Tega Betul Anda, Bung Monib (Bagian I)

cerotan dinding , Uncategorized Jan 11, 2017 7 Comments

Seorang teman sambil beristighfar memberikan tautan tulisan Bung Monib berjudul Sengkuni Ingin Jadi Gubernur DKI. Membaca tulisan itu, saya geleng-geleng kepala. Isinya prasangka dan informasi palsu tentang Anies. Saya butuh 4 hari untuk bisa menulis tanggapan ini. Perlu verifikasi kembali banyak data dan perlu melihat reaksi Anies secara langsung; saya baru bertemu 3 hari kemudian. Yang menyebalkan, Anies cuma mesem-mesem begitu saya tunjukkan tulisan itu. (Apa gak sebel ketika tahu bahwa ada informasi palsu tentang dirinya lalu dia cuma senyam-senyum begitu?)

Saya menulis tanggapan ini dari sisi Anies. Karena banyak data, fakta, dan cerita yang perlu saya sampaikan, saya membagi tulisan ini menjadi dua bagian. Ini bagian pertama. Sumber saya, Anies, Sudirman Said, Utomo Danandjaja (alm), tulisan Suratno, dosen Paramadina, dan buku biografi Cak Nur Api Islam. Saya mewawancarai Utomo (alm.) pada 2012 di Bandung untuk keperluan penulisan buku biografi Anies.

Ada beberapa yang tak perlu ditanggapi dari tulisan Bung Monib, tapi banyak yang harus diluruskan.

Pertama, Bila kita cermati, pasangan calon gubernur urut 3 ini memang wataknya sradak-sruduk, meludah ke langit ke sana kemari demi ambisi jabatan & nafsu politiknya. Masih ingat kan keikutsertaan dia dalam Konvensi Demokrat yang tak punya tradisi demokratis itu?Masih ingat kan omongannya yang pedes dan buruk pada Jokowi?

Dalam melihat perjalanan seseorang, saya kira Bung Monib mesti melihat konteks. Jika hanya melihat satu peristiwa tanpa konteks, saya khawatir pembacaannya akan jatuh kepada penyederhanaan. Misalnya, jika kita membaca sejarah Cak Nur (alm.) yang merapat ke Golkar dan PKS untuk menjadi calon presiden, tanpa melihat konteks maka bukan tak mungkin Cak Nur dianggap ambisi jabatan dan memenuhi nafsu politik juga. Padahal, konteksnya saat itu Cak Nur didorong teman-temannya yang tergabung dalam Perhimpunan Kembali Membangun Indonesia (PMKI). Misinya membuat Indonesia lebih baik. Nah, konteks Anies adalah Anies diundang menjadi peserta konvensi Partai Demokrat dan dia penuhi undangan itu. Pada 2014, Konvensi Demokrat merupakan terobosan bagus secara politik. Cerita dan fakta soal ini sudah berlimpah di internet. Mengenai omongan pedes dan buruk pada Jokowi klarifikasi dari Anies sudah banyak jika Bung Monib berkenan mencarinya di internet. Permasalahannya, mau mencari atau tidak.

Kedua, penting untuk melihat bagaimana Bung Monib memosisikan Anies. Misalnya, pernyataan Bung Monib ketika Anies di The Indonesian Institute, “saat itu dia belum siapa2. Hanya doktor politik alumni Amerika. Publik tak mengenalnya. Itu karena, ia tak punya karya & prestasi apa2.” Atau ketika Anies terpilih sebagai rektor, “dia dipilih dalam kualifikasi remang2”, “saat itu, jangankan berkarya, nama Anies Baswedan sebagai cleaning service pun tidak ada”. Bung Monib juga menilai Anies belum berkeringat di Universitas Paramadina saat Anies terpilih sebagai rektor.

Melihat data perjalanan Anies sepulang sekolah dari Amerika pada 2005-2008, tampaknya Bung Monib benar. Pada masa itu Anies memang bukan siapa-siapa. Dia hanya dikenal sebagian orang sebagai mantan Ketua Senat UGM, mantan pembawa acara Tanah Merdeka TVRI, salah seorang penggerak demonstrasi SDSB terbesar di Yogyakarta, doktor lulusan Amerika, manajer riset sebuah perusahaan Amerika, direktur riset The Indonesian Institute (TII), direktur riset Lembaga Suvei Indonesia (LSI), dan kemudian National Advisor di Kemitraan. Karyanya juga cuma 3 tulisannya terbit di jurnal internasional (1, Review buku The Indonesian Economy bersama Dwight King di Journal of Asian Studies; 2, Political Islam in Indonesia: Present and Future Trajectory, Asian Survey; 3, Indonesian Politics in 2007: The Presidency, Local Elections and The Future of Democracy, Bulletin of Indonesian and Economic Studies, Australian National University), dan opininya cuma tersebar di Kompas, Jawa Pos, Republika, dan majalah Gatra. Saat di Kemitraan, Anies merancang Partnership Government Index (PGI), instrumen untuk mengukur efektivitas pemerintahan daerah. Jika dibandingkan dengan Bung Monib tentu Anies bukan siapa-siapa. Saat itu, apalagi sekarang.

(Tolong, jangan sampai ada yang membayangkan Anies bilang, “Aku mah apa atuh?”)

Ketiga, “Setelah kemelut panjang dalam suksesi rektor Universitas Paramadina pasca wafat Cak Nur, Anies Baswedan nyelinap dalam tikungan.

Saya menggarisbawahi kata nyelinap, seakan terpilihnya Anies menjadi rektor atas kemauan Anies sendiri. Padahal, soal ini sudah beberapa kali dibahas. Oleh orang-orang yang kredibilitasnya tinggi, seperti Suratno, dosen Universitas Paramadina, dan Gaus Ahmad dalam buku biografi Cak Nur. Saya ringkaskan proses pemilihan rektor ini. Sebelum jauh, Paramadina itu ada dua. Pertama Yayasan Wakaf Paramadina (YWP) dan kedua Universitas Paramadina (UPM). Secara struktur, UPM berada di bawah YWP. Anies menjadi pengurus YWP sekitar 2006. Meski menjadi pengurus YWP, Anies tak memiliki hak suara.

Pada 2007 UPM mengadakan pemilihan rektor. Berdasarkan statuta, pemilihan rektor dilakukan 2 tahap. Pertama, anggota Senat Universitas yang terdiri dari para pendiri dan guru besar memilih sejumlah nama calon untuk mereka usulkan kepada YWP. Kedua, pemilihan dan pengesahan rektor baru oleh pengurus YWP.

Menurut Utomo dan Sudirman Said, ada beberapa calon saat itu: Yudi Latief, Hendro Martowardojo, Sohibul Iman, Ichlasul Amal, Imam B. Prasodjo, Jimly Asshiddiqie, Komaruddin Hidayat, dan Azyumardi Azra. (Data ini bisa berubah jika ada yang mengajukan data lain). Anies sempat diusulkan, namun menolak karena khawatir dibaca melakukan nepotisme –pamannya, Ahmad Ganis, adalah pengurus YWP. Ahmad Ganis ini pengusaha yang meminjamkan gedungnya untuk kegiatan-kegiatan awal UPM.

Sohibul Iman memilih mundur di tengah jalan karena satu dan lain hal. Pada tahap pertama, Yudi Latif mengantongi suara terbanyak. Namun, ketika memasuki tahap kedua, pengurus YWP enggan memilih Yudi dan mengesahkannya.

Lalu, Senat Universitas Paramadina mengocok lagi beberapa nama untuk mereka usulkan kepada YWP. Saat inilah nama Anies muncul bersama empat nama lain: Imam Prasodjo, Jimly Asshiddiqie, Ichlasul Amal, dan Hendro Martowardojo. Sudirman yang memunculkan nama Anies. Alasannya sederhana, selain punya potensi untuk memimpin kampus, Anies tak terlibat konflik dalam pemilihan rektor sebelumnya.

Sudirman merupakan pejabat rektor yang ditunjuk langsung pendiri dan rektor pertama UPM: Nurcholish Madjid (alm.). Cak Nur, panggilan Nurcholish Madjid, memilih Sudirman dengan tujuan membenahi manajemen UPM yang saat itu sedang krisis. Dalam sejarah UPM, Sudirman tercatat sebagai salah seorang yang terlibat saat diskusi-diskusi awal pendirian universitas.

Sudirman mengajukan tiga syarat saat mengiyakan permintaan Cak Nur: hanya sementara, membenahi manajemen, dan tak digaji. “Kampus saat itu punya banyak masalah dalam bidang manajemen, di antaranya perizinan beberapa jurusan yang sudah kadaluwarsa tapi tak segera diurus,” kata Sudirman.

Untuk membenahi manajemen, Sudirman mengganti beberapa pengurus kampus dan mengajak Sohibul Iman dan Agus Nurhadi untuk menjadi deputi rektor. Orang lama yang masih tersisa menjadi deputi rektor hanya Yudi Latif.

Pada 2005 Sudirman mengundurkan diri karena mendapatkan tugas mengelola Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh setelah sebagian negeri Serambi Mekkah terkena tsunami pada Desember 2004. Posisinya digantikan Sohibul Iman.

Kembali kepada pemilihan rektor. Pada tahap ini senat dan yayasan memilih Hendro Martowardojo. Hendro seorang pengusaha dan pengurus YWP. Yayasan menganggap dia mampu dalam bidang manajerial. Hendro pun menelepon Anies untuk membantunya di universitas, dan Anies menyanggupi. Kemampuan manajerial merupakan faktor penting dalam pemilihan rektor. Karena, lagi-lagi, UPM sedang dalam krisis.

Hasil pemilihan itu menyisakan luka. Isu tak sedap berseliweran. Desas-desus menyebutkan, Hendro tak layak menggantikan Cak Nur karena lebih dikenal sebagai pengusaha ketimbang intelektual. Pamor UPM sebagai kampus yang didirikan seorang intelektual sebesar Cak Nur tentu akan turun, begitu bunyi salah satu kasakkusuk itu.

Konflik kian menganga dengan kehadiran Omi Komaria Madjid, istri almarhum Cak Nur, yang cenderung berpihak kepada Yudi Latif. Sebelumnya, dia tersinggung karena YWP memberi uang sebagai kompensasi atas wafatnya Cak Nur.

Dampak konfik ini luar biasa. Pada hari pelantikan, ketika kampus Paramadina di Gatot Soebroto dipenuhi karangan bunga ucapan selamat dan semua orang siap menyambut rektor baru, pidato Hendro mengejutkan banyak orang. Dia mengundurkan diri. Alasannya, tak ingin terseret dalam pusaran konflik. Lebih baik dia mengurusi bisnis saja ketimbang mengelola kampus yang sudah telanjur berkubang seteru.

Cuplikan biografi Nurcholish Madjid Api Islam yang menceritakan “keringat” Hendro dalam membangun UPM.

Perlu waktu beberapa bulan bagi Senat dan YWP untuk mendinginkan konflik sambil mencari-cari rektor baru. Namun, karena sudah ada beberapa usulan calon, Senat Universitas tak mengadakan rapat untuk ketiga kalinya. Yayasan tinggal memutuskan saja dari calon-calon yang diusulkan senat. Saat itulah Anies dipilih YWP.

Anies canggung saat mendengar ia dipilih. Dia bukan siapa-siapa dan bergabung dengan YWP pun baru seumur jagung. Dia menelpon Utomo, salah seorang pendiri YWP. “Pak Utomo, saya Anies. Saya dicalonkan menjadi rektor. Tapi saya tahu diri. Saya tak pernah mencari kedudukan. Saya masih muda, baru datang dari Amerika, belum berpengalaman. Jadi, saya merasa tidak pantas,” kata Anies.

“Hargailah lembaga Senat Paramadina. Kamu sendiri belum tentu terpilih, sebab baru dicalonkan. Saya sendiri mencalonkan Yudi Latif. Jadi, sekarang kita serahkan saja ke Yayasan. Kalau kamu tidak terpilih, ya jangan kecewa. Tapi kalau terpilih, itu nasib. Kamu harus bertanggung jawab,” jawab Utomo. Saat itu Utomo, dan juga beberapa orang di Paramadina, tak terlalu mengenal Anies. Anies berterima kasih atas nasihat Utomo, dan akan menjalankannya jika memang terpilih.

Anies menjadi pilihan terakhir, karena calon lainnya yang tersisa mengundurkan diri dan ada pula yang tak bisa meluangkan waktu secara penuh. Mendengar keputusan ini, Anies meminta waktu. Dia mendiskusikannya dengan keluarga besarnya.

Namun, dari segi gaji rektor ini kecil dibandingkan beberapa pekerjaannya di lembaga penelitian dan, apalagi, Kemitraan; hampir setengahnya. Di Kemitraan, Anies mendapatkan kemakmuran dan fasilitas sebagaimana bekerja di lembaga internasional.

“Sejak kapan uang menjadi prioritas kita?” tanya Samhari, pamannya, ketika mereka berdiskusi tentang hal ini. Anies tertawa mendapatkan pertanyaan ini.

Bagaimana soal gaji ini menurut Fery Farhati, istrinya?

“Gak masalah selama pekerjaan itu baik dan dia suka. Dibanding dia kerja di Kemitraan, efek (Paramadina) akan lebih besar buat Anies. Artinya, kehilangan penghasilan itu bagian kecil dari hal yang akan diperoleh. Kenapa harus mengorbankan sesuatu yang terhormat untuk penghasilan? Penghasilan kita bisa menyesuaikan, kita dapat segini ya cukup, kita dapat lebih, ya cukup. Artinya, dengan sendirinya kita akan fleksibel. (Gaji) bukan hal utama selama anak-anak masih bisa sekolah.”

Setelah mendapatkan dukungan dari keluarga besar dan istri tercinta, Anies menerima tanggung jawab ini dengan syarat bahwa pemilihannya bisa menjadi jalan tengah, bukan menjadi konflik baru. “Saya tak berjuang untuk pekerjaan ini, tapi saya akan memperjuangkannya,” kata Anies. Makanya, hal pertama yang Anies lakukan adalah mengurangi konflik. Ditemani seorang pengurus YWP dia sowan ke semua pengurus dan senior Paramadina.

Anies mendatangi Omi Komaria, Yudi, dan pihak-pihak yang bertikai. Dia mendudukkan perkaranya. Dia tak ingin ada perseteruan lagi di kampus dan fokus membangun UPM.

Sempat tersiar kabar bahwa Anies memecat Yudi. Menurut Anies, dia tak pernah memecatnya. Menurut administrasi Universitas Paramadina, Yudi tak pernah tercatat sebagai karyawan. Masa baktinya sebagai deputi rektor memang sudah habis. Keduanya sempat saling mengajak bertemu, tapi karena kesibukan masing-masing pertemuan itu tak pernah terlaksana.

Sempat juga ada isu bahwa Anies terpilih menjadi rektor karena faktor pamannya di YWP. Utomo membantah isu. “Tak benar Anies dibawa pamannya karena yang memilih rektor itu Senat dan di Senat tidak ada pamannya. Pamannya ada di Yayasan. Yang pertama kali memunculkan nama Anies adalah Senat, Ganis tak termasuk anggota Senat,” katanya.

Anies masuk bursa karena dia pengurus YWP dan namanya diajukan Sudirman Said. Dia pun pilihan paling buncit. Dan, yang duduk di YWP bukan hanya paman Anies, tapi orang seperti Jusuf Kalla, Fahmi Idris, dan Didik J Rachbini.

Bagaimanapun, terpilihnya Anies menggoreskan luka di Paramadina. Anies menyadari itu dan berusaha menyembuhkan luka tersebut. Menurut Anies, siapa pun yang terpilih menjadi rektor pasti terkena imbas konflik dan menyisakan luka. Siapa pun, tak terkecuali Anies. Hendro yang sudah nyata-nyata berkeringat saja terkena konflik demikian keras, sehingga dia tak meneruskan jalannya. Karena itu Anies sowan ke semua pihak. Ada banyak isu tak sedap mengenai Anies, salah satunya melalui pesan pendek yang beredar saat itu. Saya tak berminat membuka siapa yang menyebarkan pesan pendek itu. Tak bermanfaat, selain fakta bahwa peristiwanya sudah lewat. Kalau istilah anak sekarang, Anies sudah move on sejak lama.

Pilihan Anies saat itu adalah apakah dia terlalu larut dalam menyelesaikan luka, sementara dia sendiri sudah berusaha, atau menyelamatkan perahu UPM yang sudah oleng? Ada salah satu kaidah ushul fiqh yang beberapa kali disitir Cak Nur dan relevan terkait ini, ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu (Sesuatu yang jika tak bisa dipenuhi semuanya, maka jangan tinggalkan semuanya). Dan Anies memilih membangun UPM. Bagaimana pun, dia tak bisa mengontrol perasaan atau pikiran seseorang. Dia sudah berikhtiar, ada pun perubahan memang hanya bisa terjadi jika yang bersangkutan mau berubah. Bukankah ini sudah disinggung Al-Quran bahwa sesungguhnya Allah takkan bisa mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah sendiri apa yang ada dalam diri mereka (Al-Ra’d [13]: 11).

Melihat kronologi ini, Anies jelas tak menyelinap dalam tikungan pada proses pemilihan rektor.

Apakah Anies menawarkan kesepakatan politik dengan Bung Monib? Kita bahas di Bagian II.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

7 Comments

    • husnil

      Makasih, Mas. Semoga bermanfaat. 🙂

  1. difebri

    terimakasih atas tulisan ini, mas. jd ada pandangan yg berimbang. salah satu sumber untuk tulisan ini adalah pak suratno. tp mungkin tulisan dia wkt masih jd pemuja pak anis. skrg pastinya beda. sy cuma heran aja sm org2 tipe worshipper kayak gini. skrg lg worship bu omi, soalnya akrab sm ahok…hahah. spt yg mas tulis, gak bisa liat konteksnya apa. pdhal dia seorg peneliti cum intelektual.

    • Muhammad Husnil

      Semoga menjadi pelajaran saja bagi kita masing-masing, Mas. Terutama bagi saya, agar tetap kritis juga dalam membaca dan menghadirkan tulisan tentang Mas Anies. Terima kasih sudah membaca.. 🙂

  2. Chitra

    Mas Husnil menulis apa yg sudah diketahui di permukaan, tp tidak menjelaskan apa yg ada di bawah permukaan. Misalnya: mengapa YWP tidak mau mengesahkan Yudi Latif di round pertama? Melihat rekam jejak mas yudi yg belakangan semakin intelektual dan mewarisi pemikiran Cak Nur, vis a vis mas Anies yg skrg makin politis dan tidak segan2 melawan konsepnyasendiri demi suara, misteri seputar pemilihan ini makin relevan.

    • Muhammad Husnil

      Saya sudah bahas sebenarnya di buku saya. Saya sengaja tak bahas fase itu di artikel ini karena ceritanya terlalu panjang dan sebenarnya tak terkait dengan Mas Anies. Tak ada urusan dengan Mas Anies.

      Mengenai Kang Yudi Latif yang semakin intelektual jika ukurannya karya tulis, Mas Anies juga belum terkalahkan. Mas Anies menulis 3 artikel di jurnal internasional, sementara Kang Yudi belum. Soal artikel dll, Mas Anies juga masih menulis kok.

      Soal daya politik Cak Nur dan Mas Anies, ada fase penting dalam periode Cak Nur yang terlewat: Cak Nur menjadi jubir PPP, padahal sebelumnya dia bilang Islam Yes, Partai Islam No!, dia juga menjadi anggota MPR, dan Cak Nur mencalonkan diri sebagai capres dari PKS, partai Islam. Satu hal yang bertentangan dengan argumen penting Cak Nur saat proses pembaharuan pemikiran Islam.

      Poin saya, Cak Nur juga politisi, begitu pun Mas Anies. 🙂

    • M. Bagir

      Yudi dan Anies sama2 menangguk ilmundi Paramadina, keduanya punya jalan sesuai bangunan dirinya…keduanya bermanfaat bagi Bangsa Indonesia bagi daya saing anak Bangsa dibanding Bangsa lainya… untuk itu pelajaran dari Monib tidaklah tepat bagi kultur akademisi dan etika cak Nur maupun Paramadina… mencermatinya sungguh naif dlm era penuh tantangan Monib mematahkan kakinya bila ia memang masih teguh dgn keyakinan keesaan Tuhan yg ia yakini dan ia gunakan nama utusaNya sbg nama dirinya… memang Monib tak tau segalanya shg layak didipercaya mutlak benar kalam nya.. mungkin Monib membuka aib anies…mungkin Monib membuka aib nya sendiri… aaahh tak taulah aku… aku suka yudi dan aku suka Anies. Dalam pilgub DKi aku berdoa anis memimpin…walau aku bukan warga DKi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *