Anies Baswedan Tak Punya Nyali?

cerotan dinding Jan 27, 2017 No Comments

Anies dalam salah satu demonstrasi di boulevard UGM.

Yogyakarta 1992-1994

SEBAGAI ketua Senat Mahasiswa UGM, Anies Baswedan kerap dikuntit intel. Aliyah sering melihat orang tak dikenal duduk di serambi rumahnya atau pos ronda. Mereka membawa walkie-talkie. Tak hanya keluarga, para tetangga melihat kelakuan para intel ini.

Aliyah juga kerap menerima telepon dari orang tak dikenal. Dia tak panik karena tahu Anies melakukan sesuatu yang benar, memperjuangkan sesuatu. Selain itu, Aliyah, Ibunda, percaya Anies mampu menyelesaikan masalahnya. Aliyah memberikan jawaban yang hampir seragam terhadap para penelpon gelap ini: “Biar saja. Dia sudah besar.”

Kekhawatiran bukannya tak ada. Rasyid, sang ayah, tak ragu mendiskusikan, bahkan berdebat, dengan Anies. Namun, di akhir perdebatan, Rasyid menghormati pilihan Anies dan menasihatinya agar berhati-hati. Dia tak ingin penangkapan Samhari, paman Anies, gara-gara terlibat dalam Dewan Mahasiswa UGM pada 1978, terulang lagi. Samhari ini salah seorang pendiri Salahuddin UGM.

Rezim intel mempersempit ruang gerak pegiat mahasiswa. Anies sendiri tak bisa bergerak leluasa. Untuk keluar rumah, Anies harus mengelabui intel yang menguntitnya. Misalnya, menjadikan Zulfa, sepupunya yang postur tubuh dan tingginya mirip Anies, sebagai umpan. Dengan jaket dan helm Anies, Zulfa akan tancap gas di atas vespa Anies. Ketika intel yang mengendon di rumah Anies dan sekitarnya terkecoh dan membuntuti Zulfa, Anies bisa keluar rumah –biasanya diantar pakai mobil oleh Ridwan, adik Anies.

 

*

SEKALIPUN tak lagi menjadi ketua Senat, Anies Baswedan masih punya pengaruh dalam gerakan mahasiswa di Yogyakarta. Dia tetap hadir dalam berbagai aksi demontrasi. Dia juga ikut merancang demonstrasi menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) pada November 1993. Anies mengajak teman-temannya di HMI MPO untuk menggerakkan massa. Dalam suatu rapat koordinasi aksi, Anies meminta agar setiap orang membawa 50 orang. “Kalau tidak sanggup bilang sekarang? Jangan meminta maaf besok!” kata Anies.

Disahkan berdasarkan Keputusan Menteri Sosial RI No. 21/BSS/XII/1988, SDSB merupakan upaya pemerintah mengeruk dana masyarakat untuk kegiatan sosial dan olahraga. SDSB merupakan bentuk lain dari berbagai lotere yang muncul sejak akhir 1960-an, dari Lotre Totalisator (Lotto), Undian Harapan, Sumbangan Sosial Berhadian (SSB), Pekan Olahraga dan Ketangkasan (Porkas), hingga Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB). Semua mengandung unsur judi karena memberikan harapan semu. Ia membuai banyak orang, termasuk rakyat kecil seperti tukang becak dan buruh tani. Ia membuat mereka berharap kaya tanpa harus bekerja banting tulang. Tak heran jika tentangan selalu muncul.

Demonstrasi digelar di kampus UGM. Ribuan orang memenuhi jalan masuk, boulevard, Gelanggang Mahasiswa, dan sekitarnya. Mereka menamakan diri Gerakan Masyarakat Islam Yogyakarta (GMIY). Selain ikut berorasi, Anies jadi pengamat. Bila ada orator yang membakar massa, Anies akan maju dan menenangkan massa. Dia mengajak massa untuk lebih mengedepankan rasionalitas dan intelektualitas ketimbang emosi.

Anies berorasi.

Aksi berhenti sejenak untuk salat Jumat. Setelah itu, mereka berjalan kaki menuju Malioboro dengan kawalan tentara dan polisi. Begitu tiba di depan gedung DPRD, mereka berorasi kembali. Anies dan pemimpin massa meminta bertemu dengan para wakil rakyat. Mereka menuntut wakil rakyat menyampaikan kepada pemerintah agar membubarkan SDSB.

Tak hanya di Yogya. Beberapa hari kemudian Anies mengajak teman-temannya di GMIY untuk ikut berdemonstrasi menentang SDSB di Jakarta. Di Jakarta mereka bertemu dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ) dan Persatuan Mahasiswa Islam Bandung (PMIB). Basis utama kelompok mahasiswa ini adalah HMI MPO, yang mendapat represi dari penguasa ketika menerapkan asas tunggal Pancasila.

Tuntutan serupa juga disampaikan sejumlah kalangan di berbagai daerah. Karena desakan yang begitu kuat, pemerintah akhirnya membubarkan SDSB pada 25 November 1993.

*

 

Anies turut dalam demonstrasi pembredelan Tempo, Detik, Editor.

Pada masa-masa akhir kuliahnya, suhu politik memanas. Sebagai dampak pembredelan tiga media yang kritis terhadap pemerintah, Tempo, Detik, Editor pada Juni 1994, demonstrasi meruyak di berbagai daerah.

Di Yogyakarta, mahasiswa memenuhi boulevard UGM. Rangkaian bunga ucapan belasungkawa atas pembredelan berjejer rapi. Hasto dan teman-teman Gelanggang Mahasiswa mengambilnya, lalu mengganti tulisannya, karangan bunga dari kuburan tak jauh dari UGM –pada hari itu ada seorang kaya baru saja meninggal dunia. Tentara dan Brimob berseragam lengkap berjejer rapi dari depan RS Panti Rapih hingga depan SMK Bopkri. Masing-masing menggenggam senjata laras panjang. Panser dan truk-turk Brimob dan ABRI terparkir di pinggir jalan.

Matahari kian terik. Satu per satu mahasiswa berorasi menentang pembredelan. Termasuk Anies. Mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek dan bagian bawahnya dimasukkan, Anies menyampaikan orasi yang meneduhkan. Tanpa kata-kata kasar maupun makian. Bahkan, kepada aparat, dia memanggil dengan sebutan “Anda”. Ridwan, adiknya, yang baru saja masuk kuliah di Universitas Islam Indonesia dan gemar fotografi, menjepretkan kameranya. Anies turun, muncul lagi orang yang berorasi.

Aparat memberikan kesempatan kepada massa agar membubarkan diri pada pukul 14.00. Saat batas waktu hampir habis, mereka mulai bergerak maju. Massa surut. Sebagian meninggalkan barisan. Di depan barisan, Anies, Elan, Hikmat, dan Ferizal bertahan, mencoba menghalau aparat agar tak masuk kampus. Kericuhan tak tertahankan. Aparat menggunakan pentungan untuk membubarkan massa. Barisan mahasiwa mulai kacau. Sebagian menyelamatkan diri. Elan kena pukul bagian kepalanya dan langsung mengucurkan darah. Tangan dan punggung Hikmat kena sasaran aparat. Pelipis Anies berdarah. Tapi mereka tetap bertahan.

Meski hari itu Anies pulang berdarah dan terluka, di rumah Anies menceritakan kepada orangtua dan adik-adiknya bahwa dia dan kawan-kawannya memperjuangkan kebenaran. Apa pun akibat dari perjuangan itu dia siap menanggungnya. Karena dengan itulah integritas dibangun. Karena dengan itulah nyali diuji.*

(Kutipan buku Ketika Anies Baswedan Memimpin: Menggerakkan, Menginspirasi [Penerbit Republika, 2017])

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *