Tega Betul Anda, Bung Monib (Bagian II-Habis)

cerotan dinding Jan 12, 2017 2 Comments

 

Ini merupakan bagian terakhir dari tanggapan atas tulisan Bung Monib berjudul Sengkuni Ingin Jadi Gubernur DKI.

Keempat, Dia dipilih dalam kualifikasi remang2 dalam struktur yayasan yang tak berjalan sehat.

Untuk kualifikasi remang-remang, saya kira penting untuk melihat kembali bagaimana Bung Monib memosisikan Anies pada poin kedua. Mengenai struktur yayasan yang tak berjalan sehat, tak ada hubungan dengan Anies. Anies dipilih, bukan memilih. Dia diminta, bukan meminta. Lagi pula, dia saat itu sedang menggeluti dunia profesional yang menjadi kepakarannya di Kemitraan, desentralisasi. Di Kemitraan ini dia mendapatkan kemakmuran dan fasilitas yang lebih jika dibandingkan dengan Universitas Paramadina.

Kelima, Alasan mendasarnya belum berkeringat & tak mengeluarkan peluh bagi perjalanan Paramadina. Penolakan paling keras dari istri almarhum Cak Nur. Anies tidak legitimate sebagai rektor.

Soal Anies belum berkeringat, bahkan orang yang sudah sangat berkeringat seperti Hendro saja ditolak. Hendro bekerja tak hanya tenaga, tapi juga dana. Hendro ini, misalnya, yang memberikan pinjaman kepada UPM agar bisa menempati lahan kampus yang sekarang ini. Namun, ketika dia terpilih sebagai rektor, dia diserang isu-isu tak sedap sehingga menyatakan mundur pada saat mestinya dia dilantik. Bayangkan, ketika itu kampus sudah dipenuhi bunga ucapan selamat dari berbagai kalangan, namun Hendro menyatakan mundur ketika dia mestinya mengucapkan pidato pertamanya sebagai rektor. Karena dia diserang isu negatif.

Cuplikan biografi Nurcholish Madjid, Api Islam: Jalan Hidup Seorang Visioner.

Begitulah kondisinya UPM. Orang yang sudah berkeringat kena isu, apalagi orang yang belum berkeringat, seperti Anies.

Mengenai legitimate atau tidak, yang menentukan YWP. Jika memang Anies tak legitimate, dia bisa dihentikan di tengah jalan. Buktinya tak pernah ada upaya-upaya YWP untuk melengserkan Anies sebagai rektor.

Tapi begini, diskusinya akan lebih produktif bila diarahkan kepada apa kerugian/keuntungan secara sosial dan material dari kehadiran Anies di Paramadina ketimbang membahas mengenai berkeringat/tidak. Silakan Bung Monib mengajukan ukuran-ukuran yang bisa diuji publik.

Dari sisi Anies, sekilas saja, mungkin dia tak berkeringat, namun jelas dia ambil kesempatan untuk berkiprah dan membantu Paramadina yang sedang dalam krisis. Sekarang UPM mendapatkan banyak manfaat dari kehadirannya. UPM mendapatkan banyak perhatian, di antaranya, dengan mata kuliah anti korupsi. Dan, Anies berhasil mengumpulkan dana untuk membangun kampus sebanyak Rp 65 milyar. Padahal, pengumpulan ini bukan tugas Anies sebagai rektor. Anies juga berhasil mengatasi soal dana. Berikut ini data perbandingan UPM 2007-2013. Sampai 2013 karena itu masa dia cuti karena dia diundang menjadi peserta konvensi Partai Demokrat.

Perkembangan UPM. Sumber: UPM.

Keenam, Dalam kondisi itu, saya menginisiasi lobby2 & jalan keluar dalam struktur rektorat. Saya ajukan nama seseorang dari pihak penentangnya. Itu sebagai upaya merekonsiliasi pihak-pihak yang bersitegang. Anies setuju & lobby2 saya jalankan. Ringkas kata, situasi mendingin & sahabat itu dilantik sebagai rektor.

Penentangnya. Pertanyaannya: apakah Anies saat itu berkonflik secara langsung atau dia mendapatkan imbas dari konflik sebelumnya? Melihat kronologi yang saya sebutkan pada poin ketiga (Bagian I), jelas Anies tak pernah memancing konflik. Anies mendapatkan imbas dari konflik sebelumnya. Dan pun dia sudah berusaha mengatasinya. Tak ada penantang dalam artian Anies membuka konflik.

Yang menarik, menurut Anies yang mengajak dia untuk sowan ke banyak pengurus, termasuk ke Ibu Omi Komaria bukan Bung Monib. Ada satu orang, tapi Anies pastikan bukan Bung Monib. Soal apakah pada pertemuan itu Anies ditemani Bung Monib, itu lain hal. Yang ditekankan di sini yang mengajak. Anies pun tak mengetahui jika Bung Monib melakukan pendekatan ke banyak pihak di UPM dan YWP. Saya tak berminat membuka identitas nama orang yang membantu Anies ini, agar perdebatan soal ini tak melebar ke mana-mana. Namun dapat dipastikan, tidak ada obrolan mengenai struktur rektorat dan tidak ada kesepakatan apa pun antara Anies dan Bung Monib.

Mengenai perkoncoan, dan sebagainya, saya kira Bung Monib mesti melihat fakta ini: Cak Nur menunjuk Sudirman Said sebagai pejabat rektor. Tegakah Bung Monib bilang Cak Nur sedang melakukan perkoncoan?

Soal lelang publik, profesionalisme, dan sebagainya, jika benar maka Sudirman takkan melakukan perombakan struktur dalam jajaran rektorat untuk melakukan perbaikan manajemen. Sudirman sendiri terbukti menemukan banyak hal yang harus diselesaikan dalam bidang manajemen UPM. Langkah Sudirman ini direstui Cak Nur. Fakta ini saja membantah “tradisi Cak Nur, purek2 saat itu dipilih lewat lelang publik dengan taat prinsip profesionalisme & skrening ketat”.

Yang paling krusial, penunjukkan deputi rektor merupakan kewenangan penuh seorang rektor. Ketimbang terjebak dalam isu perkoncoan, bagaimana kalau kita ubah diskusinya menjadi seberapa efektif Anies dalam menjalankan perannya sebagai rektor dalam manajemen UPM. Tunjukkan datanya, baik kualitatif maupun kuantitatif. Dari sisi Anies data di atas sudah cukup mewakili.

Ketujuh, gagasan & pemikiran keislaman Paramadina tidak lahir dari universitas Paramadina. Gagasan2 baru keislaman itu lahir dari Klub Kajian Agama. Justru universitas Paramadina lahir dari obrolan para jamaah KKA untuk pengejawantahan gagasan & pemikiran keislaman. Salah satu fakultasnya adalah Fak Agama & Falsafah. Karena ahistoris Anies tak menyukai fakultas ini. Hampir2 dibubarkan. Padahal itulah ruh universitas Paramadina. Tanpa fakultas ini, dimana letak istimewanya kampus ini?

Mengenai KKA, mati-hidupnya bukan menjadi tanggung jawab Anies. Itu kewenangan YWP. Jika pada akhirnya KKA berjalan hanya beberapa kali setelah Cak Nur wafat, tak ada hubungannya dengan Anies. Itu bukti ketidakmampuan penanggung jawab.

Dan, pada era Anies tak pernah ada rencana pembubaran Fakultas Agama dan Falsafah. Ini hanya isu yang ditiupkan, bahkan sebelum Anies ditunjuk menjadi rektor. Buktinya ada di buku biografi Cak Nur. Di situ terbuka siapa yang melempar isu tersebut, tanpa memberikan bukti. Sekarang, isu ini ditiup kembali. Mau membubarkan bagaimana wong Anies memberikan beasiswa Paramadina Fellowship yang membuat agar fakultas tersebut mendapatkan mahasiswa tanpa harus memikirkan biaya.

Kedelapan, Anies bagi saya benar2 sengkuni, lupa diri, demi ratingnya bisa naik & bisa dapat kursi DKI 1, rela ngarang cerita, membual tentang Paramadina & mengatakan yang tak tepat lembaga yang ditungganginya untuk populer & ngejar ambisi politik. Tabrak sana sini. Saya kuatir juga, jangan2 Indonesia Mengajar pun bukan karyanya?!Jangan2 lho!

Mengenai sengkuni, tabrak sana-sini, dan lainnya, mungkin sebaiknya Bung Monib wudhu dulu. 🙂

Ihwal lembaga yang ditunggangi untuk populer, saya kira Bung Monib perlu mengecek fakta ini: UPM saat itu hanya dikenal di kalangan menengah atas, yang memang selama ini menjadi sasaran dakwah Paramadina. Tapi, berkat program Paramadina Fellowship, informasi mengenai Paramadina masuk ke banyak daerah di Indonesia. Karena Paramadina Fellowship ini merekrut siswa se-Indonesia dan banyak melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah di daerah.

Keterkenalan Anies naik bukan hanya karena faktor Paramadina. Menyebut Paramadina sebagai faktor tanpa melihat kualitas, akan jatuh kepada penyederhanaan berlebihan. Toh, Cak Nur besar bukan karena faktor Paramadina, melainkan kualitas dirinya. Di mana pun, Cak Nur akan besar namanya.

Sedangkan Anies populer selain karena Paramadina juga karena faktor komunikasi dan kemampuan merangkai kata dan membuktikan dia bisa bekerja, sehingga bisa menggerakkan banyak orang. Berkat kemampuannya ini Anies bisa membuat banyak orang melirik Paramadina. Bisa dilihat buktinya: Paramadina Fellowship mengajak pengusaha dan perusahaan, mendapatkan pinjaman gedung untuk Paramadina Graduate School, dan ketika kampus sudah penuh dengan mahasiswa maka ia dan timnya membuka penggalangan dana untuk pendirian kampus; dan di Indonesia Mengajar (IM) dia mendapatkan banyak dukungan, ya berkat kemampuan komunikasinya. IM ini tak terkait sama sekali dengan Paramadina.

Soal IM ini sudah banyak yang menulis. Buktinya sudah di mana-mana, anak-anak muda yang mengikuti pun bisa bersaksi. Bahwa ini bukan gagasan orisinil Anies, memang. Anies mengakui bahwa IM ini diilhami Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) yang dulu diprakarsai Koesnadi Hardjasoemantri, mantan rektor UGM. Informasi mengenai ini sudah berlimpah di internet. Semoga prasangka Bung Monib yang ini terjawab tuntas.

Kesembilan, Mas Anies apa yang kamu maksudnya api dalam kalimat itu? sesuatu yang kontraversial dalam gagasan keislaman sejak jaman Ca Nur itu? Nikah beda agama maksudnya?Jangan sembarangan dong?Jangan gelap mat dung!

Kontroversi yang Anies maksudkan adalah Nikah Beda Agama. Setelah terpilih menjadi rektor, sebagai universitas swasta Anies dituntut bisa menghadirkan mahasiswa. Namun, menurut riset yang diadakan UPM, rata-rata orang tua keberatan memasukkan anak mereka ke UPM karena persoalan Nikah Beda Agama. Anies lalu mengutarakan temuan ini ke YWP. YWP memutuskan untuk menghentikan kegiatan ini. Ini kesepakatan bersama. Lagi pula, pernikahan merupakan domain pemerintah, bukan swasta. Urusan agama tak pernah didesentralisasi dan tak pernah diswastanisasi. Anies dan YWP mengembalikan kewenangan kepada pemerintah. Sesederhana itu. Namun, tampaknya keputusan ini berdampak kepada Bung Monib, sehingga persoalannya tak kunjung selesai sampai sekarang.

Ya, Paramadina mencetuskan kontroversi, tapi Paramadina juga memadamkan kontroversi. Mengenai perkembangan ilmu pengetahuan di Paramadina, saya kira mesti mengukur secara cermat bagaimana situasi di Paramadina sekarang ini, ketimbang hanya mengukur dari sisi kontroversi atau tidak. Lagi pula, mata kuliah anti-korupsi tak menjadi kontroversi ketika dia ditiru universitas lain. Anti-korupsi juga bagian dari semangat Cak Nur. Selain itu, diskusi-disksusi isu kemajemukan, kesetaraan, masih berjalan di UPM, seperti Nucholish Madjid Memorial Lecture yang disampaikan Goenawan Mohammad, Syafii Maarif, dan Karlina Supelli. Diskursus pengetahuan tak pernah berhenti.

Kesepuluh, dulu di Gontor ada mahfudzat, kata2 mutiara yang ditancapkan dalam jiwa santri:” inna al fata man yaqulu ha anadza. Walaysa al fata man yaqulu kana abi aw jaddi. Sungguh, seseorang disebut pemuda bila ia bilang: ne gue. Bukan yang hanya mampu bilang: bapak & kakek gue gine lho!. Tunjukkan sahabatku:”mana karya-karya orisinilmu?

Mengenai ini, prestasi Anies dijembreng sedemikian banyak pun tampaknya tak bakal memuaskan Bung Monib. Memang, Bung Monib lebih baik daripada Anies, mulai dari prestasi maupun pribadi. Masalah selesai.

Kesebelas, mata kuliah LGBT. Yang meminta bukan pengurus Paramadina, melainkan sebuah lembaga nirlaba dari Amerika. Bung Monib terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dalam hal ini, Anies tak setuju. Sebagai rektor universitas yang berlandaskan Islam, Anies menilai bahwa tentu kondisinya tak bakal produktif jika dia menerima tawaran tersebut. Ini bukan menawarkan diskusi, melainkan mata kuliah. Ini sikap pribadi Anies dan posisinya sebagai rektor. Sikap ini mesti dihargai. Sebagaimana Anies menghargai pemikiran siapa pun dan apa pun. Asal tak melanggar hukum. Namun, dia sebagai pejabat publik tak pernah melahirkan kebijakan yang mendiskriminasi kalangan siapa pun. Sebagai pejabat publik, pegangan dia adalah konstitusi dan setiap orang memilki hak yang sama di hadapan negara.

Terakhir, saya tak habis pikir Bung Monib menulis tentang sahabatnya dengan prasangka dan informasi palsu. Terhadap. Sahabatnya. Sendiri. Jika terhadap sahabat saja Bung Monib bisa demikian, entah bagaimana sikapnya terhadap teman-temannya jika suatu saat dia berseberangan dengan mereka?

Wallahu al-musta’an.

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *