Tangisan Ismail dan Abahnya

cerotan dinding Jan 22, 2017 No Comments

 

Anies menyampaikan tentang dia tak lagi menjadi menteri kepada Ismail, sang bungsu. Ismail kebingungan, tapi Anies memberikan penjelasan tentang tugasnya yang sudah berakhir di Kemendikbud. Disaksikan sang sulung, Tia, dan sang ibu, Prof. Aliyah Ganis. Foto: Ridwan alias Kelly.

Satu pagi, menjelang berangkat sekolah, Ismail menangis. Dia merengek meminta kesukaannya, nugget ayam. Hampir semua orang dapur, baik rumah maupun kantor, tahu bahwa Ismail gandrung nugget. Karena itu, dapur kementerian menyiapkan, setidaknya, dua bungkus nugget ayam di kulkas. Sebagai stok.

Penjaga dapur kementerian tak ingin Ismail menangis dan mengganggu kerja ayahnya. Pada suatu akhir pekan, Anies harus rapat di kantor. Karena akhir pekan adalah waktu bersama keluarga, sementara pekerjaan tak bisa ditinggal, Anies biasanya membawa keluarganya ke kantor. Ketika Anies sedang asyik-asyiknya rapat, Ismail tiba-tiba masuk ruangan rapat dan menangis. Anies sendiri tak merespons tangisan Ismail dengan memanggil Iman, penjaga dapur kementerian, tapi dengan menenangkan Ismail.

Atas peristiwa ini Iman mengambil prakarsa menyiapkan makanan kegandrungan Ismail. “Kan kasihan ayahnya, terganggu kerjanya. Makanya saya stok banyak, biar gak kehabisan,” kata Iman.

Tapi, pada pagi itu stok nugget di rumah habis. Melihat Ismail terus menangis, Oki tak tega. Oki ini asisten pribadi Anies. Kepada Fery, Oki mengajukan diri untuk mengambil stok nugget di kantor. Alih-alih mengamini, Fery justru mengatakan dengan tegas: “Jangan, biarkan saja. Tak usah, kalau tidak ada, ya tidak ada.”

Fery tak ingin anak-anaknya tumbuh dalam kenyamanan fasilitas. Sebagai pejabat negara, Anies memang mendapatkan banyak fasilitas, pelayanan, dan kemudahan. Ini juga dirasakan keluarganya, mulai dari mendapatkan tambahan pekerja rumah tangga sampai penjaga rumah. Semua fasilitas dan kemudahan itu dari negara. Di setiap kesempatan selalu ada yang membantu dan melayani Anies dan keluarganya.

Namun, Fery sadar bahwa semua itu tak mungkin selamanya melekat. Ini hanya sementara. Fery tidak ingin membiasakan anak-anaknya tumbuh dalam suasana kenyamanan fasilitas. Meski suaminya pejabat, Fery tak ingin mendapatkan fasilitas yang berlebihan. Dia yakin dan tahu dengan sadar bahwa semua itu akan dikembalikan ke negara segera setelah suaminya tak lagi menjadi pejabat.

Karena itu, ketika ada usaha untuk meredakan tangis Ismail karena meminta sesuatu yang saat itu memang tidak ada, Fery mencegahnya. “Biarkan saja, coba bayangkan nanti kalau Abahnya tidak menjadi menteri lagi? Siapa yang akan memperlakukannya seperti itu?”

Meski demikian, Fery mengarahkan anak-anaknya untuk menghargai semua orang yang membantu keluarga mereka. Mereka mementingkan hubungan antarmanusia, tak melihat struktur sosial. Tentu saja, ada intruksi dan sebagainya sebagaimana biasanya. Namun, semua dilakukan dengan rasa hormat dan saling menghargai.

Karena itu ketika akhirnya Anies dicukupkan tugasnya oleh Pak Jokowi pada 27 Juli, jawaban Tia, sang sulung, pendek saja ketika ditanya apa komentarnya tentang peristiwa yang menimpa abahnya: “ Yang pasti, kangen dengan teman-teman di sini. Sudah seperti keluarga.”

Tak aneh bila ketika Anies berpamitan ke karyawan Kemendikbud di atas panggung di Plaza Insan Berprestasi Anies berterima kasih kepada orang-orang yang bekerja secara sunyi sehingga membuat kerjanya menjadi lancar, seperti ajudannya, Kapten Afrizal dan Kapten Winarto, serta supirnya, Agus dan Didit “Waktu bekerja mereka lebih lama daripada saya.”
Juga kepada Yudi Nugroho dan Prihanto yang bertugas mengawal di jalanan dan membukakan jalan. “Ketika hujan lebat, mereka yang menerima hujannya. Ketika panas luar biasa, mereka yang terima panasnya,” katanya. “Juga kepada tim dapur yang makanannya enak sekali, sehingga ukuran badan agak terganggu.”
Ucapan yang terakhir itu disambut tawa dari ratusan hadirin yang memenuhi Plaza Insan Berprestasi. Beberapa orang yang sedang menitikkan air mata mengelap wajah mereka dengan tangan dan tisu dan terpaksa tersenyum.

Anies dan Fery. Foto: Ridwan alias Kelly

Dan memang, tak ada yang berubah dari keluarga ini sejak Anies tak lagi menjadi pejabat publik. Bahkan kini, ketika Anies mencalonkan diri sebagai pejabat publik dan mendapatkan fasilitas keluarga ini tak royal menggunakan fasilitas yang diberikan. Mereka bersikap seperti halnya biasa saja. Itu karena mereka tahu, jabatan dan posisi bisa berganti. Dalam hitungan hari.Tapi, menikmati hidup dengan biasa merupakan pilihan. Sedangkan menghargai dan menghormati setiap orang adalah kewajiban.

 

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *