Tabarrukan kepada Abuya Sayid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani

cerotan dinding Aug 29, 2017 No Comments

 

Alhamdulillah, bisa tabarrukan ke Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Saya dulu berkali-kali mendengar nama dan kisah tentang ayahnya, Sayid Muhammad dari K.H. Masruri Abdul Mughni, Allahu yarhamhuma. Cerita mengenai keilmuan Allahu yarham Sayid Muhammad yang luas juga soal akhlaknya yang mulia terus terngiang dalam benak saya. Meskipun dikenal sebagai ulama besar, Sayid Muhammad tetap haus ilmu pengetahuan, rendah hati, mencintai para ulama, dan menghormati tamu. Nasab Sayid Muhammad tersambung sampai putri Nabi Muhammad dan keponakan Nabi, Sayyidah Fathimah dan Ali ibn Abi Thalib karoma Allahu wajhah.

Pada malam 29 Agustus 2017/6 Dzul Hijjah 1438, saya mendapati cerita Allahu yarham Abah Kyai Masruri dalam kenyataan berkat putranya, Sayid Ahmad. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Hampir tak ada beda antara cerita-cerita tentang Sayid Muhammad dengan melihat Sayid Ahmad. Beliau ini meneruskan perjalanan dakwah yang telah dirintis para pendahulunya, dan merupakan salah satu rujukan ulama Sunni di Haramayn. Ada banyak santrinya yang berasal dari Indonesia, rata-rata merupakan putra kyai atau Gus.

Kami sendiri hadir pada acara tersebut untuk memenuhi janji Mas Anies yang pernah diucapkan sebelumnya. Pada sekitar Ramadhan kemarin Mas Anies dan keluarga melaksanakan umroh. Karena waktunya sempit, Mas Anies tak sempat mampir ke rumah Sayid Ahmad. Sayid Ahmad “cemburu” karena Mas Anies tak mampir ke rumahnya sementara Mas Anies bertemu Imam Sudais. Karena itu Mas Anies berjanji untuk silaturahmi ke rumah Sayid Ahmad bila datang ke Mekkah lain kali. Dan, kesempatan itu hadir pada malam tadi. Semula kami menduga bahwa kami akan silaturahmi dan obrol ringan. Ternyata kami mengikuti sebuah majelis agung. Ada banyak ulama dari berbagai negara yang hadir dalam pertemuan tersebut, seperti Imam Masjid Palestina dan Mursyid Thariqat Naqsabandiyah dari Kurdistan.

“Saya sudah mencintaimu sebelum saya pernah bertemu denganmu. Mungkin ruh kita dulu pernah berjumpa, sehingga kita bisa langsung akrab,” kata Sayid Ahmad begitu membuka obrolan.

Majelis itu banyak mengagungkan nama Allah, nama Nabi Muhammad, dan juga uluk salam untuk para sahabat Nabi Muhammad. Abuya Sayid Ahmad berceramah mengenai haji, dan ketika memperkenalkan para ulama dan undangan yang hadir pada malam itu Mas Anies diperkenalkan pertama kali.

Saat pembacaan shalawat oleh santrinya, Abuya memberikan cincin dan tasbih milik ayahnya, Sayyid Muhamad kepada Mas Anies. “Tasbih ini sudah dipakai untuk bershalawat jutaan kali.” Abuya meminta Mas Anies untuk menggunakan tasbih tersebut untuk bershalawat, selain berdzikir tentunya. Tak hanya itu, Mas Anies juga diberikan minyak wangi. 

Bakda rampung majelis, semua orang yang ikut majelis makan malam di situ. Sayid Ahmad dan Mas Anies selesai lebih dulu dan mereka ke dalam rumah. Setelah menyampaikan sejumlah pesan, Abuya Sayid Ahmad memberikan sorban milik ayahnya, Abuya Sayid Muhammad, kepada Mas Anies. Ada dua sorban, yang satu dipakai untuk acara-acara resmi; satu lainnya digunakan untuk yang acara non-formal. Keduanya sering dipakai Sayid Muhammad.

Saya agak kecewa sedikit karena tak bisa salaman. Tapi, justru mendapatkan berkah yang lebih: bisa tabarrukan kepada Sayid Ahmad sekaligus Allahu yarham Sayid Muhammad dengan bershalawat menggunakan tasbih Abuya Sayid Muhammad. Pinjam dari Mas Anies tentu saja. 🙂

Shallu ala Nabi 

Muhammad Husnil

Pengarang | Penyunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *