukanya. Hasilnya adalah bekas luka tidak rata agak menyeramkan dan ane menyesal sekarang. Istri ane aja jijik melihat penis ane.

    Zaman sekarang enak udah modern, anak ane sunat clamp hasilnya rapih banget.

    • Muhammad Husnil

      Wah, ngilu Pak bacanya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *