Tak Mengapa Anda Menyesal, Tsamara Amany  

cerotan dinding , Uncategorized Jan 10, 2017 3 Comments

Cuplikan film dokumenter Jakarta Unfair.

Terima kasih atas tanggapan Anda, Tsamara. Ini akan menjadi diskusi yang baik. Kita yang memiliki kesempatan membaca lebih banyak buku dan literatur mesti memperbanyak tukar gagasan dalam kampanye ini. Mari kita sudahi cara-cara tak beradab, seperti menghina orang maupun menggunakan cara-cara kekerasan.

Saya ingin menyampaikan salam dari mantan rektor Anda. Dia sama sekali tak keberatan dengan fakta bahwa Anda sekarang sudah tidak kagum. Tujuan hidupnya bukan mencari pengagum, melainkan menjalankan nasihat Nabi Muhammad: manusia terbaik adalah dia yang paling bermanfaat bagi banyak orang (khayru al-nas anfa’uhum li al-nas). Kagum/tidak, itu urusan pribadi, tak bisa dia kontrol. Dia terbuka terhadap pemikiran dan perasaan orang lain, sepanjang masih dalam batas konstitusi dan tak melanggar hukum. Dia istikamah dalam hal ini.

Mengenai tulisan Anda, saya mempersoalkan mengapa Anda tak ungkap secara jujur, sehingga membuat framing seakan-akan Anies bicara kulit dan seremonial, sementara Pak Basuki bekerja. Anda menggunakan ukuran dari dua ceramah yang Anda ikuti. Saya memiliki catatan atas tanggapan Anda.

Pertama, absen. Saya tak menuduh Anda berbohong. Saya berhati-hati dengan mencantumkan: mohon koreksi saya. Saya tak ingin memperpanjang ihwal ini. Saya meminta maaf. Keterangan Anda mengoreksi saya. Masalah selesai.

Izinkan saya bercerita mengapa saya bertanya soal absen tersebut, dengan hati-hati pula. Yang saya tahu, Kuliah Umum tersebut diperuntukkan bagi semua mahasiswa, walaupun semula ditujukan untuk semester awal. Kelas-kelas diliburkan pada saat Kuliah Umum berlangsung. Saya tahu soal ini karena saya terlibat dalam diskusi awal penyelenggaraannya. Pada mulanya, Kuliah Umum itu merupakan diskusi buku Anies yang berjudul Merawat Tenun Kebangsaan yang diterbitkan Serambi. Saat itu saya belum membantu Anies di Kemendikbud, karena saya sedang mengerjakan beberapa naskah untuk penerbit.

Karena berbagai pertimbangan etis, di antaranya Anies tak ingin hadir dalam diskusi buku yang dia tulis sendiri pada hari kerja sebagai pejabat publik, maka formatnya diganti menjadi Kuliah Umum dan dikaitkan dengan bukunya. Karena format ini pula akhirnya tak ada logo Serambi dalam acara itu. Tapi, Serambi mendukung acara tersebut, dan Anda beserta dua teman lainnya mendapatkan buku dari Serambi sebagai penghargaan karena Anda bertanya. Buku yang Anda terima bukan dari uang pribadi Anies, melainkan dari penerbit. Bagian ini penting untuk menceritakan bahwa Anda mendapatkan buku itu bukan tanpa alasan.

Mengenai apa pertanyaan yang Anda lontarkan dalam Kuliah Umum itu, tampaknya Anda sudah lupa, sehingga tak jawab pertanyaan saya. Walaupun, sebenarnya ini penting juga. Jika saat itu Anda anggap ceramah Anies sebagai kulit dan seremonial, tentu Anda bisa bertanya mengenai detail dalam pertanyaan itu. Rekaman saya ketelingsut entah di mana, sehingga tak menemukan apa pertanyaan Anda dan apa jawaban Anies.

Kedua, soal ceramah Anies dan kinerja. Saya tak memaksa Anda untuk mengikuti pendapat saya. Juga bukan ingin memberikan pembenaran.

Saya ingin memberikan fakta, Anies dalam Kuliah Umum itu tak hanya bicara gagasan, tapi juga sebutkan kinerjanya. Saya sudah berikan contohnya. Bagian yang tak Anda lihat sebagai kerja, padahal Anda sebagai mahasiswa Paramadina merasakan efek dari hasil kinerjanya. Mengenai sambutan Anies pada Hari Film Nasional, saya kira Anda mesti mengecek pula waktu yang digunakan Pak Basuki dan Anies. Seingat saya, Anies bicara singkat.

Tapi begini, jika Anda serius mau menilai soal kinerja Anies, riset secara serius, bukan cuma dari dua ceramah. Ini poin utama tanggapan saya.

Poin ini penting, karena dalam tulisan Anda yang pertama, Anda sedang mengesankan Anies hanya bicara kulit dan seremonial, sementara Anda sendiri tak memberikan parameter apa itu kulit dan seremonial. Dengan cara pandang ini pula, Anda lalu tak kaget ketika Anies dicukupkan tugasnya oleh Pak Jokowi. Antara premis dan kesimpulan tak ketemu. Premis Anda terlalu lemah karena data yang Anda berikan cuma berdasarkan 2 ceramah, bukan berdasarkan kinerja sebagai pejabat publik yang bisa diuji secara bersama-sama, seperti pengelolaan anggaran, reformasi birokrasi, transparansi, dan kebijakan publik.

Padahal, jika menggunakan ukuran pengelolaan anggaran, misalnya, Anda akan melihat perbedaannya. Anies mampu bekerja secara maksimal pada 2015 dengan menuntaskan pekerjaan yang sudah disepakati dengan DPR yang dibuktikan dengan penyerapan anggaran sebesar 94%, sementara Pak Basuki yang sudah bergelut dengan birokrasi DKI Jakarta selama 4 tahun, pada 2015 sebesar 68%. Selain itu, Anies juga mempertahankan tradisi baik masa kepemimpinan sebelumnya: status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK selama 3 tahun. Tapi, Pak Basuki juga berhasil sih selama 3 tahun ini dalam soal laporan keuangan dari BPK ini: mempertahankan status Wajar Dengan Pengecualian (WDP).

Ini ukuran minimal untuk mengukur kinerja pejabat negara. Bukan cuma ceramah.

Ketiga, selera gaya kepemimpinan.

Saya sendiri tentu tak bisa memaksakan kehendak kepada Anda agar Anda menyukai gaya kepemimpinan Anies. Memang gaya kepemimpinan dua orang ini berbeda. Saya mengamini pendapat Anies bahwa Pak Basuki ini pekerja keras. Apalagi setelah mendapatkan keterangan dari Anda: pola kepemimpinan yang berdasarkan kinerja. Makin tebal percaya saya bahwa Pak Basuki ini pekerja keras.

Kesemrawutan perencanaan halte Trans Jakarta Koridor 13. Foto: Elisa Sutanudjaja.

Tapi, mengurus Jakarta ini tak cukup hanya pemimpin pekerja keras. Jakarta membutuhkan pemimpin pekerja cerdas. Kenapa? Agar pembangunan Jakarta ini memiliki ruh dan tahu akan dibawa ke mana. Terbukti, Jakarta yang dipimpin berdasarkan pekerja keras tak berjalan baik. Mungkin karena hanya berpikir bekerja tanpa memikirkan apa efek dari pekerjaannya. Contoh yang sudah saya sebutkan dalam tulisan saya, ya Koridor 13. Bayangkan, ini satu-satunya koridor yang dibangun selama Pak Basuki memimpin, tapi tak memiliki perencanaan yang baik.

Penggusuran Bukit Duri oleh Pemprov DKI. Sumber: Republika.co.id

Pertanyaan penting lainnya kenapa Jakarta membutuhkan pekerja cerdas? Agar tak terjadi lagi kebijakan yang tak bijak, seperti kebijakan Pak Basuki yang terbukti kalah 4 kali di pengadilan. Kalah sekali sih, tak apa. Ini 4 kali. Kebijakan Pak Basuki digugat rakyatnya sendiri, sebanyak 4 kali? Itu ironi. Karena Pak Basuki sekarang berjanji membangun Jakarta secara manusiawi; padahal saat menjabat pendekatan ini tak dia jalani. Dan dia ingin menjadi Gubernur DKI Jakarta sekali lagi? Mohon maaf, perjalanan Pak Basuki mesti berhenti di sini.

Sekarang, saya beri Anda tantangan: sebutkan 4 kebijakan Anies yang terbukti merugikan rakyat banyak dan pernah digugat ke pengadilan dan kalah?

Keempat, transparansi kinerja.

Sebenarnya, ukuran saya bukan cuma buku, tapi terbitan. Nah, terbitan ini juga bisa berbentuk format digital. Oh ya, buku Kilasan Kinerja Kemendikbud 2015 itu gratis dan dibagikan kepada para pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan budaya. Juga ada format digital. Sila unduh.

Kenapa sih buku atau terbitan laporan kinerja ini perlu? Sudah saatnya pejabat publik mewartakan kinerjanya dalam periode tahunan. Dengan begitu, publik bisa menilai sudah sejauh mana seorang pejabat publik bekerja dan apa saja hasil kerjanya. Tak mesti buku. Format paling mudah, ya seperti Kantor Staff Presiden yang membuat laman http://kerjanyata.id, yang berisi hasil kerja pemerintahan Jokowi-JK. Nah, ini sekalian, saya sertakan hasil kinerja Anies yang diakui pemerintah.

Guru Garis Depan merupakan salah satu terobosan Anies untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terdepan Indonesia dan mengatasi masalah distribusi guru.

Soal Qlue, Smartcity, KawalAPBD, saya kira bagus. Tapi, belum cukup. Karena tak merangkum secara komprehensif kerja Pak Basuki dalam periode tertentu. Oh ya, setahu saya Qlue itu bukan buatan pemerintah DKI sendiri. Mohon koreksi bila saya keliru. Karena seingat saya, Pak Basuki menyebutkan bahwa Qlue ini dibuat Pemerintah DKI dalam sambutan Hari Film Nasional.

Kelima, apakah Anies juga menerbitkan buku yang bisa diakses publik tentang alokasi anggaran, kebijakan KIP, tunjangan guru dan lain-lain selama menjadi Mendikbud?

Dalam buku Kilasan yang saya maksud, Anda bisa mendapatkan jawabannya. Mengenai kinerjanya, dia juga bisa diakses publik. Periksa, misalnya, http://sekolahkita.kemdikbud.go.id, itu portal yang merangkum dan memberikan data lengkap yang bisa menjadi rujukan bagi orang tua dalam memilih sekolah bagi anaknya. Anies telah melahirkan 40 kebijakan selama 20 bulan.

Soal anggaran, tahun ini Anies mulai detail melaporkannya. Ini infografis ketika anggaran Kemendikbud disepakati sebesar Rp 49 triliun, dan rencananya akan menjadi laporan tahunan Kemendikbud 2016. Namun, di tengah jalan Anies dicukupkan tugasnya. Infografis ini pula yang Anies serahkan kepada Pak Jokowi-JK saat dicukupkan tugasnya. Tapi, terima kasih sudah bertanya sehingga saya mendapatkan kesempatan untuk membagikannya ke publik luas.

Rencana pengelolaan dana Kemendikbud anggaran 2016.

Sebagai jalan awal transparansi anggaran pendidikan, Anies juga membuat Neraca Pendidikan Daerah (NPD) yang berisi laporan lengkap anggaran pendidikan satu daerah, mulai dari berapa jumlah dana untuk pendidikan yang dialokasikan sampai jumlah Angka Partisipasi Murni satu daerah. Dari NPD ini pula kami tahu bahwa ada 34% anak usia SMA yang tak bersekolah di Jakarta.

Keenam, Anies dan Prabowo.

Saya kira, pernyataan Anda spesifik dan bantahan saya spesifik pula. Sebenarnya, urusan ini bisa mudah sekali selesai dengan langsung menyatakan bahwa Anda keliru dan tak perlu bahas sana-sini. Tapi, Anda malah bersikukuh memblejeti pernyataan Anies soal Prabowo dalam Pemilihan Presiden 2014. Padahal, saya sudah meminta Anda berhati-hati menggunakan ukuran soal konsistensi ini, karena jika diterapkan kepada calon Anda, Anda bisa kerepotan.

Ketujuh, calon independen.

Karena Anda sebutkan, maka mari kita bahas. Soal independen ini menjadi penting karena prosesnya sangat politis. Mulai dari temuan dana siluman APBD dan Pak Basuki koar-koar ke publik bahwa ada dana siluman sebesar Rp 12,1 Triliun. Dari sini muncul citra bahwa Pak Basuki penjaga anggaran rakyat. Lalu ada gerakan yang diinisiasi Amalia, dkk. Saya mencermati gerakan ini yang berujung pendirian Teman Ahok. Sependek pengetahuan saya, Amalia ini bekerja di Cyrus Network (CN). Saya kurang tahu, apakah saat mengelola Teman Ahok, dia masih bekerja di CN atau tidak karena menurut penelusuran Tempo sebagian besar Teman Ahok ini berafiliasi dengan CN. Mohon koreksi saya, apakah saat itu CN masih konsultan politik atau sudah berubah menjadi gerakan sosial, sehingga dengan mudahnya memberikan dana awal sebesar 500 juta ke Teman Ahok?

Mengenai penjaga anggaran rakyat, ada yang menarik. Sebetulnya, kalau dihitung, anggaran rakyat yang Anies selamatkan lebih besar ketimbang Pak Basuki. Pak Basuki Rp 12,1 Triliun, sementara Anies menyelamatkan dana rakyat Rp 23,3 triliun.

Bedanya, Anies melaporkan temuannya ini dalam kerangka birokrasi, Pak Basuki membukanya kepada publik, lalu muncul gerakan yang berujung pendirian Teman Ahok. Ditambah, Anies melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp 6,5 triliun. Tapi, kami maklum kok. Mungkin Pak Basuki memerlukan momentum politik.

Kedelapan, Pak Basuki yang keluar dari Gerindera karena menolak kehendak Gerindera agar pilkada dikembalikan ke DPRD, menurut saya kok ya naif.

Pak Basuki itu politisi, sudah berganti setidaknya, lima kali pindah partai politik, masa tidak tahu bahwa itu wacana politik. Jika dia merasa bahwa dia memperjuangkan idenya, ya perjuangkan itu dengan keras lewat pendekatan politik. Lagi pula, wacana ini tak terbukti sampai sekarang.

Kesembilan, FPI.

Mohon maaf, saudara Husnil, saya ingin tertawa ketika saudara menyamakan kedatangan Presiden Jokowi dan Kapolri Tito Karnavian dengan kedatangan Anies Baswedan.

Sebelum menjawab soalan ini, saya ingin menyampaikan pesan teman saya, “Tentunya tawa Anda manis sekali.” Maaf, saya hanya #bantuteman.

Kenapa saya menyamakan kedatangan Presiden Jokowi dan Kapolri Tito Karnavian dengan kedatangan Anies? Ya, karena Anda menggunakan ukuran itu, bukan substansi pertemuannya. Baru sekarang Anda bahas substansinya. Baiklah, saya jawab pertanyaan Anda, dalam kapasitas apa Anies datang ke Petamburan? Calon Gubernur. Di sana Anies bukan mengajak persatuan. Di sana Anies berkampanye. Ia sedang membantah dirinya bukan liberal, syiah, Wahabi.

Ya, memang sebagai calon gubernur. Siapa yang memungkiri hal itu? Anies diundang Habib Rizieq karena banyaknya pertanyaan dan fitnahan mengenai dirinya yang sampai ke Habib Rizieq, anggota FPI, maupun simpatisannya. Anies diberi kesempatan untuk mengklarifikasi, ya dia gunakan kesempatan itu. Selain itu, yang juga penting, Anies menyampaikan soal keindonesiaan. Dengan ceramah soal Persatoean Arab Indonesia (yang kemudian berubah menjadi Partai Arab Indonesia), Anies sedang memberikan pandangan bahwa ada lho orang-orang Arab di Indonesia yang ketika Indonesia belum ada tapi sudah memproklamirkan Indonesia sebagai tanah airnya. Jadi, dia sedang memberikan pencerahan bahwa Indonesia adalah tanah air satu-satunya, dan jagalah Indonesia ini. Anies ceramah soal komitmen keindonesiaan di markas yang sering dicap sebagai anti NKRI? Apa ini kalau bukan nyali? Kalau bukan berani?

Mengenai sejarah PAI, saya bahas lain kali atau Anda bisa baca dulu sekilas di buku biografi Anies.

Mengenai kampanye, iya. Saya setuju. Anies sedang berkampanye anti reklamasi, dan diamini Habib Rizieq. Isu penting yang mungkin Anda lewatkan dalam kunjungan Anies ke Petamburan.

Mengenai ekstrem kanan, dsb, saya kira Indonesia memiliki konstitusi yang melindungi setiap orang untuk berpikir beda. Tapi, Indonesia mengharamkan tindakan kekerasan. Keberatan dengan pandangan ekstrem kanan, boleh. Namun, mereka tak patut ditangkap kecuali melakukan kekerasan atau melawan hukum. Fokus saja ke situ. Pikiran tak bisa dihukum. Tapi begini, jika menilai bahwa FPI itu ekstrem kanan, apa yang sudah Pak Basuki lakukan sebagai Gubernur? Sudahkah melakukan upaya-upaya moderasi? Karena tugas gubernur itu mengayomi semua pihak. Harus mau mendengarkan semua pihak. Jika merasa bahwa FPI memusuhi Pak Basuki, ya lakukan pendekatan dan ajak dialog, diskusi. Sekadar informasi, ekstrem kanan juga pernah memusuhi Anies, tapi Anies datangi mereka, ajak dialog. Anies hormati pandangan mereka, namun ketika mereka melakukan kekerasan, ya tidak ada pilihan lain kecuali tangkap.

Soal Paramadina api, mungkin Anda perlu wudhu agar emosi stabil kembali. Lalu, dengarkan kembali ceramah Anies soal ini. Anies jelas-jelas sedang menggunakan metafora api untuk menyebut kontroversi. Bukan Paramadina. Lagi pula, Anies melakukan banyak hal untuk Paramadina, di antaranya menyelamatkan kampus itu dari krisis dan mengumpulkan dana untuk pembangunan kampus sebesar Rp 62 milyar.

Jika ingin mengukur apakah Anies sedang merendahkan Paramadina atau tidak, pakai ukuran yang selama ini menjadi ruh Paramadina yang ditiupkan Cak Nur: Keislaman, Keindonesiaan, Kemodernan. Atau pakai ukuran manajemen, misalnya. Jika hanya termakan metafora itu, saya kira Anda akan terjebak pada simplifikasi berlebihan.

Mohon maaf, obrolan ini panjang. Namun, ya memang harus panjang, agar semuanya menjadi jelas.

Semoga berkenan.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

3 Comments

  1. Bijak

    Mas, bisa minta link tulisan balasan Tsamara yg menanggapi tulisan mas yg pertama (3 Januari)? Saya belum nemu. Trims.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *